TIDAK hanya buku-buku, Pak Atmadja juga menyimpan koran-koran dan majalah dari era entah kapan di dalam perpustakaannya.
Pada hari kedua, aku mulai memahami perasaan Ruben. Aku juga ingin kabur dari neraka buku ini, yang kelihatannya tidak ada habisnya. Meski sudah bekerja nyaris seharian kemarin, sisa buku yang harus kami pindahkan ke dalam rak berukuran raksasa itu masih lebih dari separuh. Jumlahnya pasti ada ribuan.
Ha.
Bisa gila aku.
Meski semua itu adalah ideku sendiri, situasi ini benar-benar konyol. Aku dan Raka seharusnya tidak perlu bersusah payah sampai seperti ini andai kami tidak memutuskan pergi ke Seroja. Apa yang kami lakukan sekarang sebetulnya tak lebih dari mengejar hantu-hantu.
Pertanyaannya, sebanyak apa jejak yang harus kami cari?
Saat orangtuaku meninggal, aku bisa melihat mereka di setiap sudut rumah. Aku melihat mereka dalam dokumen yang diberikan Pak Banyu. Aku melihat mereka dalam mimpi-mimpiku. Dalam setiap lamunanku. Dalam setiap doa-doaku—meski aku jarang sekali berdoa. Aku hanya… tak bisa meminta hal lain selain agar kedua orangtuaku kembali padaku.
Jadi aku berhenti.
Aku memejamkan mata kuat-kuat sebelum membukanya kembali. Kedua mataku terasa perih, mungkin karena debu yang beterbangan di dalam ruangan. Sebagian besar buku-buku itu sudah berusia sangat tua, halamannya sudah menguning dan penuh bintik-bintik hitam. Ada juga yang beberapa halamannya terlepas. Mungkin saja dicetak jauh sebelum aku dan Raka lahir. Sesekali Pak Atmadja akan menemani kami, meski sekedar untuk membawakan minum atau camilan kue pasar.
“Meski saya menyebutnya sebagai perpustakaan pribadi, sebetulnya buku-buku di sini banyak disumbangkan oleh warga desa,” katanya. Dia ikut mengeluarkan buku dari dalam kardus besar dan mulai menatanya di rak. “Dulu, kami sempat punya gedung pertemuan yang juga dipakai untuk perpustakaan, tapi tempat itu sudah nggak ada lagi.”
“Kenapa?” tanyaku.
“Yah, banyak hal terjadi,” kata Pak Atmadja. Wajahnya tampak agak murung. Meski begitu, dia tetap mempertahankan senyum tipis di bibir dan melanjutkan menata buku-buku di sampingku. Dia bergerak pelan, sesekali berhenti untuk mengamati buku di tangannya untuk waktu yang lama sebelum meletakkannya ke rak bersama buku-buku lain. “Sampai sekarang, sesekali warga di sini masih mengadakan pertemuan rutin. Banyak dari kami suka membaca dan suka mengobrol.”
“Buku apa yang paling Anda suka?” tanyaku.
“Saya suka buku-buku klasik,” katanya. “Lokal maupun terjemahan. Belakangan saya suka The Metamorphosis.”
“Kafka?” tanyaku, agak terkejut dengan seleranya.
Pak Atmadja tersenyum. “Betul. Kamu juga suka?”
“Ah, nggak terlalu. Saya lebih suka buku-buku pengembangan diri,” kataku. “Tapi Raka suka buku-buku seperti itu.”
Aku mengerling ke arah Raka lewat sudut mataku. Dia sedang sibuk berkutat dengan buku-buku di sudut lain ruangan. Dia benar-benar bekerja dengan keras sampai-sampai aku bisa melihat keringat mengalir dari sudut pelipisnya.
Tak lama setelah itu, Pak Atmadja kedatangan tamu. Katanya dia punya urusan yang penting dengan tamu itu, jadi aku dan Raka ditinggalkan sendiri di rumahnya.
“Kalian ngobrolin apa tadi?” tanya Raka, yang tanpa kusadari sudah berdiri di sampingku.
“Buku,” jawabku.
Raka mendesah pelan. “Kamu sadar, nggak? Ada banyak buku-buku yang kelihatannya dicetak sendiri.”
“Dicetak sendiri?” tanyaku.
“Terutama buku yang ada lambang Pamurnan itu,” kata Raka. Dia melirik ke arah rak sebelum melanjutkan, “Menurutmu, apa kita coba tanyakan soal buku kemarin?”
“Dia bilang kita boleh tanya apa saja padanya.” Aku mengedikkan bahu. “Coba tanyakan waktu dia kembali nanti.”
“Haruskah kita bandingkan buku ini dengan yang ada di rumah?”
“Foto saja semuanya,” kataku singkat.