INI benar-benar di luar dugaan. Begitu aku menegaskan niatku untuk pergi ke Seroja, Anara tidak membantah seperti yang biasa ia lakukan belakangan. Ia hanya menghela napas panjang, meletakkan gelas kopinya yang belum habis, lalu berkata dengan nada pasrah, “Kapan kita berangkat?”
“Besok,” jawabku cepat-cepat, takut ia berubah pikiran.
“Secepat itu?”
“Iya, lebih baik secepatnya,” tukasku.
Semalam, aku menghabiskan berjam-jam untuk mencari tahu soal Desa Seroja lewat internet. Kadang-kadang, laman yang kutemukan hanya menampilkan halaman kosong. Namun, sebagian besar hal yang kudapat hanya berputar pada artikel-artikel yang cukup membosankan. Sebagian besar menyebutnya sebagai surga kecil bagi para lansia.
Aku melihat judul-judul dari portal berita yang menumpuk di sudut atas layar, dan membacanya sekali lagi.
Pesona Seroja: Desa yang Dicintai Lansia
Intip Berbagai Kegiatan Rohani yang Dilakukan di Desa Seroja
Tradisi yang Terlupakan Oleh Waktu, Kini Dihidupkan Kembali Oleh Warga Seroja
Aku mengarahkan kursorku untuk membuka halaman lain, kali ini berupa situs komunitas daring yang terbuka untuk publik. Forum itu punya judul yang cukup menarik perhatian.
Anonim_88
29-03-2021 20.31
Seroja dan Rahasia yang Disembunyikan dari Media
Bagikan ke facebook | messenger | whatsapp | twitter | email |copy link
[Foto]
Siapa yang familiar dengan foto di atas?
Sebagian besar dari kalian mungkin tidak mengira tempat seperti ini ada di Indonesia. Aku berkunjung ke sana sekitar dua bulan yang lalu untuk mengunjungi teman lama ibuku.
Pemandangan di Desa Seroja memang tidak terkalahkan. Dan tempat itu tidak terekspos oleh media—tidak secara luas. Sebagian besar warga yang tinggal di sana adalah lansia yang konon taat beragama. Tapi, ini hanya tipu daya dari orang-orang sinting memuakkan.