“Lewat pintu belakang!” desis Raka. “Cepat!”
Aku dan Raka berlari-lari menuju pintu lain yang ada di studio Sena dan memutar kuncinya. Kami tak punya waktu untuk sekedar berpikir. Satu-satunya hal yang terbesit di benakku adalah: kami bisa mati.
Tante Feni benar.
Seharusnya kami tidak pernah menginjakkan kaki di sini.
“Lebih cepat, Na!” seru Raka. Dia meraih tanganku dan kami terus berlari melewati jalan setapak desa. Bulan yang menggantung di atas kepala kami tertutup oleh awan tebal, sehingga pandangan kami jadi terbatas. Aku tak berani menoleh ke belakang.
Raka menarik tanganku, memaksaku untuk mempercepat laju kakiku agar tidak tertinggal.
“Kita mau ke mana?” desisku.
“Kita harus pergi sekarang!”
Aku tahu kami tidak bisa memperlambat langkah. Di belakang kami, sudah ada orang-orang yang mengejar. Raka benar. Kami harus pergi dari sini dan mencari bala bantuan untuk menyelamatkan Sena. Hanya itu yang bisa kami lakukan.
Seluruh tubuhku rasanya seperti terbakar. Kepalaku pusing. Dadaku sakit. Kakiku sakit. Keringat mengucur deras dari tubuhku, membasahi pakaianku. Begitu kami tiba di halaman rumah, aku langsung jatuh tersungkur. Raka membantuku berdiri.
“Ayo, ayo.”
Kakiku masih gemetaran, tapi aku berhasil menopang tubuhku dengan sisa-sisa tenaga yang kumiliki.
Saat itulah sudut mataku menangkap gerakan samar. Aku menoleh. Bayangan seseorang muncul dari ujung halaman. Sosok itu berdiri di samping mobil milik Raka.
Mahes.
Mulutku terbuka karena terkejut.
“Halo lagi, para pendatang. Atau haruskah aku memanggil kalian dengan nama asli?”
Aku mengernyit, sama sekali tidak tahu apa yang dia katakan. Tapi Raka menggenggam lenganku erat-erat. “Apa yang kamu lakukan di sini?” desisnya.
“Nggak perlu marah-marah. Aku datang untuk memberitahu kalian sesuatu.” Dia berjalan mendekat. Wajahnya kelihatan berbahaya, tanpa kesan jenaka yang biasanya muncul. “Saat kalian mendengar bunyi lonceng, itu artinya dia sudah mati.”
Aku dan Raka bertukar pandang. Kami seolah sudah saling mengerti siapa yang Mahes maksud dengan dia. Itu pasti Sena. Aku bahkan sudah tak bisa berpikir jernih, apakah kami akan celaka, apakah Mahes akan mengeluarkan sebilah pisau atau parang untuk menghantam kami dari belakang. Satu-satunya yang kupikirkan saat ini hanyalah, aku tak bisa kehilangan siapa pun lagi.
“Pergilah,” katanya. “Selagi masih ada kesempatan.” Sudut-sudut bibirnya terangkat dalam seringai licik.