Mari Tinggal Sejenak

Sora Hanae
Chapter #23

21 - Anara

“JADI, nenek itu meninggal?” ulang Raka. 

Kami duduk berhadapan di meja dapur dengan segelas teh hangat untuk masing-masing. Saat itu baru pukul tiga sore, masih ada cukup waktu untuk bersiap sebelum kami pergi ke rumah Pak Atmadja.  

Aku mengangguk. “Makanya semua orang pakai baju warna hitam hari ini,” kataku. “Katanya ada pengumuman yang dipasang di menara lonceng, tapi aku belum sempat memeriksanya.”

Raka mengetuk-ngetukkan jarinya. “Pantas saja. Ada tamu yang menemui Pak Atmadja kemarin, ingat? Itu sebabnya dia pergi dengan buru-buru. Pasti mereka pergi melayat ke rumah Nenek Sri.”

“Benar.” Aku mengangguk-angguk. 

“Apa penyebab kematiannya?”

“Nggak tahu, aku nggak sempat tanya,” kataku. Lebih tepatnya, aku terlalu syok untuk bertanya. “Jadi, apa yang kamu lakukan hari ini?”

“Menjadi pesuruh,” gerutunya. 

“Kamu sudah tahu acara apa yang dilakukan nanti malam?”

“Semacam perkumpulan rutin. Aku nggak tahu apa tepatnya.” 

Setelah kuingat-ingat lagi, Pak Atmadja pernah bilang kalau warga di sini suka membaca dan suka mengobrol. Mungkin itu seperti acara klub buku atau arisan bagi para lansia di Desa Seroja. 

“Aku bertemu Sena tadi,” celetuk Raka. Dia sudah menghabiskan teh miliknya dan kini bergerak menuju bak cuci piring untuk membilas gelas di bawah keran. 

“Ya, aku lihat waktu dia masuk ke rumah Pak Atmadja,” sahutku. “Dia membawa-bawa cawan yang pernah kita lihat di depan rumah warga waktu pertama kali datang itu.”

“Ngomong-ngomong soal Sena.” Raka menaruh gelas yang masih basah ke dalam gantungan gelas di lemari dapur lalu berbalik ke arahku. Punggungnya bersandar pada pintu lemari dapur. “Kita mungkin bisa mendapat informasi kalau mendesaknya.”

Aku mengedikkan bahu. “Atau kita bisa membujuknya.”

“Bukannya sama saja?”

Aku memutar bola mata. “Kita nggak bisa memaksanya. Dia itu… punya sisi yang lembut.”

“Sisi yang lembut?” Raka mengerutkan keningnya. “Dia kelihatan seperti serigala berbulu domba.”

“Nggak semua orang bisa tahan mengajar lansia,” kataku. “Dan dia tinggal di sudut terjauh dari desa—seakan mengasingkan diri. Dia pasti akan luluh kalau kita bertanya baik-baik.”

Raka menatapku seolah aku sudah gila.

“Kamu yang lakukan, kalau begitu.”

Aku menndesah. “Memangnya aku menyuruhmu melakukannya?” gerutuku. “Gimana soal buku itu? Kamu sudah berhasil menemukan petunjuk baru?”

Dia menggeleng. “Kamu nggak lihat apa yang kulakukan seharian ini? Mana sempat aku membaca buku itu.”

“Memangnya apa sulitnya membaca?”

“Akan kulakukan, oke?” gerutunya.

Meski mengatakannya dengan bersungut-sungut, aku tahu dia akan menyelesaikan buku itu dengan mudah. Walaupun sejujurnya, kalau soal urusan teka-teki begini, ayah kami adalah jagoannya. Dia sendiri sering menghabiskan waktu untuk mengisi teka-teki silang atau sudoku yang ada di koran-koran. 

Sayang sekali dia tidak ada di sini. 

Aku tersenyum pahit. Aku sudah merindukannya lagi. 


***


Lihat selengkapnya