Manusia Yang Hilang Arah

Ahmadan Aulia Jauhar
Chapter #17

Pada akhirnya manusia hanya ingin tenang

Chapter 17

Pada Akhirnya, Manusia Hanya Ingin Tenang

Semakin dewasa, Arka mulai memahami satu hal tentang hidup.

Bahwa manusia sebenarnya tidak terlalu membutuhkan hidup yang sempurna.

Mereka hanya ingin tenang.

Tenang dari isi kepalanya sendiri.

Tenang dari rasa takut kehilangan.

Dan tenang dari luka-luka yang terlalu lama dipendam sendirian.

Malam itu udara kota terasa dingin setelah hujan turun sejak sore. Lampu jalan memantulkan cahaya kuning redup di aspal yang masih basah.

Arka berjalan pelan menyusuri trotoar kota dengan kedua tangan masuk ke saku jaketnya.

Tidak ada tujuan khusus.

Ia hanya ingin berjalan.

Belakangan ini ia mulai menyukai malam lagi.

Bukan karena malam membuatnya sedih seperti dulu.

Tetapi karena malam terasa lebih jujur dibandingkan siang.

Malam tidak memaksa manusia terlihat bahagia.

Malam membiarkan seseorang diam bersama pikirannya sendiri.

Langkah Arka berhenti di sebuah minimarket kecil.

Ia membeli kopi kaleng lalu duduk di kursi depan toko sambil memandangi jalanan yang mulai sepi.

Angin malam bergerak pelan.

Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama…

Isi kepalanya terasa lebih tenang.

Masih ada luka di sana.

Masih ada kenangan yang kadang datang tiba-tiba.

Namun sekarang ia tidak lagi merasa dihancurkan olehnya.

Karena akhirnya Arka mulai menerima bahwa hidup memang tidak selalu berjalan sesuai keinginan manusia.

Dan itu tidak apa-apa.

Kadang yang membuat manusia lelah bukan kenyataan hidupnya.

Melainkan harapan-harapan yang terlalu besar terhadap dunia.

Arka membuka kopi kalengnya perlahan.

Tatapannya lurus ke jalan depan.

Ia memperhatikan orang-orang yang masih lalu lalang malam itu.

Seorang bapak ojek online yang terlihat kelelahan.

Seorang perempuan yang berjalan sambil tertawa kecil di telepon.

Sekelompok anak muda yang duduk di pinggir jalan sambil bercanda.

Lihat selengkapnya