KEPALAKU pusing bukan main.
Tidak peduli seberapa keras aku berusaha untuk tetap terjaga, pada akhirnya tubuhku mencapai batas yang mampu ditanggung. Malam itu, untuk pertama kalinya dalam beberapa hari terakhir, aku menyerah dan membiarkan tubuhku melebur ke dalam buaian peri bunga tidur yang menawarkan pelarian sesaat.
Tapi, mimpi-mimpiku terasa mengerikan. Rasanya seperti alam bawah sadarku sengaja membawaku pergi untuk menyaksikan kematian semua orang terdekatku di depan mataku sendiri, masing-masing dengan cara yang paling kejam. Paling brutal. Mula-mula ayahku. Lalu ibuku. Lalu Raka… giliran berikutnya adalah aku.
Kulihat diriku berdiri di atas pembatas jembatan. Di bawah kakiku, permukaan sungai yang tenang dan tampak mematikan memantulkan bayangan bulan purnama yang terdistorsi. Mustahil untuk bisa tahu monster macam apa yang sedang bersembunyi di dalam kegelapan air. Tapi mereka jelas ada di sana, menunggu…
Kalau aku melompat ke bawah, apa segalanya akan baik-baik saja? Kalau aku melompat ke bawah, apa aku akan baik-baik saja? Apakah air yang tenang itu sungguh menawarkan kebebasan abadi?
Aku tidak punya waktu untuk merasa ragu, jadi aku menjejakkan kakiku dengan kuat sebelum melompat. Tapi tepat sebelum permukaan air berhasil menyentuh kulitku, aku tersentak bangun dengan napas memburu. Kedua mataku mengerjap pelan saat menemukan sinar matahari menerobos masuk ke dalam kamarku lewat celah-celah jendela yang terbuka. Aku tidak ingat kapan aku membukanya, dan karena satu-satunya orang yang bisa melakukan itu adalah Raka, sudah pasti dia yang tadi masuk ke dalam sini dan melakukan pekerjaan sia-sia.
Bocah itu pasti khawatir karena aku tidak kunjung keluar dari kamar. Kadang-kadang, dia bisa jadi sangat mudah ditebak. Sifat lemah lembut yang kadang muncul darinya itu pasti menurun dari Ibu.
Aku menyibak selimut flanel biruku ke samping dan menurunkan kakiku ke lantai. Dengan cemas, aku memandang ke sekeliling kamar. Mencari-cari seseorang. Lalu, kulihat sosok itu membalas tatapanku dari dekat rak buku dan aku menghembuskan napas lega.
Selembut bisikan, aku berkata, “Selamat pagi, Ibu.”
***
Sepertinya Raka baru saja membuat keributan di dapur.
Saat aku tiba di meja makan, lagi-lagi dia sudah duduk di sana bersama piring berisi sarapan yang ditawarkannya untukku seperti kemarin. Kali ini dia berusaha keras membuat roti panggang dengan teflon. Salah satu sisi rotinya agak terlalu gosong, tapi dia kelihatannya sudah bersiap akan mengomel kalau aku melewatkan sarapan lagi, jadi aku duduk di kursi dan mengoleskan selai kacang ke atas roti lalu makan dalam diam.
Aku berhasil menghabiskan sekeping roti, tapi menolak makan lebih banyak. Aku mengabaikan tatapan Raka yang kelihatannya sudah gatal untuk memprotes porsi makanku dan bangkit dari kursi.
“Kita perlu bicara,” kata Raka, saat aku berdiri di depan konter untuk membuat kopi. Ayah kami dulu sangat menyukai drip bag coffee dan aku sudah hampir menghabiskan seluruh stok kopi simpanannya di lemari. Aku harus membelinya lagi nanti.
“Anara.”
Aku menoleh dengan lelah. “Apa?”
“Kita perlu bicara,” ulangnya.
“Soal apa?”
“Soal kemarin.”