PEMILIK toko roti. Sena. Tante Feni.
Baik orang-orang yang tidak kami kenal sampai yang paling dekat dengan kami, semua menyuruh agar kami pergi dari sini. Masalahnya, setelah kejadian semalam, aku menjadi semakin yakin bahwa rahasia yang terkubur di masa lalu itu jauh lebih buruk, atau paling tidak, lebih gelap dari yang kami bayangkan.
Pagi itu, bahkan sebelum matahari benar-benar terbit, Tante Feni kembali menelepon. Kali ini langsung ke ponselku.
“Anara, dengerin Tante. Kalian harus ke luar dari desa itu sekarang juga. Oke? Sekarang.”
Suaranya mendesak, tidak seperti Tante Feni biasanya. Dia kembali memanggil namaku saat aku terdiam, tak kunjung menjawab. Aku hanya bisa menanyakan satu kata, “Kenapa?”
“Karena orang-orang di sana berbahaya!”
“Mereka cuma veteran dan lansia,” elakku. “Memangnya apa yang bisa mereka lakukan? Mencuri barang-barang kami?”
Aku tidak mengerti kenapa orang-orang ini bersikeras agar kami pergi tapi tidak mau memberitahu alasannya. Apakah sesulit itu untuk memberikan penjelasan? Memangnya aku dan Raka anak kecil? Terlebih lagi, ada sesuatu yang menimpa ayah dan ibu kami di sini. Kalau mereka sampai terlibat dengan polisi, itu pasti gara-gara sesuatu yang amat sangat buruk.
“Anara, mereka itu orang-orang sesat!” pekik Tante Feni.
Aku mengerutkan kening. “Sesat?”
“Demi Tuhan, kalian berdua benar-benar mengacau!”
Dia tak pernah meninggikan suaranya sampai seperti itu. Tante Feni yang kukenal adalah orang yang paling menyenangkan, paling supel, paling ramah terhadap orang lain. Tapi ini… berbeda. Ada kesan aneh yang tak kukenali dalam reaksinya.
Jelas sekali dia kedengaran murka. Masalahnya, aku tidak memahami apa yang sangat salah dari tindakanku dan Raka hingga dia jadi semarah itu. Aku memejamkan mataku rapat-rapat. “Aku memang sudah tahu ada yang aneh dengan kebiasaan warga di sini, tapi menyebutnya sesat itu…” aku menghela napas. “Mereka cuma menjalankan adat setempat, kan?”
“Adat yang menyimpang—ya. Kalian beruntung kepala kalian masih utuh di atas leher! Ini masalah serius! Salah sedikit saja, kalian mungkin nggak akan selamat!”
“Maksud Tante, kami bisa mati?”
“Bahkan mati adalah keberuntungan. Kalau mereka memutuskan untuk menyiksa kalian…”