Mari Tinggal Sejenak

Sora Hanae
Chapter #26

24 - Raka

BILA suatu kebenaran mendadak dihantamkan ke dadamu, tubuhmu tidak akan serta-merta berteriak maupun menangis. Yang terjadi justru sebaliknya; seluruh sendimu beku, lidahmu kelat, dan dunia di sekitarmu hanya berwarna hitam-putih.

Anara mengurung dirinya lagi. Ia melipat tubuhnya rapat-rapat di balik selimut flanelnya, dan menolak menyentuh segelas air pun. Aku masih duduk di sisinya selama belasan menit, mendengarkan helaan napasnya yang patah-patah.

Kami bukan anak kandung ayah dan ibu.

Kenyataan itu berulang serupa dentang lonceng besi yang kian pekak di telinga. Dua orang yang paling kami cintai—yang mencuci baju berlumpur kami, menyeduhkan susu jahe hangat saat sakit, dan memberikan pelukan hangatnya yang berlimpah—rupanya hanya benteng perlindungan yang dibangun di atas reruntuhan tragedi. Kami hanyalah anak-anak yang diculik dari neraka bernama Seroja. Namun, jika kami diselamatkan, maka orang yang bertanggung jawab atas masa kecil kami, masih melenggang bebas di desa ini. Seharusnya begitu. 

“Ra,” panggilku. “Aku mau ke rumah Pak Atmadja, buat pamitan. Kamu mau ikut?”

“Kita pulang sekarang aja, Ka,” gumamnya dari balik selimut sebelum akhirnya menyembulkan kepalanya. Suaranya serak dan tipis. “Kita kemasi barang sekarang, terus jalan balik ke Jakarta.”

Aku menghela napas panjang, menatap mata sembabnya—lebih cocok disebut balon ketimbang kantung mata. “Aku juga mau pulang, tapi kalau kita mendadak hilang begitu saja, warga desa malah bakal curiga,” ujarku. “Kita pamitan baik-baik, ya. Pura-pura nggak terjadi apa-apa.”

Anara tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang yang gemetar, lalu menyibak selimutnya perlahan. Gerakannya sangat lambat. Dia seperti mumi yang setiap engsel di tubuhnya sudah berkarat. Ia menyapu rambutnya yang kusut ke belakang telinga, merapikan piyama kotaknya tanpa menatap mataku.

“Aku nggak ikut, tapi kamu jangan lama-lama ya,” bisiknya parau.

Aku mengiyakan. Lima menit kemudian, aku sudah berada di halaman rumah Pak Atmadja. Aku semakin sadar kalau desa ini begitu tertata. Saking rapinya, sampai membuatku merinding. 

Begitu sampai di depan rumah, langkah kakiku tertahan. Tidak seperti biasanya, ada belasan pasang sandal yang berjejal memenuhi selasar teras. Aku mulai bisa mendengar dengung suara orang banyak dari dalam sana. 

Aku mengetuk pintu beberapa kali.

Tok. Tok. Tok.

“Raka?” sapa Pak Atmadja. Suaranya masih berat, tenang, dan seramah biasanya. Sesuatu yang membuat lambungku mendadak mulas. Aku nyaris tak menyangka. Kupikir, dia akan mengusirku begitu aku tiba, sebab menghilang dari acara tanpa berpamitan sama sekali. 

“Selamat siang, Pak,” salamku, berusaha sekuat tenaga menetralkan ekspresi wajah. “Saya mengganggu ya, Pak?”

“Sama sekali tidak, Nak,” Pak Atmadja mengibaskan telapak tangannya di udara, memberi isyarat agar kami menaiki anak tangga teras. “Warga cuma sedang berkumpul sebentar untuk membicarakan hasil panen mangga minggu ini. Pas sekali kamu datang. Mari, masuklah dulu.”

Aku mengekor di belakang langkah lambatnya melintasi serambi. Di dalam ruang tengah yang luas, sekitar belasan warga tua desa sudah duduk bersila di atas tikar yang dipenuhi gelas-gelas teh dan jajanan pasar aneka ragam. Ada Pak Roni—pemilik toko roti yang kemarin menarik lengan Anara—duduk di sudut dekat jendela, serta beberapa kakek dan nenek tua berpakaian polos yang sempat kulihat di puskesmas. 

“Silakan duduk, Raka,” ujar Pak Atmadja lembut.

Aku langsung menggeleng sopan. Berada di tengah-tengah lingkaran orang ini membuat dadaku sesak. “Tidak perlu, Pak. Terima kasih. Saya tunggu di perpustakaan saja sambil membaca buku,” tolakku halus. 

Pak Atmadja mengulas senyum tipis sebelum akhirnya mengangguk. Sayangnya, niat awalku untuk langsung berpamitan terhalang oleh lingkar percakapan warga yang masih mengalir lambat. Aku terpaksa bertahan di ruang perpustakaan itu lebih lama dari yang kuduga, menunggu momen yang tepat sampai orang-orang itu berkemas pulang.

Aku berdiri lorong rak paling ujung, dekat pintu yang terhubung ke area belakang. Masih kuingat jelas aksi nekatku tadi pagi. Betul-betul detektif amatiran. Aku bersandar pada dinding sambil membuka acak beberapa buku demi mengusir rasa canggungku. 

Lihat selengkapnya