SEJUJURNYA, membayangkan ada satu keluarga kecil yang meninggal akibat kecelakaan terdengar begitu kejam dan tak kalah menyedihkan dari nasib sial yang menimpa ayah dan ibu.
Apakah hantu-hantu mereka juga berkeliaran di sini? Mungkin saja sejak aku dan Raka menginjakkan kaki kami di halaman depan, mereka diam-diam sudah mengawasi kami dari kejauhan.
Bukankah aku sudah merasakannya saat hari pertama kami tiba?
Mungkin itulah sebabnya seseorang telah mengosongkan foto-foto di dinding ruang tamu. Supaya tidak ada yang bisa mengingat mereka lagi. Supaya sejarah kelam mereka terkubur dalam-dalam. Terlupakan untuk selamanya.
Aku menghela napas panjang, mencoba menekan kegelisahan yang tak kunjung hilang dari dadaku sebelum mengedarkan pandangan ke sekeliling kamar, mencari-cari sosok kelabu transparan yang mungkin bersembunyi di suatu tempat. Pemilik toko itu bilang, mereka adalah keluarga dengan tiga orang anak, kan?
Kemungkinan besar, kamar yang kutempati sekarang adalah milik salah satu dari anak-anak itu. Aku tidak memperhatikannya sebelumnya, tapi perabotan di dalam kamar ini memang berukuran kecil. Lemarinya kecil. Ranjangnya kecil. Meja dan kursi di dekat jendela juga berukuran kecil. Dan saat aku menelusuri cat dindingnya, ada bekas-bekas coretan krayon lama yang kini terlihat samar-samar.
Ah.
Pasti dia juga senang menggambar.
Tidak ada barang-barang pribadi yang tersisa di ruangan ini, jadi sulit untuk memastikan apakah penghuninya anak perempuan atau laki-laki. Tapi, itu tidak terlalu penting. Kurasa hantu-hantu itu memang sudah tidak ada di sini.
Ya, pasti begitu.
Lalu aku mendongak, mengawasi satu-satunya keberadaan yang bisa kulihat sejak kemarin. Laba-laba di atas kepalaku masih sibuk merajut sarang, memperluas wilayah kekuasaannya dengan serakah. Aku tetap mengawasinya untuk waktu yang amat lama, sampai leherku terasa pegal dan malam semakin pekat.
Pikiranku masih tidak bisa memahaminya. Pasti ada alasan mengapa ayah dan ibu membeli rumah ini, tapi tidak pernah memberitahu kami apa-apa. Kuharap hantu-hantu mereka bisa memberi petunjuk, tapi tak ada yang mereka katakan.
***
Sarapan pagi ini hanya berupa roti pisang dan sisa jeruk yang kubeli kemarin. Raka tidak memprotes. Sejak kami tiba, anehnya dia terlihat makin lesu. Dia sepertinya tidak tidur semalaman—seolah kabut mimpi buruk yang biasanya menaungiku telah berpindah kepadanya, dan kalau itu tidak cukup buruk, dia mulai terobsesi dengan sketsa denah rumah yang digambarnya secara kasar di kertas. Dia bilang, dia menemukan sesuatu yang tidak biasa di lantai dua.
“Apa yang ‘nggak biasa’?” tanyaku, sambil mengupas serabut putih pada sebutir jeruk sampai bersih.
“Setelah ini, ayo ikut denganku ke atas.”
Firasatku berkata itu ide yang buruk, dan aku tak pernah meragukan firasat buruk. Rasanya amat menakutkan karena setiap kali aku punya perasaan semacam itu, hal-hal yang tidak kuinginkan akan terjadi, cepat atau lambat.