PERJALANAN ke Desa Seroja memakan waktu hampir tiga belas jam penuh. Benar-benar gila. Begitu kami keluar dari kota, mobil membelah wilayah perbukitan dan hutan yang kian merapat. Bahkan aku hampir tidak bisa mempercayai apa yang kulihat di aplikasi peta. Jika ditotal, mungkin kami sudah menghabiskan satu galon penuh air mineral.
Sepanjang jalan, Anara lebih banyak diam—kalau tidak kesal. Terkadang ia memejamkan mata dengan dahi yang berkerut dalam, tapi aku tahu dia tidak tidur. Dia menyandarkan keningnya ke kaca pintu mobil sambil menatap kosong aspal kelabu dan pohon-pohon yang terus berlarian ke belakang.
Aku sengaja tidak menyetel musik. Entah kenapa rasanya tidak pantas mengisi mobil ini dengan lagu-lagu riang sementara kami berdua sama-sama menyeret diri pada hal asing yang ditinggalkan untuk kami—mungkin lebih tepatnya, disembunyikan dari kami. Dengung mesin mobil yang menderu konstan jadi satu-satunya suara yang menimbun hening di antara kami.
Dalam ingatan samar-samarku bertahun-tahun yang lalu, kami juga pernah melakukan perjalanan semacam ini bersama ayah dan ibu. Aku ingat berebut tempat dengan Anara untuk berbaring di pangkuan ibu di kursi belakang, dan terbangun saat kami sudah sampai di tujuan, entah mengunjungi Paman dan Bibi atau sekadar pergi berkemah di pinggir danau.
Ingatanku mundur semakin jauh. Ada lagu yang dulu selalu menjadi pengantar tidur favoritku. Ibu menyanyikannya dengan suara yang merdu, membuaiku ke dalam mimpi indah.
Pejamkan mata, anak-anakku
Malam menjemputmu, Ibu menunggu
Surutkan banyu, siram cahaya
Lepaskan namamu, jadilah lupa
Setiap kali ban mobil melindas lubang atau sambungan aspal yang kasar, getarannya merambat naik melalui roda kemudi, menyengat telapak tanganku yang mulai berkeringat dingin. Aku melirik Anara lagi. Wajahnya yang terpantul di kaca jendela tampak pias, nyaris transparan di bawah siraman cahaya matahari, seakan seluruh jiwanya tertarik dari permukaan kulit. Aku tahu perjalanan ini pasti berlebihan untuknya. Anara masih saja melihat mereka—hantu ayah yang sedang membaca koran, ibu yang memasak di dapur. Tapi aku tidak melihat apa-apa. Dan justru ketidakmampuanku melihat hantu-hantu itu, membuat dadaku terasa dihimpit sebongkah batu besar.
Begitu melewati gapura yang menandai jalan masuk menuju desa, Seroja sama sekali tidak sekuno dan seterasing yang kubayangkan. Desanya bersih dan tenang, dinaungi oleh pohon-pohon mangga dan kamboja yang rimbun hampir di setiap pekarangan rumah. Meskipun jalanannya hanya cukup untuk satu mobil, tetapi terawat baik.
Rumah-rumah di sini umumnya sederhana, tipikal bangunan lama tahun delapan puluhan yang beratap rendah namun memiliki halaman yang cukup luas. Jarang terlihat pagar-pagar besi yang terkesan angkuh. Batas pekarangan antar tetangga hanya ditandai semak-semak yang dipangkas rapi, atau jajaran pot porselen berisi anggrek dan tanaman hias lainnya. Namun, sesekali mataku menangkap satu dua bangunan berarsitektur kolonial—gaya indies lama yang kokoh dengan pilar-pilar yang tegak menyangga, berpadu dengan dinding tembok tebal berlapiskan cat putih dan jendela jalusi berwarna biru pudar.
Artikel di internet tidak berbohong soal Seroja yang diisi oleh para lansia. Beberapa orang tua itu sedang berada di halaman. Mulanya, aku tak menyadari apa yang sedang mereka lakukan, sampai kami berada cukup dekat dengan salah satu rumah itu dan aku melihat seorang nenek tua meletakkan semacam cawan di atas pedestal yang berada persis di tengah halaman.
Begitu kami tiba di sisi desa yang lain, beberapa warga sedang sibuk memotong ranting tanaman atau duduk membaca di serambi dengan kacamata yang melorot sampai ke ujung hidung. Sebagian dari mereka mengenakan kemeja bergaris yang sudah pudar atau kardigan rajut longgar dengan warna-warna tanah. Sebagian lainnya menyanggul rambut dengan cepol kecil atau memangkas pendek rambut mereka. Suasananya begitu rapi, tertata, dan terkesan lambat.
Saat mobil melintas perlahan, beberapa dari mereka menghentikan kegiatan. Mereka menegakkan punggung dengan susah payah, lalu menoleh lambat, memandangi kendaraan kami dengan sepasang mata yang menyipit.
“Pasti kedatangan kita terlalu mencolok,” bisik Anara. “Menurutmu, itu pertanda baik atau buruk?”
“Jangan bercanda.”
Alamat yang diberikan Pak Banyu menuntun kami ke sebuah rumah yang berdiri tepat di samping menara lonceng yang kelihatannya sama tuanya dengan bangunan lainnya. Rumah itu tersembunyi di balik barisan tanaman beluntas yang tumbuh di pekarangan. Dalam sekali pandang, aku bisa tahu kalau rumah itu mengadopsi gaya kolonial yang serupa dengan beberapa rumah sebelumnya. Namun berbeda dengan bayanganku tentang rumah tak berpenghuni, kondisinya tidak hancur berantakan ataupun menyeramkan; dindingnya polos dan bersih dari coretan atau bercak-bercak lumut, bahkan halamannya bersih dari semak atau rumput liar yang meninggi.