INI aneh. Aku merasa ratusan mata seperti membuntuti kami dalam perjalanan pulang. Pepohonan di sekitar kami rasanya membawa parang panjang yang siap menerjang kami dari segala arah. Anara tidak bicara. Genggamannya di tanganku justru mengeras setiap kali suara serangga malam tiba-tiba berhenti serempak—seolah seluruh hutan ini sedang menahan napas bersama kami.
Ketakutan kali ini bukan hanya berbentuk spekulasi atau khayalan belaka. Sepertinya, kami memang benar-benar akan dihabisi oleh Pak Atmadja. Mungkinkah dia melakukannya karena dosa yang dilakukan oleh ayah dan ibu dulu? Memangnya apa yang begitu salah dari tindakan mereka? Sudah pasti ada hal yang sangat buruk terjadi di sini, dan karena itulah ayah dan ibu sampai memanggil polisi.
Aku juga akan berjalan masuk ke kantor polisi kalau aku tahu pemilik rumah ini melakukan perbuatan tidak pantas kepada anak-anak mereka. Mengurung mereka sampai mati lalu mengakhiri hidup dengan membakar briket arang?
Sulit dipercaya hal itu tidak mencapai telinga wartawan.
“Ayo, kita harus bergegas,” kataku.
Klek. Klek.
Kami masuk rumah terburu-buru sambil tetap mengunci pandangan ke halaman. Tanganku gemetar. Aku takut kalau-kalau benar ada yang membuntuti kami lalu menghantamkan parang dari arah belakang. Kami benar-benar seperti dalam adegan film horor.
Tanpa menyalakan lampu, kami bergerak cepat di dalam kegelapan. Hanya ada kami, dan cahaya ponsel. Aku tidak mau pendar cahaya dari dalam rumah mengkhianati posisi kami kepada siapa pun yang mungkin sedang keluyuran di luar.
Satu jam saja.
Kami hanya butuh satu jam untuk menghilangkan jejak kami selama di Seroja, dan begitu Sena sampai, kami langsung pergi dari desa sialan ini.