Mari Tinggal Sejenak

Sora Hanae
Chapter #35

33 - Raka

LENGKINGAN sirine itu datang bagai godam raksasa. Keriuhan di luar sana berganti klakson panjang, mesin kendaraan, dan derasnya air. Sahut-menyahut teriakan dari pengeras suara, disusul bunyi tembakan. 

Dor! 

“Tetap di tempat atau saya tembak!”

Suara itu tidak terdengar asing di telingaku. Kelopak mataku perlahan membuka dengan lemah. 

Aku belum mati. 

Tapi malaikat kematian pasti sudah terbang di atas kepala kami, mengawasi detik demi detik sampai kami menarik napas terakhir. Aku menoleh ke samping. Anara dan Sena sudah tidak sadarkan diri. 

Jadi, inilah akhirnya. 

Mereka bilang, saat kau sudah berada begitu dekat dengan kematian, kau akan melihat kilasan hal-hal terbaik yang terjadi dalam hidupmu. Aku melihat Anara, aku melihat ayah dan ibu, lalu aku melihat Sena…

Brakk!

Pintu itu mendadak hancur. Air dingin membanjiri lantai. Asap dan api di sekitar kami mulai padam. Siluet belasan manusia merangsek masuk, menyorotkan cahaya ke arah kami, menerobos api yang masih menyala di beberapa titik. 

“Raka! Anara!”

Jeritan itu setengah menyadarkanku. Untuk sesaat, aku merasakan harapan samar. Wanita itu menangis tersedu-sedu, merengkuh leherku, seluruh tubuhnya gemetar.

Tante Feni? 

“Panggil tim medis!” raungan lainnya menyusul. Itu suara Om Hendra. “Kesini! Cepat!”

Tak lama, beberapa orang membaur masuk. Tak jelas berapa jumlahnya. Tapi dari derap langkahnya, mungkin hampir sepuluh orang. Seseorang dengan cekatan memakaikan masker oksigen berembun ke hidung dan mulutku. Tarikan napas pertamaku menyakitkan, namun perlahan melegakan dadaku yang rasanya nyaris hancur. Di sisiku, aku melihat Anara dan Sena diangkat hati-hati ke atas tandu.

Itu pemandangan terakhir yang mampu diproses mataku, sebelum silau lampu sirine membuat kepalaku pening luar biasa, dan duniaku kembali tergelincir ke dalam kegelapan. 


Lihat selengkapnya