Mari Tinggal Sejenak

Sora Hanae
Chapter #21

19 - Anara

UNTUK suatu alasan, aku merasa suasana desa hari ini jauh lebih sepi dari biasanya. 

Saat aku dan Raka keluar dari rumah pagi itu, hawanya dingin setengah mati (setidaknya aku harus memakai jaket tebal yang ritsleting ditarik sampai leher). Kami hampir tidak berpapasan dengan orang lain—hanya seorang kakek bertubuh gempal yang melintasi halaman dengan terburu-buru. Dia memakai pakaian serba hitam dan melewati kami begitu saja, seolah tidak melihat kami sama sekali. 

Aku bertukar pandang dengan Raka. Dia mengangkat bahunya. 

Kemarin, Pak Atmadja sempat memberi isyarat kalau dia mungkin akan butuh bantuan kami untuk sesuatu yang lain (sungguh, sesibuk apa sih orang ini?), dan pagi ini dia meninggalkan semacam undangan pada Raka. Tapi aku sudah punya rencana lain untuk dilakukan, jadi alih-alih mengikuti Raka berbelok menuju rumah Pak Atmadja, aku berjalan terus melewati menara lonceng, mencoba mencari-cari alamat Nenek Sri yang hanya kukenal secara sepintas di ruang tunggu puskesmas desa.

Kepalaku tidak henti-hentinya menoleh. Rumah-rumah di kanan-kiri jalan semuanya tertutup rapat. Tirai mereka masih terpasang di jendela, seolah menahan sinar matahari agar tidak masuk ke dalam rumah. 

Ini benar-benar tidak biasa. 

Dan keanehan itu masih belum berakhir. Aku sudah berjalan cukup jauh dari rumah, tapi tak menemukan satu pun toko yang buka. Bahkan toko roti yang waktu itu pernah kukunjungi juga menutup pintu mereka rapat-rapat. Selembar kertas HVS yang ditempelkan di jendela dengan selotip transparan memberitahuku kalau mereka akan buka kembali besok. 

Aku kembali berjalan. Bahkan kantor pos juga belum buka. Saat aku menoleh ke arah bangunan bercat putih di samping toko roti, tak terlihat ada tanda-tanda kehidupan di sana. Ke mana perginya semua orang?

Kakiku sudah mulai terasa pegal. Dan tarikan nafasku sudah mulai berat. Inilah akibatnya kalau kau jarang berolahraga di waktu luang dan memaksakan diri untuk berkeliling desa dengan berjalan kaki. Aku dan Raka sengaja tidak bepergian memakai mobil agar kami tidak kelihatan mencolok, tapi sejujurnya itu adalah pemikiran konyol. Ha. Aku takkan peduli lain kali!

Barulah saat itu aku menyadari kalau aku sudah berjalan sampai ke pasar desa.

Kali ini, benar-benar rasanya seperti ada yang tidak beres. Pasar itu sama sepinya dengan tempat lain. Hanya ada beberapa kios yang buka, dan pengunjungnya berkurang secara drastis. Aku memasuki pasar yang nyaris kosong melompong itu dan memandang berkeliling. Satu-satunya sosok familier yang pernah kulihat sebelumnya sedang memilah buah jeruk di kios buah. 

Aku buru-buru menghampirinya. “Selamat pagi, Bu,” sapaku. 

Wanita paruh baya itu menoleh. Dia juga mengenakan pakaian serba hitam. “Oh?” kedua alisnya terangkat. “Kamu yang waktu itu, kan?”

“Iya, betul,” sahutku, merasa lega karena dia juga masih mengenaliku. Sebelumnya kami juga bertemu di pasar ini. Dia yang memberitahuku soal toko roti di samping kantor pos. 

Kami mengobrol ringan soal buah-buahan, toko roti, dan basa-basi yang sama sekali tidak penting. Setelah membeli satu kilo jeruk untuk masing-masing, aku mengikuti wanita itu berjalan ke luar dari kios.

“Apa saya boleh menanyakan sesuatu?” tanyaku.

Suasana hati wanita itu tampaknya sedang baik karena dia mendapat teman belanja baru. “Tanyakan saja, Nak,” katanya ramah. 

Aku menelan ludah, lalu berkata dengan hati-hati, “Apa ibu kenal dengan Nenek Sri?”

“Sri?” ulangnya

“Uh, iya. Usianya mungkin sudah tujuh puluh tahun? Saya bertemu beliau di puskesmas. Katanya, dia punya toko sembako, dan anaknya belum lama ini melahirkan…”

Lihat selengkapnya