NAMANYA Pak Atmadja.
Usianya barangkali sudah tujuh puluh tahun—kalau melihat dari rambut putih di kepalanya. Jenggotnya dibiarkan memanjang sampai menutupi setengah leher. Aku yakin bukan hanya aku saja yang berpikir penampilan itu mirip sekali dengan Dumbledore (versi lokal yang agak murahan), dan dia menguarkan aroma yang aneh, campuran kemenyan dan tembakau.
Tampaknya, dia kepala desa di sini. Kebetulan, rumahnya berada tepat di samping rumah kami (aneh rasanya menyebutnya begitu), dan dia punya banyak koleksi lukisan yang agaknya dibuat oleh orang sinting. Kau tidak mungkin berada dalam garis waras kalau kau membuat seri lukisan berupa aneka bentuk matahari: segitiga seperti piramida, melengkung seperti pisang, bahkan aku juga menemukan matahari berbentuk mirip donat—dengan lubang di bagian tengah. Semakin dilihat, lukisan itu tampak semakin menyilaukan dengan cara yang aneh. Seperti saat kau melihat lukisan surealisme untuk pertama kalinya.
Aku yakin pasti ada semacam cerita di balik lukisan-lukisan itu, tapi, yah, pasti tidak sopan kalau aku tiba-tiba bertanya kenapa dia memajang begitu banyak lukisan matahari. Siapa saja bisa terobsesi dengan seni, kan? Aku tidak boleh menilai orang sembarangan hanya karena selera mereka yang agak menyimpang.
“Jadi… Anara dan Raka, betul?” tanyanya. Dia mengangkat cangkir tehnya ke bibir. Tak ada cincin di jari-jarinya. Tak ada foto keluarga. Dia tampaknya tinggal seorang diri. Dan matanya, yang agak tersembunyi di balik pelupuk tebal, tampak mengawasi kami dengan tertarik.
“Betul,” sahut Raka. “Kami berniat untuk tinggal di sini selama beberapa waktu.”
“Apa ada alasan tertentu kenapa kalian ke sini?”
Raka menoleh ke arahku sekilas, lalu berkata, “Apa kami perlu alasan khusus untuk datang ke desa ini?”
Pak Atmadja meletakkan cangkirnya kembali ke atas tatakan di atas meja. “Beberapa orang datang untuk rekreasi, beberapa untuk meditasi atau wisata rohani—tempat ini adalah yang paling tepat untuk hal-hal semacam itu.”
“Wisata rohani?” ulangku. Lalu sontak bertanya, “Apa ada semacam tokoh agama yang dimakamkan di sini?”
Pria tua itu tertawa kecil. “Wisata rohani tidak harus melulu soal mengunjungi makam, kan?” cetusnya.
“Kami cuma berkunjung sebentar ke rumah orang tua kami,” kata Raka.
“Kalian menginap di mana?”
“Rumah sebelah,” jawabku.
“Rumah sebelah?” ulangnya. “Ah. Jadi, pemiliknya saat ini adalah orangtua kalian?”