Mari Tinggal Sejenak

Sora Hanae
Chapter #9

7 - Raka

MALAM itu, di kamar utama yang baru beberapa jam kutempati, aku tidur lebih cepat dari yang kuduga. Mungkin, tubuhku terlalu lelah untuk memberi ruang bagi pikiran-pikiran yang biasanya berputar sebelum kantuk datang. Begitu kepalaku menyentuh bantal yang berbau kapur barus—dan sesuatu yang lebih tua lagi—aku langsung tenggelam.

Tapi tidurku malam itu ternyata tidak sesederhana menutup mata lalu terlelap begitu saja. Mula-mula hanya gelap. Setelahnya, aku merasa seperti ditekan dari segala arah sampai aku tidak bisa membedakan mana atas mana bawah. 

Aku berbaring—atau mungkin berdiri, aku tidak yakin—di suatu tempat yang lantainya terasa dingin dan lembap, meresap hingga ke kulit. Kemudian datang suara petir. Ledakannya terdengar begitu dekat sampai membuat gigiku bergemeretak, seolah langit dibelah tepat di atas kepalaku. Sekilas, cahaya putih menyambar menerangi ruangan yang tidak aku kenali. Dinding-dinding di sana tampak biru pucat dan langit-langit ruangan itu begitu rendah hingga membuatku merasa tertekan. Aku tidak ingin memikirkan lebih jauh ruangan apa itu. 

Ingin rasanya aku lari dari sana. Tapi tubuhku menolak bergerak. Kaki-kakiku seperti dipaku ke dalam tanah, dan yang bisa kulakukan hanya berdiri di sana menunggu kilatan berikutnya membelah kegelapan. 

Lalu ada tangan yang menggenggamku. Tangannya lebih besar dari tanganku, tapi aku tidak bisa melihat siapa pemiliknya. Genggamannya sangat erat, bahkan hampir menyakitkan, tapi entah kenapa aku tidak berusaha melepaskan diri darinya. 

“Jangan lihat ke sana,” kata suara itu. 

Aku tidak mengerti ke mana yang ia maksud “ke sana”, tapi tubuhku patuh begitu saja, membenamkan wajah ke dalam dadanya. Aku bisa merasakan detak jantungnya sangat cepat, lebih cepat dari milikku. Mungkin dia juga sama sepertiku. Ingin pergi dari tempat itu.

Kilatan berikutnya kembali datang, dan untuk sepersekian detik aku melihat bayangan di dinding. Satu sosok lain meringkuk di sudut ruangan, dan satu bayangan lain yang lebih tinggi berdiri beberapa langkah dari kami, hanya menonton, seolah membiarkan semuanya terjadi.

Aku terbangun dengan detak jantung berdebar kencang. Spreiku basah oleh keringat dingin yang menempel di punggungku. Butuh beberapa saat sebelum ritme jantungku kembali normal, tapi mimpi ini menolak menguap seperti biasanya. Tekstur tangan yang menggenggamku masih terasa nyata di kulit, dan gemuruh petir masih berdengung di dadaku sendiri.

Jam di ponselku menunjukkan pukul tiga pagi. Terlalu dini untuk bangun, terlalu larut untuk kembali tidur, jadi aku memutuskan ke dapur sekadar untuk minum air dan mengalihkan pikiran dari sisa-sisa mimpi yang masih menempel. 

Lihat selengkapnya