RUPANYA memilih tidur lebih awal malam ini merupakan kekeliruan. Kukira tubuhku sudah terlalu lelah untuk bermimpi. Sepanjang hari, selepas menghabiskan waktu di perpustakaan Pak Atmadja; memindahkan segudang buku dari satu rak ke rak lain, punggungku seperti habis dipukuli. Kupikir, kelelahan semacam itu seharusnya cukup untuk membuat siapa pun terlelap tanpa mimpi.
Ternyata aku salah—kesadaranku tidak padam, hanya terseret ke bawah.
Pijakanku sekejap berubah. Kakiku menapak telanjang di atas ubin yang kasar dan basah. Sekelilingku terlalu kabur. Mirip sekali saat kau melihat dari balik kaca berembun. Atap di atas kepalaku begitu rendah. Bunyi tetesan jatuh satu-satu, berirama di atas ubin. Benda persegi panjang yang kelihatan seperti meja berada tepat di tengah-tengah ruangan dan di ujung sana, seseorang berdiri membelakangiku. Aku mencoba melangkah, tetapi kaki-kakiku seperti terikat pada lantai yang kupijak.
Lalu suara-suara itu mulai berbisik.
Mula-mula samar, memantul dari sudut-sudut dinding kabur. Aku berkedip beberapa kali. Tapi sialnya, jarak pandangku tak semakin jernih. Gaung itu meracau bersamaan dalam frekuensi yang saling bertabrakan, serupa desis ribuan serangga yang terkurung dalam tempurung kelapa.
Awas. Dia kembali.
Awas… Dia kembali…
Bisikan itu merayap ke telingaku. Kia nyaring, kian pekak. Kepalaku ingin pecah. Aku menangkup sepasang telingaku dengan kedua tangan, tetapi suara itu tak datang dari luar; ia bergaung langsung dari balik kepalaku.
Dia kembali. Awas.
Mereka berebut tempat. Berjejalan di dalam sana.
Awas. Dia. Kembali. Awas!