Mari Tinggal Sejenak

Sora Hanae
Chapter #3

1 - Anara

AKU tak ingat ada yang berbeda dengan hari itu, kecuali telepon masuk dari nomor asing di layar ponselku pada pukul sembilan lebih lima belas menit. Dengan suara serak dan kaku, pria asing di ujung sambungan mengabarkan bahwa mobil SUV merah yang dinaiki kedua orangtuaku mengalami kecelakaan lalu lintas. 

“Mobil itu menabrak pembatas jalan,” katanya. 

Satu jam kemudian, aku diberitahu bahwa mereka meninggal dunia. 

Kurang dari dua puluh empat jam kemudian, aku berdiri di samping dua lubang makam dengan pakaian serba hitam, menggenggam pigura berisi foto wajah ibuku sementara adik kembarku, Raka, membawa foto ayah kami dengan kepala tertunduk dalam, menyembunyikan wajahnya dari semua orang yang datang untuk melayat. 

Kepalaku terasa kosong, jenis yang tidak pernah kualami seumur hidupku. Setelah empat gelas kopi yang kuminum untuk mengusir sisa kantuk, aku merasa tubuhku bergerak seperti zombie. Ibuku pasti akan mengomel. Dia selalu mengomel setiap kali aku minum lebih banyak kopi dari yang seharusnya supaya tetap terjaga. 

“Istirahat itu penting, An!”

Lalu dia akan memaparkan informasi mengenai efek buruk akibat kecanduan kafein di depan wajahku dengan satu tarikan napas. Dia akan pergi ke dapur dan membuatkan susu jahe hangat sebagai gantinya. Kalau aku tidak menurut, dia akan minta ayahku untuk membelanya. 

“Dengarkan ibumu, An.”

Kemudian kami berpandangan dan tertawa. 

Aku menunduk menatap ujung sepatuku yang terkena lumpur tebal, mendadak teringat sesuatu. Waktu kecil, aku dan Raka pernah kembali dari sesi bermain dengan teman-teman kompleks kami dalam kondisi penuh lumpur dari atas sampai bawah—kami baru saja merayap dengan perut di lapangan bola setelah turun hujan. 

Ayahku bukanlah tipe yang akan mengomel panjang lebar soal apa pun. Dia punya kesabaran seluas samudera. Meski aku dan Raka pulang dengan kondisi kotor bukan main, lebih terlihat seperti monster lumpur alih-alih anak-anak manusia berusia delapan tahun, dia hanya akan menyuruh aku dan Raka melepas pakaian kami, lalu mencucinya sampai bersih sementara aku dan Raka pergi mandi sambil bermain bebek plastik. Dia mengompres dahi kami dengan telaten saat aku dan Raka terserang demam. Dia adalah sosok yang selalu menemaniku pergi ke mana pun tanpa diminta, tanpa mengeluh. Dia adalah seseorang yang selalu berada di pihakku. 

Dia dan ibu. 

Mereka berdua tidak akan membiarkanku datang ke pemakaman sendirian, tidak meski dengan Raka di sampingku, jadi aku menunggu. Dan menunggu. Tapi sampai acara pemakaman selesai dan orang-orang berwajah sedih mulai pergi meninggalkan pekuburan satu persatu, mereka berdua tetap tidak muncul. 

Barulah saat aku menatap nama-nama yang terukir di atas batu nisan dengan lebih seksama, kesadaran menghantamku dengan cepat. Mereka tidak akan datang. Kali ini, dan seterusnya. Tidak akan pernah lagi. 

Rasa sakit itu muncul tiba-tiba tanpa peringatan. Rasanya seperti dipukul dengan besi bertubi-tubi. Kepalaku sakit. Dadaku sakit. Sekujur tubuhku sakit. Dunia di sekelilingku menjadi kabur. Aku bisa melihat Raka membuka mulut, mengucapkan sesuatu, lalu tangannya mencoba mengguncang bahuku, tapi otakku tak bisa menangkap apa yang sedang dia katakan. 

Kali berikutnya yang kutahu, pandanganku menggelap. 

Lihat selengkapnya