KONON, ada ratusan varietas mangga yang tersebar di seluruh dunia, dan favoritku tetap harum manis. Sama seperti ibu. Ada waktu-waktu di mana kami begitu terobsesi dengan mangga, dan selama berhari-hari kami membuat aneka olahan dari buah tersebut: jus, puding, pai, sampai kue chiffon. Ibu sangat pandai membuat kue chiffon.
Pada dasarnya, dia bisa memasak segalanya. Aku sudah berkali-kali membujuknya membuka usaha kuliner, atau mengikuti acara kompetisi kuliner yang disiarkan di televisi, tapi dia selalu menolak usulan yang kuberikan tanpa mencoba berpikir dua kali.
“Ibu nggak sejago itu, apalagi mengelola bisnis,” katanya. “Modalnya pasti besar. Resikonya juga besar. Lihat saja Tante Feni.”
Sejujurnya, aku tidak tahu apa yang dikerjakan oleh Tante Feni. Dia sudah mencoba banyak bisnis berbeda dan selalu berakhir gagal total. Kali terakhir yang kudengar, dia mencoba membuka kedai pizza.
Aku tidak tahu kepercayaan diri macam apa yang dimiliki oleh adik ibuku itu karena dia sesungguhnya sangat buruk dalam semua bisnis yang dicobanya. Dia bahkan tidak bisa membuat kopi dengan baik, tapi pernah membuka kedai kopi. Dia bahkan tidak suka merangkai bunga, tapi dia nekat membuka bisnis toko bunga. Pada akhirnya dia tidak mendapat pelanggan sama sekali.
“Menurutku, Tante Feni harusnya cari tahu dulu apa yang dia suka sebelum membuka bisnis,” kataku.
Ibu terkekeh. “Dia cuma punya ambisi yang besar.”
Masalahnya, Tante Feni sering meminta ibu membantunya untuk mengelola bisnisnya (maksudku, seperti membantu administrasi dan macam-macam lagi) dan itu menyita banyak waktu luang ibu. Kadang, ibu sampai tidak pulang selama berhari-hari. Dan setiap kali ibu kembali ke rumah dengan memasang wajah khawatir, aku tahu bisnis itu takkan bertahan lama. Sama seperti bisnis yang lain.
Belakangan, aku bertanya-tanya bagaimana perasaan Tante Feni, tanpa sosok kakak perempuan yang siap sedia membantu memecahkan masalahnya. Pasti buruk sekali. Takkan jauh berbeda dariku. Dia sudah berkali-kali mengirim pesan agar aku datang berkunjung ke rumahnya untuk ‘minum teh dan mengobrol santai’, dan berkali-kali juga aku menolak.
Lihat di mana aku berakhir sekarang.
Tanganku sibuk memilah mangga harum manis dari kotak kayu yang disediakan oleh kios buah yang kukunjungi beberapa hari lalu. Aku mencoba mengingat-ingat apa yang diajarkan oleh ibu: pilih yang warna kulitnya mulai menguning tanpa bercak-bercak hitam atau jamur, pilih yang mengeluarkan aroma harum yang merata dari ujung tangkai, serta lunak saat ditekan tapi tidak meninggalkan bekas.
Aku membeli satu kilo mangga untukku dan Raka, lalu memesan keranjang khusus berisi buah-buahan yang lain. Untungnya kios itu juga menyediakan jasa pembuatan parcel, lengkap dengan plastik transparan dan pita berwarna merah muda yang disematkan di gagang keranjang.
***
Agak aneh rasanya berkunjung untuk mengucapkan rasa terima kasih sambil menyiapkan senyum selebar ini. Aku merasa mirip penipu yang bersandiwara jadi orang baik. Sebab setidaknya, aku memang punya satu tujuan egois: mendapatkan informasi lain tentang rumah yang kami tinggali.
Aku menghela napas dalam-dalam sembari memindahkan keranjang buah ke tangan kiri dan menggunakan tangan kananku untuk mengetuk pintu kayu berukir sebanyak tiga kali. Lalu, aku menunggu.
Tidak terjadi apa-apa.
Aku mengetuk lagi. Kali ini sedikit lebih keras dari sebelumnya. Aku mencoba mengintip ke dalam lewat jendela panjang di samping pintu, tapi terhalang oleh vitrase. Aku mempertimbangkan pilihan-pilihanku. Aku bisa saja meninggalkan keranjang ini di depan pintu dan menulis pesan ucapan terima kasih atau kembali lagi ke sini nanti.