Mari Tinggal Sejenak

Sora Hanae
Chapter #24

22 - Raka

SEJAK kami menyelinap keluar dari rumah Pak Atmadja, Anara terus berjalan mondar-mandir di ruang tamu sembari mengusap tengkuknya berkali-kali dengan jemarinya yang gemetaran, seakan ada puluhan mata yang mengekor di belakang punggung kami sepulang acara tadi. 

Setelah mendengar cerita Anara soal peringatan Pak Roni—pemilik toko roti berwajah pias yang mendadak menarik lengannya di keremangan acara tadi—aku pun sama cemasnya.

Siapa yang tidak merasa terguncang? Sepanjang dua puluh tahun kami tumbuh, Ayah dan ibu adalah gambaran manusia paling santun yang pernah ada. Mereka tidak pernah berselisih dengan tetangga, bahkan termasuk yang sangat disegani di kompleks kami. Sangat tak masuk akal jika di sini mereka berdua justru disebut-sebut dengan bisikan bergidik layaknya buron yang kabur dari penjara atau pesakitan yang meninggalkan racun di Seroja. 

“Pak Roni bilang apa lagi? Kamu yakin nggak salah dengar kan, Na?” tanyaku pelan, memecah keheningan di antara kami.  

Anara menggelengkan kepalanya dengan mantap. “Nggak. Kamu nggak percaya aku?” Matanya membulat menatapku, memancarkan ketakutan yang berselisih dengan penasaran. “Ini—ini ada yang nggak benar, Ka.”

Aku menyandarkan punggungku ke sandaran kursi kayu.  

Setiap orang yang kami temui di Seroja seakan memegang sepotong cerita yang robek beberapa bagian, tapi tidak ada satu pun dari mereka yang bersedia menunjukkan gambar utuhnya kepada kami. Mereka hanya melemparkan isyarat, teguran, dan tatapan prasangka. Aku bahkan tak berhasil menebak apa yang sebenarnya terjadi. Hobiku menonton film detektif ternyata tidak membantu sama sekali.

“Kita hubungi Tante Feni,” ucapku, membuat keputusan. 

Tak ada pilihan lain. Kerabat kami hanya Tante Feni dan Om Hendra. Jika ada rahasia yang disembunyikan orang tua kami, mereka adalah yang paling mungkin mengetahuinya. 

Aku menarik ponselku dari saku jaket. Tanpa menunggu lama, jemariku bergerak mencari nama Tante Feni di daftar kontak. Sementara Anara mendekat ke samping kursiku. Nada sambung berdering lambat. Sekali. Dua kali. Suara kerisik statik berbunyi nyaring sekali di tengah dinding-dinding tebal rumah ini. 

“Halo? Raka?” Suara Tante Feni akhirnya terdengar di ujung sambungan. “Tumben telepon jam segini? Ada apa? Kalian sudah makan?”

“Sudah, Tante. Raka cuma mau ngobrol.” Aku berdeham pelan untuk menetralkan suaraku. “Tante lagi sibuk, nggak?”

“Nggak, kok, ini baru selesai makan malam sama Om Hendra.” Nadanya terdengar santai dan hangat. “Ada apa, Ka?”

Anara berjongkok di samping kursiku, tangannya meremas lutut celananya sendiri sambil menatap layar ponsel di genggamanku tanpa berkedip.

“Kami cuma…” sahutku lambat. “Mau menanyakan soal dokumen milik Ayah dan Ibu, Tan.” 

“Dokumen? Bukannya Pak Banyu sudah mengurus semuanya?”

Aku menelan ludah, melirik ke arah gorden tebal yang menutup jendela ruang tengah. “Ini soal… rumah di Seroja, Tan. Tante tahu soal itu?”

Keheningan mendadak menyergap. Suara riuh dari seberang sana seolah mendadak redup. Desah napas Tante Feni yang tadinya teratur kini agak memburu. 

“Raka…” Suaranya berubah rendah dan dingin. “Kalian tahu soal itu dari mana?”

“Dari berkas yang diberikan Pak Banyu,” jawabku apa adanya. “Tante… tahu soal Seroja?” tanyaku bingung.

Di ujung telepon, kami mendengar suara gesekan dari kaki kursi yang digeser terburu-buru, disusul suara pintu yang ditutup setelahnya. “Raka, dengarkan Tante.” Suaranya kini dipenuhi tekanan. “Biarkan saja dokumen itu. Karena Ayah dan Ibumu tidak pernah membahasnya, jadi kamu dan Anara nggak perlu pikirkan itu. Paham?”

Lihat selengkapnya