AIR mata selalu didakwa sebagai bagian tersulit dari duka. Kau salah. Bagian mengerikan baru muncul saat air matamu sudah kering, dan kau mulai mendengar detak jantungmu sendiri di tengah rumah yang sunyi.
Deg. Deg. Deg.
Setiap detaknya bergaung keras, mengingatkanku pada sekop yang membuang tanah ke atas dua buah peti itu minggu lalu. Ritme teraturnya memekakkan telinga, menggerayangi dari ujung-ujung kuku, menyusup ke bawah tulang rusuk, menguliti sisa kewarasan yang kupunya. Ironisnya, aku mulai terbiasa dengan bau tanah yang tertinggal di tenggorokanku. Aku bahkan mulai menikmati sepi yang memakan isi dadaku hingga lowong.
Percayalah, ratusan lampu di rumah ini tak berguna. Jika kau masih tak percaya, duduklah bersamaku. Kau akan melihat dengan mata kepalamu sendiri, bagaimana duka mengunyah habis seseorang.
Aku, dan Anara.
Hari ini, Anara melewatkan sarapannya lagi. Cream soup favorit yang kubuatkan untuknya tiga jam lalu—sebuah upaya membujuknya, meski aku tahu itu percuma—telah mendingin, menyisakan lapisan keriput di permukaan. Tampak memuakkan. Mirip wajah pucat Anara yang menatapku beberapa saat lalu.
Saat dia ambruk di atas tanah pemakaman tempo hari, aku tahu dia benar-benar sudah runtuh. Bukan hanya dia. Aku juga, tapi aku merasa tidak punya kemewahan untuk ikut roboh di hadapan orang-orang. Sejak hari itu, Anara tampak enggan membawa seluruh nyawanya kembali ke rumah. Ia lebih terlihat seperti bayangan daripada manusia—jarang bicara, matanya kosong, dan tatapannya sering terpaku pada sudut-sudut kosong rumah, seolah dia sedang bercakap-cakap dengan angin.
Mungkin itu caranya untuk mencari hantu-hantu masa lalu kami yang mendadak memenuhi tiap jengkal ruangan. Aku tidak melihat hantu itu. Tapi aku merasakan beratnya. Di setiap tarikan napas yang tercekat di tenggorokan Anara, seolah ada benang tak kasat mata yang menghubungkan dada kami berdua, dan setiap kali benang itu tersentak, aku ikut ngilu.
Aku sendiri tidak tahu bagaimana cara mengunyah makanan tanpa merasa seperti menelan kerikil, atau bagaimana caranya agar udara yang kuhirup tidak sedingin air es. Rumah ini mendadak terasa terlalu luas untuk dua orang, dan gaung jam dinding di ruang tengah terdengar terlalu keras, merangsek masuk ke dalam kepala, memaksaku menghitung setiap detik yang membuktikan bahwa kini hanya ada kami berdua yang tersisa.
Namun, dunia, tentu saja tidak peduli. Dunia tidak pernah memberi siapapun cukup waktu untuk berduka terlalu lama. Belum genap seminggu sejak tanah makam orang tua kami memadat, derit pagar depan rumah kami berbunyi pelan. Ketika pintu kubuka, Pak Banyu, pengacara kepercayaan Ayah sejak kami kecil, sudah berdiri di sana, menenteng tas kulitnya. Guratan di wajahnya kelihatan jauh lebih dalam dari yang kuingat, tampak menua sepuluh tahun.
“Pagi, Raka, Anara,” sapa Pak Banyu, suaranya terdengar sangat pelan. Pria yang biasanya memenuhi rumah kami dengan tawa renyah itu kini melangkah masuk nyaris tanpa suara, seperti takut jika ketukan sepatunya terdengar terlalu gembira di telinga kami. Ia menolak halus saat kutawari kopi, lalu memilih duduk di kursi kayu dekat jendela—sudut yang dulu selalu ia bagi bersama Ayah setiap kali mereka mengobrol sampai larut. Melihatnya duduk di sana sendirian membuat sesuatu di dadaku terasa retak.
Pak Banyu tidak langsung membuka tasnya. Dia membetulkan letak kacamatanya beberapa kali, memijit-mijit pangkal hidungnya menatapku dan Anara bergantian dengan sepasang mata yang menyipit lelah, sebelum menelan ludah dengan berat.