Mari Tinggal Sejenak

Sora Hanae
Chapter #34

32 - Raka

ASAP hitam mulai mengepung kami tanpa ampun. Hawa panas di dalam sini naik drastis. Sebelum aku menyadarinya, api sudah menyebar dengan cepat. Mataku perih bukan main, dadaku sesak. Begitu juga Anara, ia memukul-mukul dadanya, sementara satu lengannya menutup hidung dan mulut. 

“Mundur, Na! Menjauh dari pintu!” teriakku, menarik tubuh mereka berdua ke tengah ruangan.

Melihat skala api itu, aku yakin kami tidak akan selamat. 

Kesadaran itu menghantam telak saat api mulai menjilati sekitar pintu utama, merambat naik ke langit-langit. Oksigen di sekitar kami menipis dalam hitungan detik. Napasku sudah seperti menghirup serbuk api.

Mereka akan menghabisi kami sekaligus. 

Tentu saja aku harusnya merasa aneh saat Mahes memberitahu kami soal keberadaan Sena. Warga Seroja di luar sana seolah merayakan kematian kami di dalam kobaran api. Terdengar suara teriakan susul menyusul, senandung, dan nyanyian memuakkan. Mereka bergembira, bersorak, menggadaikan nyawa kami semurah jelaga.

Malam menjemputmu, Ibu menunggu

Irama itu. Lagu bajingan itu. Lagu yang kuingat sebagai pengantar tidur dari ibu. Nyanyian yang mengantarkan kami pada ketiadaan tak berujung. Senandung yang membuat kami melupakan semuanya.

Surutkan banyu, siram cahaya

Lihat selengkapnya