MEMINDAHKAN enam bangku kayu jati berukuran raksasa dengan kondisi tubuh baru sembuh demam adalah keputusan tak masuk akal. Tapi aku tak punya alasan bagus untuk menolak Pak Atmadja pagi tadi. Beliau datang membawa selembar undangan yang ditulis sangat rapi di kertas kecil; hampir seperti cetakan yang melebar ke ujung-ujungnya.
“Kalian ada acara malam ini?”
“Belum ada, Pak,” balasku sopan. “Ada yang bisa kami bantu?”
“Malam ini akan diadakan pertemuan rutin dengan warga desa ini. Kalian berdua datang, ya,” ujarnya.
Aku berniat menolaknya, atau paling tidak, kubiarkan Anara saja yang berangkat. Tapi sebelum aku sempat mengeluarkan suara, beliau menghantamku dengan sebuah permintaan—yang lebih mirip disebut keputusan sepihak—tentang bantuan dalam persiapan acara malam ini.
Melihat bahunya yang agak bungkuk dengan senyuman serba canggung di selasar teras, membuatku lebih sulit lagi untuk menggelengkan kepala. Lagipula, akan menyeramkan bila warga Seroja yang hampir seluruhnya diisi lansia ini tiba-tiba sakit pinggang semua keesokan harinya. Dan hampir kupastikan aku tidak akan bisa menghilangkan rasa bersalahku selama setahun penuh.
“Raka, ini minum dulu,” suara Pak Atmadja terdengar dari arah sampingku, memecah lamunanku.
Aku mengusap peluh dingin yang mulai keluar di dahi dengan punggung lengan baju. “Terima kasih, Pak,” balasku. Aku memaksakan seulas senyum tipis yang rasanya kaku di bibir.
Mataku sempat tertambat pada wajah tuanya. Kulit pipinya keriput, sepasang matanya yang teduh di balik kacamata, dan senyum ramahnya; segalanya begitu wajar. Sama sekali tak ada jejak monster atau ubang mata hitam menyeramkan seperti yang hadir di dalam mimpiku tadi malam.
“Tunggu sebentar,” katanya tiba-tiba sambil melambaikan tangannya pada seseorang. Tak lama setelahnya, seorang pemuda berkaus polos dan celana selutut setengah berlari ke arah kami.
“Ini Mahes,” kata Pak Atmadja seraya menunjuk pemuda di sampingnya. “Dia yang sering membantu mengirimkan barang-barang dari kantor pos ke sini. Dan Mahes, ini Raka, pemuda yang menempati rumah di samping menara lonceng.”
Mahes mengulurkan tangannya yang kasar, menjabat tanganku dengan genggaman mantap. “Senang bertemu denganmu, Raka.” Mahes menyunggingkan senyum yang sama ramahnya dengan milik Pak Atmadja. Tak kukira akan ada pemuda waras dan beradab. Jauh berbeda dari seseorang yang kutemui di tengah malam waktu itu.
“Senang bertemu denganmu juga.”