LANGKAHKU masih agak berat ketika kami berjalan menuju rumah Pak Atmadja. Di sebelah kiriku, Anara berjalan tanpa bersuara, membenamkan tangannya ke dalam saku jaket, sementara matanya menyapu deretan pohon kamboja yang tumbuh di sepanjang jalan.
Rumah Pak Atmadja hanya berjalan tiga kavling di sebelah timur menara lonceng. Bangunannya sedikit lebih rendah daripada rumah yang kami tempati, tetapi halamannya jauh lebih luas dan dinaungi pohon mangga arumanis yang dahan-dahannya menjulur rendah. Di serambi depan, beberapa pot tanah liat berisi anggrek bulan berbaris rapi di atas rak kayu tiga tingkat.
Sebelum jemariku sempat mengetuk untuk kedua kalinya, pintu kayu polos itu berderit pelan ke arah dalam. Pak Atmadja berdiri di baliknya dengan kaus putih. Sepasang kacamata bertangkai penyu menggantung di dadanya, diikat dengan tali kain hitam.
“Ah, kalian rupanya,” sapa Pak Atmadja, wajahnya yang dipenuhi guratan usia itu tersenyum ramah. Beliau menatapku dari ujung kepala sampai ujung kaki. “Bagaimana kondisimu, Raka?”
“Sudah jauh lebih baik, Pak. Terima kasih banyak atas bantuannya kemarin,” jawabku sambil sedikit membungkukkan badan, mengikuti tata krama yang biasa ditunjukkan ayah dahulu saat menghadapi orang yang lebih tua.
Pak Atmadja mengibaskan telapak tangannya melambai di udara, memberi isyarat agar kami masuk. “Syukurlah. Tidak perlu sungkan. Udara dingin Seroja memang butuh banyak penyesuaian. Mari, masuk.”
Kami melangkah masuk melewati ruang tamu yang beraroma tembakau mole. Tidak seperti rumah kami, barang-barang di rumah ini bersih. Sebuah jam dinding kuno berbandul tembaga berdetak teratur di sudut lorong. Pak Atmadja menuntun kami melewati koridor samping menuju sebuah pintu ganda berpanel kaca buram.
Ruangan di baliknya jauh lebih luas dari yang kubayangkan. Namun, tubuhku mendadak mengecil sebab tiga sisi dindingnya tertutup rak kayu setinggi plafon, dipenuhi buku-buku dengan berbagai ukuran. Di tengah ruangan tergelar karpet babut tebal berwarna cokelat tua, sebuah meja diletakkan di atasnya. Bermacam-macam kertas dan buku, sebuah kanta pembesar, dan piring kecil tempat abu rokok yang hampir penuh tersebar di atas meja. Jujur saja, suasana retro ini membuatku terpaku. Bayangkan saat kau melihat perpustakaan dalam film Harry Potter untuk pertama kalinya. Rasanya persis seperti itu.
“Perpustakaan ini sudah ada sejak lama. Saya lupa kapan persisnya,” kata Pak Atmadja sambil berjalan mendekati meja kerjanya. Jari-jarinya yang keriput mengusap pinggiran meja kayu itu dengan pelan. “Saya hanya meneruskan apa yang dilakukan para Tetua desa sebelumnya,” lanjutnya. Dia menjeda kalimatnya beberapa saat. “Tapi karena rak dan buku-bukunya sudah sangat tua, banyak bagian yang hancur dimakan rayap dan harus segera dipindahkan. Nggak mungkin saya mengerjakan semua ini sendirian.”
Anara melangkah mendekati salah satu rak dekat jendela. Matanya mengamati deretan punggung buku bersampul kain dan kulit. “Semuanya buku-buku sejarah, Pak?”
“Sebagian besar,” jawab Pak Atmadja. Dia mengambil dua lembar kain lap bersih dan sebungkus kuas cat kecil dari dalam laci meja, lalu menyodorkannya pada kami bersama botol-botol semprotan berisi cairan pembersih. “Ada catatan desa dan beberapa kumpulan tulisan tokoh-tokoh daerah sini. Tugas kalian cukup mengeluarkan buku-buku dari dua rak yang berada di paling bawah, dan menyusunnya kembali sesuai tahunnya.”