Mariyam dan Ali

Oleh: Azrai Putra Barumun Daulay

Blurb

Kehilangan anak pertama dan rongrongan mertuanya yang tiada berhenti mengusik kehidupan rumah tangga yang sedang ia bangun, membuat Mariyam nekat meninggalkan kampung halaman, mengabaikan larangan suaminya.
Merantau dia ke sebuah desa yang belum pernah dia jamah, membawa anak keduanya yang baru beberapa bulan lahir ke dunia, beserta suaminya yang terpaksa ikut.
Seorang diri dia membesarkan anak-anaknya di sana, suami yang dulu dia cinta, yang membuatnya jatuh cinta karena kelembutan suaranya kala melantunkan adzan, telah lenyap karisma dan tanggung jawabnya, berubah menjadi lelaki brengsek yang cuman tau berjudi kartu dan berfoya-foya.
Berpuluh tahun dia berjuang, membina keluarga, menyejahterakan anak-anaknya, memberikan pendidikan yang layak. Dan ketika dirasa tugasnya sebagai Ibu tunai, anaknya yang lain pergi meninggalkannya. Mengadu ia pada Tuhan, "Kenapa kau biarkan aku mengalami kehilangan ini terus-menerus? Tak bisakah kau cabut nyawaku lebih dulu dibanding mereka? Tak kuasa aku jika harus mendengarkan kabar kematian mereka satu per satu."
Berkata ia pada sahabatnya, "Kupikir Tuhan telah menganggapku layak menjadi seorang ibu, tetapi melihat nasib anak-anakku rasanya tidak seperti itu. Aku ini memang ibu yang buruk, pantas Tuhan memperingatkanku di awal-awal pernikahan. Dan aku dengan sombongnya malah mengabaikan itu semua, menambah-nambah anak yang akhirnya bernasib sama seperti pendahulunya."

Lihat selengkapnya