Mari Tinggal Sejenak

Sora Hanae
Chapter #32

30 - Raka

SENA menghilang.

Setiap sudut bangunan itu menolak memberikan jawaban. Ruangan empat kali empat meter ini hanya berisi barisan kanvas setengah jadi bersandar di dinding. Aroma di sini jadi tak karuan. Beradu dengan deru napas kami berdua, dan bau cat minyak yang menusuk. Rasanya makin tak karuan karena Sena tak kunjung kami temukan.

Aku mengusap wajahku dengan kasar. Seluruh tubuhku sudah bermandikan keringat. Kepalaku terus-menerus menyusun setiap probabilitas terburuk yang bisa menimpa Sena. Aku yakin dia bukan orang bodoh, tapi menghadapi puluhan warga yang mengamuk bak anjing rabies bukanlah sesuatu yang bisa dimenangkan dengan tangan kosong.

“Mereka pasti sengaja nyembunyiin dia,” kata Raka. “Para anggota sekte sialan itu.”

Anara berdiri di ambang pintu, merangkul tubuhnya sementara matanya masih menyapu liar ke penjuru ruangan. “Kita harus cari ke mana lagi? Kalau seisi desa ini bekerja sama untuk menyembunyikan dia, kita mungkin nggak akan bisa menemukannya.”

Aku tak langsung merespons. Aku tahu dia pasti sedang panik. Tapi frasa panik sama sekali tak akan membantu kami saat ini. Setidaknya, aku masih harus berpikir dengan kepala dingin. Cahaya ponselku membelah kegelapan di sana. Menyoroti kaleng-kaleng cat, kuas berserakan, dan tumpukan kain lap. Semuanya terasa buntu, sampai akhirnya mataku membentur sudut paling ujung ruangan.

Satu kanvas berukuran lebih besar bersandar di sana, jauh berbeda dengan belasan lainnya. Aku mendekat. Kuulurkan tanganku untuk membuka kain putih penutup kanvas itu. Tapi detik berikutnya, napasku tercekat. Darahku berdesir hebat. 

Anara bergerak mengikutiku. 

“Apa ini?” cetusnya. 

Jika kalian kira kami menemukan lukisan pemandangan megah di istana dongeng, kalian salah. Itu adalah lukisan sebuah keluarga. Persis dengan foto yang kami temukan di lantai dua. Tapi ini adalah versi di mana kelima wajah anggota keluarga itu terlihat dengan jelas. Aku dan Anara sudah berusaha keras untuk mencari tahu identitas para pemilik lama rumah kami. Dan lukisan Sena mengungkap semuanya.

Dua anak laki-laki, dan satu anak perempuan.

Satu anak laki-laki yang kelihatannya berusia tujuh atau delapan tahun, sementara kedua anak lainnya berusia lebih muda, mungkin baru tiga atau empat tahun. Wajah keduanya terlihat amat mirip, terutama karena mereka memiliki model rambut yang sama. 

Masalahnya, aku melihat ke dalam potret diriku sendiri. 

Itu kami. Aku, dan Anara. 

Tak mungkin aku salah mengenali diriku sendiri. Baik alis, bentuk mata mata, garis pipi, hidung, hingga tahi lalat yang berada di sudut mata dan dagu kami juga tampak jelas di sana. Setiap inci wajah-wajah itu menggambarkan kami berdua. 

Anara dan aku bertukar pandang. 

“Bagaimana bisa?” desisku. 

“Itu… kita?” bisik Anara, kengerian tercetak di wajahnya. 

Aku tak bisa memberinya jawaban apa pun. Dia pasti mengenali dirinya sendiri. Aku menoleh, kembali menyorot wajah-wajah di sana. Tatapanku kali ini jatuh pada anak laki-laki di sebelah kami, yang punya mata serupa serigala. Satu-satunya hal yang hanya bisa kugambarkan untuk mata Sena. 

Lihat selengkapnya