Mari Tinggal Sejenak

Sora Hanae
Chapter #14

12 - Raka

PINTU itu akhirnya bergerak ke dalam setelah sentakan terakhir dari bahuku. Engselnya yang sudah kehilangan baut terlepas sepenuhnya dari kusen, jatuh ke lantai semen dengan bunyi yang sedikit redam oleh tumpukan debu tebal.

Aku terbatuk, mengusap hidungku yang mendadak gatal oleh udara pengap yang mendesak keluar dari dalam ruangan. Hawa di sini jauh lebih dingin. Bau apak menyeruak, khas ruangan lembab dan jarang tersentuh sinar matahari. 

“Tolong arahkan senternya ke dalam,” kataku.

Anara menggeser sorot lampu ponselnya melewati bahuku. Cahaya putih itu membelah kegelapan ruangan, melompat dari satu sudut ke sudut lain, menyingkap isi tempat yang tersembunyi di balik dinding.

Ukuran ruangan ini kecil, mungkin tidak lebih dari tiga kali tiga meter, dengan langit-langit yang begitu rendah hingga aku harus tetap membungkuk agar kepalaku tidak membentur balok kayu di atas. Di lantai semen yang kelabu kusam, berserakan beberapa benda yang langsung membuat gerakan kaki kami tertahan di ambang pintu.

Sorot lampu dari ponsel Anara berhenti pada sebuah boneka kain yang tergeletak miring di dekat kaki meja kecil. Salah satu mata dan lengan boneka itu sudah lepas, kapasnya menyembul dari jahitan yang robek. Di sampingnya beberapa mainan berserakan, tertimbun debu tebal sewarna abu rokok. Ada juga sepasang sepatu berukuran kecil yang warnanya sudah pudar menjadi kelabu kusam dan permukaannya mengeras.

Aku melangkah masuk lebih dulu, memeriksa lantai sebelum menapak penuh. Aku juga khawatir ada bagian yang lapuk atau bisa runtuh sewaktu-waktu. Tapi mataku sulit menerka keadaan ruangan ini. Satu-satunya sumber cahaya adalah jendela kecil di samping rak. Bayangan kami juga jadi berbentuk aneh di dinding, memanjang dan memendek secara asimetris setiap kali tangan kami bergerak. 

Anara mengikuti di belakangku. 

“Oke, ini jauh lebih aneh dari yang kukira,” katanya, dan aku setuju. “Barang-barang di sini kelihatannya milik anak-anak itu, kan?” 

Aku tidak menjawab. Kuedarkan pandanganku sekali lagi ke seluruh ruangan, lalu sepasang mataku menangkap sesuatu, tepat di sebelah dipan kayu tanpa kasur. Di sudut itu, ada semacam potongan rantai pendek menjuntai dengan lingkaran gelang besi yang menganga lebar. Seluruh permukaannya sudah berkarat pekat. Aku berjalan mendekat. Kutumpukan telapak tanganku pada lantai semen untuk menahan keseimbangan. Rantai itu tidak memiliki gembok di gelang besinya, dan tak ada juga kunci di sekitarnya.

“Raka, lihat ini.” Kali ini suaranya naik satu nada. Aku menoleh ke arahnya sebelum berjalan mendekat. Sorot lampunya berpindah dari sudut dipan ke arah rak kayu kecil yang dipaku di dinding bata tanpa plester. Di atas rak itu, berjajar tiga buah buku tebal bersampul kulit cokelat—atau mungkin, hitam, entahlah—yang ukurannya sama. “Ini kelihatan seperti kamar, kan?”

“Kamar tahanan, maksudmu.”

“Untuk apa ada kamar tahanan di rumah?”

“Itu pertanyaan besarnya, kan?”

Aku berdiri kembali, melangkah ke rak buku itu, sambil tetap menjaga posisi kepalaku agar tidak membentur langit-langit. Kuarahkan cahaya ponselku ke deretan buku berjilid itu. Tapi judul-judulnya tak tercetak di punggung buku, jadi aku menarik salah satu. Lapisan debunya sangat tebal, sampai warna aslinya tak terlihat.

Saat halaman pertamanya kubuka, isinya sebatas tulisan tangan yang terlalu rapi. Tingkat rapinya tidak masuk akal. Tapi memang betul itu menyerupai tinta tulisan tangan karena ketika kuarahkan cahaya ponselku dengan sudut agak miring, samar-samar warnanya berubah cokelat tua. Jika aku ditanya isinya apa, aku tidak akan bisa menjawabnya. Seperti isi doa, atau lebih mirip disebut mantra.

“Apa itu?” Anara berjongkok di sampingku, menyandarkan dagunya di bahuku untuk melihat lebih dekat. 

“Semacam buku jurnal?”

Lihat selengkapnya