Mariyam dan Ali

Azrai Putra Barumun Daulay
Chapter #2

Bab 2

Tahun 1994

Langit tampak cerah, berwarna biru layaknya samudera yang luas. Hiasan awan-awan putih yang saling berpilin membentuk gumpalan layaknya sebuah bantal mewah ikut meramaikan keindahannya. Sesekali burung-burung terbang melintas di sana, kadang hanya sepasang, kadang mereka ramai dengan bentuk seperti pesawat tempur. Entah kemana tujuan si hewan bersayap. Barangkali mencari tempat peraduan baru atau mungkin pulang ke rumah setelah seharian lelah berburu. Angin berhembus silih berganti membuat atap-atap ilalang berdesir, sesekali tiang-tiang pondasi pondok bergemeretak menahan dingin. Hamparan padi yang mulai menguning berayun-ayun ketika angin berhembus. Luasnya tak terkira, sejauh mata memandang yang engkau dapati hanyalah gemerlap hijau kekuningan dari pucuk padi yang mulai menua.

Di bawah pondok beratap ilalang itu, Mariyam sedang sibuk menanak air panas yang akan dipergunakan oleh kedua orangtuanya untuk menyeduh teh dan kopi. Sanggul dari parompa1 yang ia kenakan untuk menutupi rambutnya nampak megah layaknya atap Bagas Godang2. Kulit wajahnya kemerahan akibat panas dari bara api, samar telihat titik kecil di kedua ujung garis mulutnya. Hidung jambunya bercoreng hitam sebab tak awas dengan jemari yang baru memegang arang. Matanya yang sipit berkaca-kaca menahan pedihnya asap yang membubung dari perapian.

Sudah setahun lebih ia menetap di desa ini. Ia pulang ke kampung halamannya setelah menyelesaikan sekolah keguruannya yang berlokasi di pusat kota. Rutin dia mengikuti ujian pegawai negeri yang diadakan pemerintah, namun sampai sekarang dia belum juga berhasil. Maka dari itu ia memutuskan untuk sementara waktu akan membantu kedua orangtuanya bertani.

Ayahnya sedang sibuk di tengah-tengah pematang sawah, dikelilingi oleh hamparan tanaman padi. Dengan postur tubuhnya yang besar bak babon, pontang panting ia mengusir penyusup-penyusup kecil yang mencoba mencuri padi-padi yang sudah dirawatnya sepenuh hati. Sambil menarik dan menghentakkan tali panjang dengan hiasan kaleng-kaleng kosong yang membentang dan berpencar hingga ke tepian sawah layaknya jaring laba-laba, ia akan berteriak dengan keras, "HUSSSHHHHEHHH…. HUESSSHHSHSHEEEHH…" Suaranya nyaring, menggema ke seluruh penjuru pematang sawah, bercampur dengan suara gemerincing yang ditimbulkan dari kaleng-kaleng yang saling beradu. Sontak para perampok, sekelompok burung pipit, akan terkejut, lalu mereka akan melarikan diri beramai-ramai. Lelaki paruh baya itu akan melakukannya berulang kali sampai dapat dipastikan tidak ada perampok yang tersisa. Lepas dari situ, dia akan berpindah ke sisi yang lain, melakukan hal yang sama, meneriakkan hal yang sama, dan membuat kaget perampok dari jenis yang sama.

Ibu Mariyam tidak kelihatan batang hidungnya, barangkali sedang menunduk-nunduk membersihkan saluran irigasi.

Lantunan suara adzan berkumandang dari masjid desa. Lembut berirama, merayap memasuki gendang telinga Mariyam. Suara yang belum pernah didengar olehnya. Suara yang membuatnya bertanya-tanya, siapakah gerangan itu? Siapakah muadzin3 itu?

Adzan itu—adzan ashar—adalah alarm pulangnya. Ia akan pulang lebih awal dibanding kedua orangtuanya sebab ia perlu menanak nasi sesampainya di rumah untuk santapan malam mereka. Tidak ada yang bisa mewakili pekerjaan tersebut, sebab hanya dia seorang dari anak-anak orangtuanya yang masih tinggal dengan mereka, sedang kakak-kakak dan adiknya sudah menikah dan punya rumah sendiri-sendiri.

Perapian yang ada di bawah pondok sudah padam sedari tadi. Memang baranya masih panas, namun tak sampai mengeringkan air di dalam panci. Ia bereskan seluruh perlengkapannya, lalu berteriak ke arah ayahnya untuk meminta undur diri. Ayahnya akan membalas dengan mengangguk kuat, dan jika dilihat dari pondok hanyalah gerakan samar semata.

Tak disangka-sangka, malamnya selepas solat magrib, seorang pria muda yang ternyata adalah si Muadzin, beserta keluarganya berkunjung ke rumah, meminta izin untuk meminangnya. Si Muadzin duduk di antara kedua orangtuanya, pandangannya tertunduk menatap lantai. Satu tangannya bengkok—kata orang-orang sekitar, patah karena terjatuh ketika memanjat pohon kelapa. Hati pria peminang itu gundah, takut lamarannya ditolak.

"Bagaimana Mar?" tanya ayah Mariyam. "Anak lelaki ini menginginkanmu untuk menjadi istrinya, apakah kau bersedia Mar?"

Mariyam yang berada di dalam kamar, yang sedari tadi duduk bersandar pada dinding dengan kedua tangan memegang lutut, hanya menyeringai, tak ada suara. Kala dulu, diamnya wanita ketika dipinang adalah tanda bahwa wanita itu bersedia. Maka disepakati pernikahan mereka akan diadakan beberapa bulan mendatang.

Ali-lah pria itu. Alilah yang datang meminangnya. Perawakannya tidak tampan, biasa-biasa saja. Tinggi badannya sepantaran dengan Mariyam. Kulitnya sawo matang. Wajahnya tirus hingga terlihat tulang pipi. Gigi depannya kuning kehitaman karena kecanduan merokok. Rambutnya hitam, dipotong pendek—agak meliuk di sekitaran jidatnya.

Mariyam sudah kenal lama dengannya, namun ia masih tidak menyangka bahwa lantunan adzan yang begitu syahdu yang terdengar di pematang sawah sore tadi adalah suara milik lelaki di ruang tamu. Dari yang Mariyam tau dan kadang ia sendiri melihatnya, pria ini adalah sosok pekerja keras. Sudah bekerja ketika ia masih umur belasan.

 

***


Iringan musik dari gondang (gendang) yang ditabuh, serta seruling yang ditiup lembut memeriahkan Desa Majua-jua, kampung halaman Mariyam, sejak pagi tadi. Aroma nasi panas, kuah gulai, sambal goreng, membubung dan menguasai udara di desa tersebut, sedap tercium, membikin lapar perut. Anak-anak kecil berlari kejar-kejaran, mereka antusias mengikuti acara. Para penjaja makanan juga turut hadir. Tidak lupa para penjual balon. Tepat hari ini pesta pernikahan Mariyam dan Ali diselenggarakan. Pesta pernikahan itu diadakan dengan meriah, lengkap dengan tari tor-tor4. Ramai orang berbondong-bondong datang. Sebagian ingin melihat pasangan pengantin, sebagiannya lagi ingin menyaksikan tarian tor-tor dan pertunjukan musik gordang sambilan5.

Onang-onang6 dilantunkan sebagai tanda bahwa pengantin akan memasuki singgasana pengantin. Dua pasang penari dengan pakaian yang dibungkus ulos sadum dalam dominasi warna merah dan hitam sudah berbaris—penari pria berada dibaris depan—untuk menyambut mereka berdua. Untuk penari wanita, dua helai ulos akan dikalungkan ke bagian depan tubuh sehingga akan terlihat menyilang, lalu disangga dengan bobat (sabuk merah) yang melingkar di bawah dada. Sedangkan untuk penari pria, sehelai ulos hanya akan digantungkan di atas tengkuk, lantas kain akan dibiarkan menjuntai di depan badan, tanpa penyangga bobat. Penari wanita dilengkapi dengan perhiasan serba keemasan, mulai dari puntu (gelang emas) yang dikenakan di lengan atas, kalung yang bentuknya menyerupai tapak kuda, hingga bulang7 yang digunakan sebagai mahkota. Untuk penari pria pula, dilengkapi dengan kain sesamping—songket—yang dililitkan di bagian pinggang hingga ampu8 sebagai mahkota mereka.

Begitu pengantin dan kedua orangtua pengantin memasuki pelataran, serentak para penari memulai penyambutannya, memulai tari tor-tor pernikahan. Gerakannya tidaklah terlalu rumit. Gerakan diawali dengan penari yang bergerak maju dan mundur menghadap pelaminan, selangkah demi selangkah dengan anggun, tak lupa kedua tangan mereka sedikit meregang dari bagian tubuh. Lalu para penari mulai melakukan gerakan manortor dengan cara kedua tangan penari wanita akan naik turun di sekitaran perut mereka, sambil jari tengah dan jari kelingking di masing-masing tangan bergerak naik turun dengan sedikit hentakan. Untuk penari pria pun hampir sama, bedanya lengan mereka terangkat sampai sejajar dengan kepala, naik turun. Di sela-selanya, penari pria akan mengelilingi penari wanita yang sedang berjongkok—masih sambil manortor. Gerakan ditutup dengan keempat penari yang berjalan membentuk lingkaran sambil kepala miring ke kanan—masih sambil manortor. Hingga ketika pengantin hendak melewati mereka, para penari akan keluar dari barisan, memberi jalan kepada kedua pengantin dan keluarga pengiring, lalu penari akan mengikuti dari balik punggung keluarga pengiring, mengantarkan mereka ke panggung pelaminan.

Mariyam tampak cantik, ia adalah yang paling cantik hari itu. Wajahnya berseri-seri. Alisnya hitam mengkilap. Bibirnya dilapisi gincu merah darah. Baju kurungnya berwarna merah dengan ulos hitam berbordir merah yang menyilang di bagian dadanya. Bobatnya berwarna emas. Perhiasannya juga serba keemasan mulai dari puntu, kalung, bulang dan tambahan jagar—tusuk sanggul—emas di balik sanggulnya.

Ali juga tak mau kalah. Ia tampak gagah. Kumis dan brewoknya ia cukur rapi. Rambutnya disemir mengkilap. Kemejanya nampak baru dengan ulos berwarna senada dengan Mariyam menyampir di pundaknya, dan tambahan kain sesamping berwarna keemasan yang dililitkan dipinggangnya.

Pelan mereka berjalan ke pelaminan. Mata keduanya mengawasi sekeliling. Tampak bagi mereka, orang-orang yang hadir bersuka cita. Ada yang menitikkan air mata bahagia. Ada yang tersenyum haru. Duduk keduanya di kursi pelaminan berwarna putih mengilau, menghadap ke arah para tamu undangan. Tak lama, acara salam-salaman dan selamatan pun dimulai.

Tamu undangan pun berbaris rapi, bersiap-siap menyalami, sambil mendoakan. Diantara barisan, sahabat Mariyam turut serta, Saudah namanya. "Mariyam, kudoakan semoga rumah tanggamu dalam keadaan berbahagia selalu," ucap wanita itu, yang dibalas dengan senyuman dan ucapan terima kasih oleh Mariyam. "Doakan aku Mar! Supaya aku segera menyusul," ucap sahabatnya mengakhiri sebelum akhirnya beranjak dari antrian.

Pesta pernikahan itu ditutup dengan iringan lagu rere ma na rere9, bersamaan dengan pasangan pengantin yang menyalami satu per satu keluarga besar yang turut hadir saat itu. Setelah itu pasangan pengantin beserta keluarga pengantin pria meninggalkan lokasi pesta menuju ke kediaman pengantin pria. Lagu terus diputar berulang-ulang hingga sosok mereka menghilang di kejauhan. Yang tersisa di acara pesta itu adalah tangis haru dari Ibu Mariyam. Berat hatinya untuk melepas, namun kadung "sah" dan tidak bisa berbuat apa-apa.

 

***

 

Beberapa bulan setelah pernikahannya, Mariyam mulai terbiasa dengan rutinitasnya sebagai istri dan menantu. Ia akan bangun pagi-pagi sekali, sebelum adzan subuh berkumandang. Ia akan terlebih dahulu menimba air di sumur umum yang terletak di belakang surau, menyusuri jalanan yang masih gelap gulita dengan jarak beberapa kilometer, lalu kembali lagi ke rumah dan mulai memenuhi gentong yang telah diletakkan di depan pintu dapur. Biasanya, ia perlu tiga kali bolak-balik agar gentong itu terisi penuh. Air di dalam gentong itu nantinya akan digunakan untuk keperluan memasak, memanaskan air minum, dan mencuci piring. Keluarga mertua tidak punya sumur, apalagi kamar mandi. Jadi, untuk kegiatan mandi dan kakus semuanya harus dihantarkan ke kamar mandi di belakang surau tersebut. Setelah memenuhi gentong, pekerjaannya akan dijeda untuk melaksanakan solat subuh, baru setelahnya ia mulai memanaskan tungku, menanak nasi dan memanaskan air, memasak lauk, lalu mencuci piring. Siangnya, ia sibuk mencari kutu dengan salah satu adik suaminya.

Ia bangkit dari duduk tahiyatnya, melipat sejadah dan mukena, kemudian menggantungnya pada temali yang melintang di belakang daun pintu. Ia beranjak ke dapur, bersiap-siap untuk pekerjaan berikutnya. Ali masih terlelap dalam tidurnya, posisinya miring ke kiri, meringkuk dalam selimut yang setengah helainya telah jatuh ke lantai.

Lihat selengkapnya