RASA logam dan obat masih menempel di pangkal lidahku ketika aku terbangun. Bekas jarum infus di punggung tangan kiriku masih linu saat kutekan dengan ibu jari. Sisa plester putihnya meninggalkan rasa lengket yang tidak nyaman setiap kali kulitku bergesekan dengan kain selimut. Cairan itu memang berhasil menurunkan suhu tubuhku yang sempat naik gila-gilaan, tapi rasa berat di belakang kepalaku belum sepenuhnya menguap.
Aku mencoba memejamkan mata kembali, tetapi udara di dalam kamar ini rasanya terlalu tebal. Setiap kali aku mencoba melarikan diri ke dalam kantuk, membolak-balikkan sisi badanku ke kanan-kiri, isi kepalaku rasanya ikut bergeser, dan itu menyakitkan. Aroma di sekitarku—atau mungkin, badanku—berbaur antara bau obat dengan bubur hambar yang dipaksakan Anara masuk ke tenggorokanku sore tadi.
Pikiranku juga terus berjalan mundur, melompati kejadian kemarin ketika kami membongkar engsel pintu di lantai dua, dan gambar matahari terbalik itu terus tercetak di balik kelopak mataku setiap kali terpejam.
Sialan.
Menyadari kamar ini tidak akan memberiku ketenangan, aku bangkit dari ranjang secara perlahan, menumpukan beban tubuhku pada lantai yang terasa sedingin es. Kuraih jaket yang tergantung di kapstok belakang pintu, memakainya tanpa meritsleting bagian depan, lalu melangkah menuju dapur. Di lorong dekat dapur, pintu kamar Anara tertutup rapat, tidak menyisakan bahkan seberkas cahaya pun dari celah bawahnya. Dia sudah pasti kelelahan setelah seharian mengurusku yang ambruk seperti mayat hidup.
Mataku beralih ke arah jendela besar yang menghadap langsung ke pekarangan belakang. Aku berjalan ke sana tanpa alas kaki, melewati kamar Anara dengan hati-hati, lalu membuka selot pintu yang mengarah ke pekarangan.
Udara malam Seroja langsung menyergap leherku yang telanjang. Hawa dinginnya merembes naik melalui telapak kaki, mengirimkan rasa jeri yang sedikit membantu mengurangi sisa kantukku. Aku berjalan lambat, menyusuri tepi kolam. Permukaan airnya yang keruh, masih memantulkan bayangan dari langit dan pilar-pilar rumah dengan bentuk yang agak meliuk. Sambil melangkah, mataku sibuk mencari-cari titik di mana siluet seseorang yang dulu sempat berdiri. Tapi tidak apa-apa di sana selain tumpukan daun kering, dan dahan-dahan pohon yang terlalu lebat.
Aku meneruskan langkah menuju batas pagar tanaman beluntas yang membatasi pekarangan dengan jalan setapak desa. Tubuhku sebetulnya masih menyisakan hawa hangat dari dalam, khas tubuh yang masih demam. Namun berjalan dengan kondisi seperti ini membuatku teringat pada masa kecil.
Saat aku sakit, ingatanku selalu merekam dua hal yang sama: bau minyak kayu putih yang menyengat dan usapan hangat ibu. Dulu, ibu selalu duduk di tepi ranjangku hingga pagi, mengganti kompresan kain di dahiku, lalu kami bercerita macam-macam. Tapi anehnya, aku hampir tidak bisa mengingat apa pun sebelum usiaku menginjak lima tahun. Tidak ada ingatan tentang mainan favorit, tidak ada memori tentang rasa sakit saat jatuh dari naik sepeda, bahkan aku tidak punya bayangan tentang halaman rumah kami pada saat itu.
Kepalaku hanya mengulang-ulang suasana yang sama. Nuansa serba putih dan kilat neon di sebuah ruangan dengan dua ranjang. Orang-orang di hadapanku saat itu semuanya mengenakan jas putih yang lama-lama membuatku muak dengan cara yang aneh.
Aku dan Anara ditanyai beberapa hal serupa, menggambarkan sesuatu di atas lembar kosong. Tapi entah ini kebetulan atau memang batin kami yang menyatu demikian kuat (sebab kami kembar), kami selalu menggambarkan pemandangan yang sama: ruangan dengan mainan berserakan di atas lantai. Dan saat itu akhirnya aku sadar kalau ada satu hal dari kami yang tidak akan bisa sama meski aku mencoba berulang kali: keahlian Anara menggambar. Gambarnya selalu lebih indah dariku, dan terbukti hingga sekarang.
Kadang, kami juga menangis bersamaan setelah orang-orang berjas itu meminta kami tidur meski kami sama sekali tidak mengantuk. Atau, yang paling menyebalkan adalah saat mereka memberi kami tontonan kartun dengan suara-suara aneh. Yang entahlah, aku sangat membenci kartun sampai sekarang.
Satu-satunya hal favorit dari rentetan hal menyebalkan tadi hanyalah ketika ibu menyanyikan kami lagu Nina Bobo. Suaranya benar-benar jernih dan khas. Aku heran kenapa dia tidak ikut kompetisi menyanyi saja. Kalau juri lomba itu menolaknya, sudah pasti akan kudemo habis-habisan.
Bukan berarti aku merasa tidak puas dengan masa kecilku atau bagaimana. Aku hanya merasa seperempat diriku menguap entah kemana. Beberapa kali, aku sempat mencoba memaksa otakku untuk mundur melampaui batas usia empat tahun, tapi yang kutemukan hanyalah sejenis white noise yang memekakkan telinga. Sebuah dengung statis yang menyakitkan, dibarengi dengan detak jantungku yang berpacu liar dan keringat dingin yang membasahi tengkuk. Dan setiap kali aku begitu, aku hampir selalu teringat kalimat ibu—yang selalu sama ketika kutanya: Kamu dan Anara sempat sakit lama waktu masih sangat kecil, jadi wajar kalau ingatannya kabur.
Tentu saja aku menerima jawaban itu dengan patuh, karena kasih sayang ibu dan ayah terlalu berharga untuk dipertanyakan. Selama dua puluh satu tahun hidup, kami selalu dipenuhi kasih sayang tanpa batas dari mereka. Namun, setelah kepergian mereka yang menyisakan satu rumah di Seroja, ada perasaan ganjil yang terus mengendap di benakku. Ini adalah satu-satunya hal yang tidak pernah kuceritakan pada Anara. Kami tidak pernah membicarakannya sebelum ini, karena dia kelihatan tidak peduli soal ingatan masa kecil kami.
Aku tidak tahu apa yang sebenarnya kucari di sini. Mungkin aku hanya butuh alasan untuk terus bergerak agar tidak ikut mati lemas oleh kesunyian rumah kami di Jakarta. Perjalanan kami ke sini, bagiku, terasa seperti satu-satunya cara agar kami berdua bisa tetap bertahan hidup.
Srek!
Bunyi gesekan kasar langsung membuyarkan lamunanku, dan membuatku tersentak. Barulah saat itu aku menyadari kalau aku sudah berjalan terlalu jauh dari rumah—melewati menara lonceng, melewati pemukiman, terus sampai aku tiba di sebuah lapangan terbuka yang tak pernah kudatangi.
Hanya ada satu bangunan di sana. Aku berjalan mendekat. Di bawah lampu temaram, sebuah siluet bergerak perlahan. Napasku tercekat saat cahaya bulan yang pucat menerangi separuh wajah orang tersebut.
Seorang laki-laki.