“APA, sih, yang sebenarnya kamu cari?” tanyaku penasaran.
Sejak tadi kulihat Raka berjalan mondar-mandir dengan membawa meteran dan mengukur ini itu—kurasa dia kerasukan hantu insinyur. Dia berhenti sesaat dan berkata, “Ukuran rumah ini agak aneh.” Tapi tidak menjelaskan lebih jauh.
Peduli apa aku dengan keanehan di rumah?
Dasar sok sibuk.
Aku memutuskan tidak mengganggunya. Biarkan saja dia tenggelam dengan proyek-proyeknya itu. Selagi dia sibuk dengan urusannya, aku memutuskan mencari toko roti yang tadi sempat disebut oleh wanita tua yang kutemui di pasar. Sialnya, aku tidak terlalu mahir mencari jalan, sehingga butuh waktu hampir satu jam untuk menemukan toko roti yang ternyata berada di sisi lain desa.
Untungnya, seorang kakek baik hati menyelamatkanku dan bersedia menjadi pemandu jalan. Rupanya dia hendak pergi ke kantor pos yang berada di samping toko roti, jadi kami pergi bersama-sama lewat jalan beraspal yang ukurannya tidak besar, paling-paling hanya cukup untuk dilewati satu mobil.
“Terima kasih banyak, Pak!” aku melambai pada bapak tua itu, yang sudah berada di halaman kantor pos sebelum berbalik.
Toko roti itu berukuran kecil, sama seperti kebanyakan bangunan lain yang di sini. Dan sama seperti perabotan yang ada di rumah kami, toko itu dipenuhi perabotan berbahan kayu—rak dari kayu, nampan kayu, kursi kayu, konter kayu…
Lalu, ukiran aneh itu. Aku memang tidak terlalu memperhatikannya sebelumnya, tapi hampir semua tempat di sini memiliki motif ukiran yang sama, dipahat di pintu-pintu atau dinding, berupa bentuk dua garis gelombang dan lengkung matahari di bawahnya. Seperti sungai dan matahari terbalik.
Ada dua pelanggan lain yang tengah memilih roti. Seorang wanita tua dan pemuda yang kuperkirakan berusia pertengahan dua puluh. Dia tampan—jenis yang akan menarik perhatian gadis-gadis kalau saja dia tidak memasang wajah cemberut. Rambutnya agak mirip dengan Raka, sedikit bergelombang dan berwarna hitam pekat. Saat pandangannya bertemu dengan milikku, dia mengerutkan kening. Jelas sekali sedang menilai.
Aku tidak mau menurunkan pandangan. Entah mengapa, rasanya itu akan membuatku merasa kalah. Laki-laki itu memiringkan kepalanya, acuh tak acuh, lalu berpaling.
Aku meraih nampan kayu dan mengambil beberapa roti pisang dan coklat sebelum mengantri di belakang wanita tua yang sudah selesai memilih rotinya dan melakukan pembayaran. Harga produk-produk di sana bervariasi, tapi sangat murah sampai-sampai membuatku terkejut. Kurasa kau tidak akan bisa mendapatkan roti tawar buatan rumahan seharga sepuluh ribu rupiah di Jakarta. Kecuali mungkin roti pabrikan yang teksturnya kering bukan main dan hanya dijual oleh tukang sayur keliling.
Tidak lama kemudian, giliranku tiba.
“Halo,” sapaku.
Pemilik toko, yang tampaknya pria paruh baya berusia akhir lima puluhan dengan wajah kelewat ramah, balik menyapaku dengan ramah.
“Pendatang, ya?” tanyanya. Aku tak tahu bagaimana orang-orang ini bisa langsung menyadarinya, tapi aku mengangguk.
“Tadi kakak ipar saya cerita kalau dia bertemu gadis kota, katanya kamu menempati rumah di samping menara lonceng?”
Lagi-lagi, aku mengangguk kecil. Memanfaatkan kesempatan emas di depan mataku itu, aku buru-buru bertanya, “Rumah itu sepertinya lama nggak ditempati, ya?”
Bapak itu sudah memasukkan roti-rotiku ke dalam kantong kresek transparan. “Sudah belasan tahun rumah itu kosong,” katanya. “Dulu sempat ada desas-desus aneh, dan setahu saya sempat ada pergantian pemilik, tapi saya sendiri nggak pernah ketemu pemilik barunya.”
“Bapak tahu siapa pemilik lamanya?”
“Kalau tidak salah, keluarga kecil dengan tiga anak.”
“Apa yang terjadi dengan keluarga itu?” tanyaku penasaran.
Si pemilik roti menatapku dengan kening berkerut, seakan dia tak yakin harus memberitahuku jawabannya. “Meninggal.”
Dahiku mengernyit samar. “Meninggal?” ulangku.
“Betul. Satu keluarga itu.”
Aku mengerjap. “Semuanya?” bisikku.
“Semuanya.” Bapak itu mengangguk mengiyakan. “Kecelakaan yang mengenaskan.”
Sensasi aneh menjalar ke belakang leherku, lalu ke seluruh tubuhku. Aku tidak bertanya lebih lanjut. Lebih tepatnya, aku tak bisa bertanya lebih lanjut. Tanganku mulai gemetaran, dan udara di dalam toko itu terasa lebih sulit dihirup. Aku tak bisa mengendalikan tubuhku dengan baik dan itu membuatku ketakutan.
“Berapa totalnya?” tanyaku. Aku mengepalkan tanganku kuat-kuat, berharap lawan bicaraku tak menyadarinya.
Si pemilik toko tampak sedikit terkejut dengan caraku memotong pembicaraan sebelum akhirnya menyebut nominal yang harus kubayar. Aku memberikan uang dan memintanya menyimpan kembalian. Tapi saat aku berbalik, laki-laki asing tadi, yang semula menatap ke arahku dengan sorot aneh, justru memperlihatkan raut penasaran yang kentara. Pasti dia mencuri dengar percakapanku barusan dengan si pemilik toko—tapi itu bukan sesuatu yang harus kukhawatirkan sekarang.
“Jadi, kamu menempati rumah kosong itu?” tanyanya.
Aku memilih mengabaikannya dan berjalan ke luar dari toko. Dia tidak seharusnya mendapatkan perhatian lebih dariku. Tapi sebelum aku sempat pergi lebih jauh, sebuah tangan sudah menahanku dari belakang.