KURASA aku sudah gila, atau hampir saja gila—sisa-sisa kewarasanku kini menggantung dalam tali tipis yang bisa putus kapan saja.
Harusnya aku mengepak barang-barangku agar kami bisa langsung pulang ke Jakarta seperti yang diharapkan oleh Tante Feni, tapi aku tak sanggup melakukannya. Raka baru saja pergi ke rumah Pak Atmadja, entah untuk berpamitan atau apalah. Aku tak tahu apa yang ada dalam kepalanya. Tapi aku tak mau bertemu orang itu.
Raka bereaksi cukup tenang setelah aku memberitahunya kabar buruk yang kudengar dari Tante Feni.
Kabar buruk.
Bagiku, ini bahkan bukan sekedar kabar buruk biasa. Ini adalah mimpi buruk yang menjadi nyata. Seluruh hidupku adalah kebohongan. Seluruh hidup Raka adalah kebohongan. Tak ada lagi yang tersisa dari kami berdua. Aku tidak tahu bagaimana dengan Raka, tapi seharusnya aku melompat ke sungai saja seperti yang kulakukan dalam mimpiku dan meninggalkan dunia ini tanpa pernah mengetahui kebenarannya.
Lebih baik begitu.
Keheningan yang menyelimutiku terasa begitu menusuk. Tali-tali tak kasat mata menjeratku dari ujung kepala hingga ke ujung kaki, lalu menghancurkan jiwa ragaku hingga berkeping-keping. Ini bahkan lebih menyakitkan daripada malam-malam yang kuhabiskan setelah upacara pemakaman ayah dan ibu.
Aku tak tahan lagi.
Kuputuskan untuk beranjak ke luar dari kamar. Langkahku agak limbung. Aku berkeliling rumah tanpa tujuan. Aku baru berhenti setelah tiba di halaman belakang.
Ada kolam ikan kecil yang airnya mengering. Hanya tersisa lumut yang licin. Aku tahu aku akan dikira gila jika ada seseorang yang tidak sengaja mengintip sampai ke sini, tapi aku tidak peduli. Aku berjalan masuk ke dalam kolam yang sudah kering dan duduk bersandar di pinggiran kolam sambil memeluk kedua lututku. Kepalaku terbenam di atasnya. Sinar matahari membakar bagian belakang leherku seperti laser, tapi aku tak peduli. Aku bertahan dalam posisi itu untuk waktu yang lama.
Telingaku menangkap suara langkah kaki samar-samar, yang semakin lama semakin dekat, lalu hening. Aku bisa merasakan bayangan besar menaungi tubuhku.
Pasti Raka baru saja kembali.
“Sembunyi?”
Aku mengangkat kepalaku dan mendongak ke atas. Alih-alih wajah Raka, sosok yang perlahan masuk ke dalam bidang pandanganku saat itu adalah Sena. Aku mengerjap pelan.
“Kamu menerobos masuk?” desisku.
Dia mengedikkan bahunya sebelum melompat ke dalam kolam yang dangkal dan duduk di sampingku. “Aku melihatmu tadi. Dari sebelah.”