Tahun 1995
Semilir angin berhembus memasuki jendela yang terbuka lebar, menyejukkan ruangan yang sesak, penuh akan kesedihan. Ranjang berbahan jati yang telah dimakan usia—selalu berderit ketika hendak dinaiki—tergeletak tepat di samping jendela. Kepala ranjang tersembunyi di balik dinding papan sedangkan kaki ranjang berhadapan dengan jendela itu, sehingga apabila cahaya matahari telah menembus jendela maka samar-samar akan terasa hangat bagi kaki siapapun yang tergeletak di sana. Lemari pakaian yang besarnya hampir melahap setengah ruangan terletak di samping tempat tidur, namun tidak terlalu mepet, ada jarak dua jengkal yang dipergunakan untuk meraih apapun yang terjatuh dari atas ranjang. Lemari itu juga berbahan jati, masih mengkilap, dicat dengan warna coklat, bermotif polos, serta di sisi kanannya dilengkapi dengan cermin besar untuk bersolek. Ruangan itu dipergunakan sebagai kamar tidur bagi Mariyam dan Ali. Sepasang suami-istri yang umur pernikahannya masih terbilang sangat muda, belum sampai dua tahun.
Sore itu, Mariyam sedang duduk di tepian kaki ranjang, menatap ke arah luar, ke seberang jalan dimana satu keluarga sedang bermain-main di halaman rumah mereka. Si Ibu sedang menuntun anaknya yang sedang belajar berjalan, masing-masing tangannya memegang tangan si Anak yang merentang, bersusah payah melangkah di depannya. Sedangkan si Ayah tengah terpaku beberapa meter di depan mereka, membungkuk sambil memegang lutut, dia berperan sebagai garis finis bagi anaknya, harap-harap cemas dia menyaksikan kemampuan buah hatinya tersebut. Wajahnya tampak tegang, meski begitu ia masih sempat menunjukkan senyum, senyum yang canggung sebab diliputi kekhawatiran, serta perasaan bangga dan senang dalam waktu bersamaan. Bangga dan senang dengan kemampuan anaknya yang semakin lancar melangkah, sekaligus khawatir dan takut akan si buah hati yang suatu waktu jatuh dan terluka.
Kini, hati Mariyam kembali terasa sesak, "Andai…," ucapnya di dalam hati. Matanya yang sembab dan bengkak, ia kedipkan dengan susah payah seolah otot-otot di kelopak matanya sudah aus karena telah dia pergunakan untuk menangis selama berbulan-bulan.
Telah lama ia menangisi kepergian buah hatinya—barangkali hampir dua bulan atau tiga bulan. Si buah hati yang dimaksud adalah anak pertamanya, yang selalu ditunggu-tunggu kehadirannya, yang selalu berlimpah doa, malang, si buah hati telah pergi, meninggalkan dunia tanpa sempat membuka mata.
Suara ketukan terdengar dari pintu kamar yang setengah terbuka, Nenek Piyah sedang berdiri di ambang pintu.
Wanita tua itu adalah ibu dari ayah mertuanya, nenek dari suaminya. Usianya sangatlah panjang, tahun ini ia akan berumur 75. Seluruh rambutnya sudah memutih. Kulitnya pucat dan berkeriput dengan noda-noda kecoklatan di sekitar wajahnya. Pipinya bergelambir menandakan tak ada lagi otot-otot yang menjadi penyangga. Kedua tangannya sedang memegang mangkuk plastik-hijau, di dalam mangkuk itu terdapat sajian bubur kacang ijo. Masih hangat, uap panasnya membubung di hadapan wajah wanita tua itu. Di belakang punggungnya adalah ruangan yang dipergunakan sebagai ruang tamu. Sebuah meja dan empat buah kursi rotan yang saling berhadapan tersusun rapi di tengah-tengah ruangan. Pada dinding samping rumah terdapat dua jendela kecil yang saling berjarak untuk sirkulasi udara. Sedang pada dinding depan dipasangi jendela kaca, hanya dibuka ketika hari besar, satu set mesin jahit diletakkan di belakangnya. Seluruh bangunan rumah berbahan papan-balok.
Mariyam hanya menatap sebentar ke arah sumber suara sebelum akhirnya memalingkan muka ke tempat semula. Kini, keluarga kecil itu, yang dipandanginya sedari tadi telah berada di depan pintu, bersiap-siap untuk memasuki rumah mereka. Mengingat hari yang sudah sore, kemungkinan si Anak harus segera dimandikan.
Wanita tua itu berjalan menghampiri Mariyam, meski usianya sudah bisa dikatakan sepuh, tak terlalu keliatan dari cara dia berjalan. Ia tak tertatih-tatih, langkahnya mantap, meski tak selihai ketika ia masih muda. Ia berdiri di samping Mariyam, menatap sejenak dengan perasaan yang mengibakan. Hati wanita tua itu tergerus. Dipandanginya wajah Mariyam. Nampak baginya kalau aliran darah sepertinya tak sampai ke ubun-ubun ibu muda yang malang itu, kulit wajah Mariyam pucat, pun dengan bibirnya, matanya membengkak hampir sebesar bola pingpong.