MEJA makan ini didandani serupa altar perjamuan kaum aristokrat. Hamparan taplak putih di sepanjang permukaan meja, menyerupai kain kafan yang dibentangkan di atas peti mati. Cawan-cawan porselen pualam berlis emas berjajar presisi, mengapit berpasangan perak yang mengilat ditimpa pendar lilin. Dua tempat lilin kuningan berkepala tiga berdiri di kedua ujung meja. Saban kali angin menerobos celah jendela, apinya yang bergoyang melemparkan siluet bayangan yang membentuk jemari kurus di dinding.
Ruangan ini dipenuhi aroma masakan yang menyengat sekaligus mengenyangkan lambung dengan paksa. Ada daging kambing panggang berminyak yang dikepung rempah-rempah hitam, serta kaldu kental yang beruap panas tanpa henti. Namun, bebauan lain ikut merayap ke tenggorokanku sedari tadi—bau dupa cendana yang dikukus di atas tungku gerabah di sudut ruang. Aroma itu terlalu tajam. Bisa kau bayangkan wewangian berat yang biasa kau hirup saat bersimpuh di samping jenazah, berbaur dengan aroma tembakau mole yang mengendap di kemeja orang-orang tua di sana.
Aku dan Anara terkurung di antara mereka seperti sepasang bebek di tengah-tengah kelompok angsa. Meski aku agaknya berpikir begitulah ‘kebiasaan’ mereka, tapi ini semua berlebihan. Alih-alih merasa dijamu bak bangsawan, aku justru merasa gelisah. Kegelisahan itu bahkan mulai berevolusi menjadi rasa takut sampai-sampai kedua telapak tanganku mulai berkeringat dingin.
“Silakan dinikmati, Raka, Anara,” ujar Pak Atmadja. Nadanya terdengar lembut. Beliau mengulurkan tangan pelan ke arah hidangan. “Jiwa-jiwa muda butuh banyak tenaga. Jangan sungkan-sungkan. Ayo, dimakan.”
Seisi meja mengecap makanan dalam hening. Aku menghitung jumlah orang yang hadir. Termasuk Sena dan Mahes, ada total sebelas orang yang duduk melingkari meja. Ditambah aku dan Anara, jumlah kami jadi tiga belas. Tapi yang membuatku ngeri adalah gerakan mereka begitu seragam dan ritmis. Hampir kusangka aku sedang berada di antara robot manusia. Hanya ada bunyi benturan antara perak dan porselen yang silih berganti, disertai derak kayu bakar dari sudut ruangan. Tak ada gelak tawa, ataupun basa-basi perihal cuaca dan hasil panen mereka. Senyum yang terukir di bibir-bibir itu tercetak simetris. Jenis senyum ramah yang sudah pasti enggan kau temui lagi, dan sekarang, makanan di dalam mulutku terasa seperti gumpalan pasir kering.
“Malam ini adalah malam yang istimewa untuk Seroja,” suara Pak Atmadja memecah kesunyian meja makan.
Beliau menegakkan tubuhnya, mengusap bibirnya dengan serbet kain putih sebelum pandangannya tertuju lurus ke arahku dan Anara. Mahes melangkah maju dari dekat perapian, membawa sebuah Mahes melangkah maju dari dekat perapian, membawa sebuah botol kaca berleher tinggi berisi cairan ungu pekat. Ia menuangkan cairan itu ke dalam cawan-cawan porselen yang sudah tertata di depan kami semua.
Namun, rupanya perjamuan itu tidak langsung dilanjutkan dengan bersulang.
Pak Atmadja memberi isyarat tangan. Satu tangan kanannya diletakkan menyilang ke dada kiri. Kemudian, seluruh orang serempak meletakkan alat makan mereka, dan menarik sesuatu dari bawah meja. Mereka mengeluarkan setangkai bunga teratai utuh yang masih basah dan sudah sedikit layu. Tanpa aba-aba, kesebelas orang itu menundukkan kepala dalam-dalam, hingga dahi mereka nyaris menyentuh meja.
Kres. Kres.
Suara patahan bersahut-sahutan di ruangan itu. Mereka rupanya sedikit meremas batang teratai tadi tepat di leher bunganya, dan melipatnya menjadi dua bagian, namun tidak sampai patah. Kelopak-kelopaknya sekarang tampak menggantung-gantung lemas.
“Satu cahaya di bawah bayangan,” gumam Pak Atmadja, suaranya rendah dan berat.