Mari Tinggal Sejenak

Sora Hanae
Chapter #12

10 - Raka

AROMA sup ayam jamur buatan Anara memenuhi seisi rumah, yang sedikit banyak berhasil mengusir bau pengap dan tumpukan debu yang sejak kemarin menempel di hidung. Kami makan di meja dapur dalam keheningan yang terasa jauh lebih manusiawi dibanding kemarin. Aku duduk di balik meja sambil mendengarkan ocehannya soal apa yang dia temukan dari perjalanannya tadi siang. 

Sepertinya dia berkeliaran cukup jauh. Kupikir dia hanya akan pergi mengunjungi pasar desa, tapi dia juga mampir ke studio milik laki-laki asing yang konon pekerjaannya adalah pelukis. Itu agak mengejutkan bagiku. Mengingat dia sangat sulit percaya orang baru. 

“Lalu, kamu dapat informasi apa soal rumah ini?” tanyaku sambil menyuap sup ke dalam mulut.

Anara berhenti mengunyah. Matanya tampak menerawang, seakan berusaha meraih sisa-sisa ingatan siang tadi. “Menurutku… desa ini agak aneh,” bisiknya, dia kelihatan resah, seolah takut dinding-dinding rumah ini ikut mendengar.

Aku mengerutkan kening. “Maksudnya?”

Dia menelan ludah. Detik berikutnya, dia mulai mencurahkan semua informasi yang didapatnya, dan semua itu cukup membuatku bergidik. Jujur saja, aku sama sekali tak memperhatikan soal lukisan dengan berbagai bentuk matahari di rumah Pak Atmadja. Belum ada cukup ruang di pikiranku untuk menjejalkan hal lain selain duka dan apa yang bisa kulakukan dengan rumah asing ini. “Bisa saja pria tua itu memang punya selera seni yang unik, kan?”

“Itulah yang kupikirkan, tapi tetap saja aneh,” katanya. “Dan masih ada lagi.”

“Apa?”

“Soal keluarga yang menempati rumah ini sebelumnya. Katanya mereka meninggal dalam kecelakaan.”

“Kamu yakin?”

Anara mengedikkan bahu. “Entah. Cuma itu yang kudengar.”

Aku terdiam sebentar. Butuh waktu bagiku untuk menata serpihan informasi yang baru saja Anara lemparkan. Rasanya ada yang aneh, meskipun aku tidak tahu apa yang salah. Atau mungkin, kedengarannya saja aneh. Yang jelas, tak seharusnya kami percaya sepenuhnya pada satu dua potong informasi begitu saja. Sambil menunduk, pandanganku jatuh pada mangkuk di hadapanku. Kepulan asap tipis dari sup itu tak lagi mengundang selera.

“Raka,” panggil Anara. 

Aku mendongak. “Hmm?”

“Kamu pernah dengar kata ‘Pamurnan’?”

“Pamurnan?” ulangku. 

“Iya.”

Kata itu terdengar sama asingnya dengan bahasa alien. Sama sekali tidak terdaftar dalam kosakata yang kukenal. “Kenapa kamu tiba-tiba tanya soal itu?”

“Aku melihatnya di lukisan,” jawab Anara. “Gambar dua gelombang dengan matahari di bagian bawahnya. Seseorang memberi judul lukisan itu sebagai ‘Para Pamurnan’.”

“Aku nggak pernah dengar,” cetusku. Kerutan di dahiku terukir semakin dalam. Para Pamurnan. Kedengarannya merujuk pada sesuatu. Tapi kemudian, aku teringat kata-kata Pak Atmadja beberapa saat lalu. Bukankah dia bilang, desa ini biasa digunakan sebagai tempat wisata rohani? 

“Dari kata-katanya, apa menurutmu itu sebutan untuk kelompok rohani yang Pak Atmadja ceritakan?” aku menerka-nerka. 

Anara mengerjap. “Ah, benar juga,” dia mengangguk-angguk. “Aku nggak kepikiran sampai ke sana.” 

“Ya, kan?”

“Tapi, kenapa pamurnan?”

Lihat selengkapnya