Mariyam dan Ali

Azrai Putra Barumun Daulay
Chapter #3

Bab 3

Memasuki bulan keempat pernikahan, Mariyam hamil. Ia tersadar di suatu pagi ketika sedang merapikan lemari pakaian, bungkusan pembalut tergeletak rapi di sudut laci lemari, tak tersentuh entah sudah berapa lama. Ia teringat pada jadwal menstruasinya yang entah berapa bulan telah terlewat. Pikirannya selintas menyinggung soal kemungkinan ia sedang mengandung, namun buru-buru ia membuang jauh pikiran tersebut sebab selama ini Mariyam memang mempunyai jadwal menstruasi yang tidak teratur.

Di sore harinya, Mariyam yang sedang menunggu Ali pulang, duduk ditemani salah satu dari si kembar di teras rumah. Begitu asyik mereka berdua. Mariyam sedang asyik mencari kutu di atas kepala si anak, di antara helaian-helain rambut ikal berwarna merah jagung kepunyaan si kembar. Sementara anak yang dimaksud sedang asyik pula dengan ceracaunya, bertanya ini dan itu, bercerita kejadian barusan dan kejadian dulu, mulutnya tak berhenti mengoceh, begitupula kepalanya yang tak berhenti berayun, sebentar-sebentar menoleh ke kanan, sebentar-sebentar menoleh ke kiri.

Mariyam tak terlalu mendengarkan ocehannya, fokusnya tertuju pada kutu-kutu yang tiada habis. Hingga di suatu momen, ia menemukan lawan yang seimbang. Seekor anak kutu yang ukurannya tidak lebih dari setitik tinta pulpen di atas kertas, muncul menantangnya. Seluruh perhatiannya ditujukan kepada si kecil penantang itu. Dengan tekad yang besar, ia menjelajah tiap helain rambut, menyibak satu helai demi satu helai untuk mencari keberadaan si Penantang. Namun yang dicari tak kalah sengit, seakan tau hidupnya akan berakhir jika tertangkap oleh jemari Mariyam, dengan lihai ia berlari dan bersembunyi, menghindar dan melompat dari satu helai ke helai yang lain. Pertarungan hebat itu, yang dilangsungkan di arena kepala salah satu si kembar, berlangsung selama beberapa menit dengan hasil akhir berupa kekalahan di pihak Mariyam. Tiba-tiba saja perasaan sedih menguasai dirinya. Hatinya terenyuh dan matanya basah karena seekor kutu yang berhasil lolos dari kejarannya. Ia bangkit dari duduknya, mendorong lembut tubuh anak di pangkuannya agar menjauh, ia ingin bersembunyi di dalam kamar.

Namun, di langkah pertamanya, seketika ia merasakan perutnya terguncang, seolah usus dan segala isiannya hendak melompat keluar melewati kerongkongannya. Dengan cepat ia berbalik, tergopoh-gopoh memutari halaman depan menuju pohon kelapa yang tumbuh tak jauh di samping rumah. Mulutnya mengatup rapat, pipinya mengembung, penuh entah oleh apa. Tangan kanannya bersiap di depan mulutnya untuk menangkap segala sesuatu yang akan menyembur keluar dari sana agar tak tercecer kemana-mana. Tangan kirinya menekan perut, berharap goncangannya akan mereda.

Sampai di bawah pohon kelapa, mulutnya yang semula mengatup rapat, ia buka selebar-lebarnya bak bendungan yang dibuka ketika musim penghujan. Sambil menutup mata, ia membayangkan segala isian yang memenuhi mulutnya akan tumpah dan membanjiri akar pohon kelapa itu. Namun, begitu ia membuka mata dengan perlahan, tak ada apapun yang melompat keluar, hanya siulan angin. Heran dia karenanya.

Sekali lagi rasa mual itu menyerang. Sekali lagi pula hanya angin yang keluar. Empat kali ia ingin muntah dan berhuwek-uwek, barulah rasa mual di perutnya mereda.

Ia berbalik dan berencana membaringkan diri di kamarnya. Pandanganya tertuju pada Lini dan Lana yang berdiri mematung dengan wajah keduanya yang pucat pasi. Kedua anak kembar itu mengkhawatikan kondisi Mariyam. Mariyam memaksakan senyum tipis di wajahnya, berharap itu cukup untuk menenangkan kedua anak tersebut.

Alih-alih, si Kembar Dua tetap tak merespon, maka dengan suara yang lemah dan kering, Mariyam berkata, "Aku gakpapa Dik."

Barulah wajah keduanya tampak berwarna, semburat senyum mengembang dari wajah mungil mereka.

Mariyam berjalan melewati mereka, masuk ke kamar, lalu berbaring di atas ranjang. Ia pejamkan mata sambil berharap suaminya akan segera tiba. Kabar mengejutkan ini harus secepatnya ia sampaikan.

 

"Aku sepertinya hamil Bang," ucap Mariyam yang duduk di atas ranjang sambil memandangi suaminya yang sedang berkacak pinggang di depan cermin lemari.

Mata Ali membesar, seakan ragu dengan apa yang baru saja didengarnya, dia menoleh ke arah Mariyam, lalu menatapnya lamat-lamat. "Sungguh?"

Ada sedikit perasaan ragu yang menggerayangi Mariyam, sehingga ia tak berani menjawab dengan lantang. "Sepertinya Bang. Bisa kau belikan tespek untukku? Agar bisa kupastikan sendiri."

"Tentu Mar, akan kubelikan. Tunggulah!"

Alih-alih menuju Apotek, Ali malah mondar mandir di ruang tengah. Hatinya gundah, uangnya tak ada. Uangnya habis dan belum waktunya memanen getah. Ia bimbang. Ia ragu. Ia ingin meminjam uang ibunya tapi dia takut. Setengah jam ia berputar-putar di ruangan itu, berharap ibunya menyadari kegundahannya dan berinisiatif menanyakan keadaannya. Sayangnya, yang dimaksud tak kunjung peka.

Dengan sangat terpaksa dan berat hati ia menghampiri ibunya yang sedang berada di dapur. Ibunya baru saja memadamkan tungku perapian. Baru saja ia selesai memanaskan air minum, tak ada air panas di termos kala dia ingin menyeduh kopi. Tubuhnya yang ringkih terbongkok-bongkok untuk memercikkan air ke dalam tumpukan arang agar bara yang tersembunyi tak tiba-tiba menyembul dan membakar perapian dan seisi rumah.

"Mak…"

"Ada apa Mang?"

"Si Mariyam sepertinya hamil Mak. Aku ingin membeli tespek untuknya agar dia bisa memastikan kehamilannya dengan sebenar-benarnya. Hanya saja getahku belum lagi kupanen, jadi….," ucapan Ali tertahan.

Ibunya masih menunggu dalam diam, mimik wajahnya tak berubah sama sekali. Alis matanya bahkan tak naik sebagai tanda ia tak berminat.

"Kalau diperbolehkan, aku ingin meminjam uang simpananmu Mak."

Malang seribu malang, wajah ibunya berubah masam. "Agoii da Amang dah…. Agoiii da Amang," ucapnya melengking. "Dang hadong hepengku[1] Ali. Tak perlulah dia pake tespek-tespek segala macam. Kalau sudah muntah-muntah berarti sudah hamillah dia itu!"

Ali kembali ke dalam kamar, tangannya hampa, wajahnya tertunduk lesu ketika membuka pintu. Mariyam sedang mengusap tengkuknya, kiranya angin kembali menyerang tubuhnya.

"Maafkan aku Mar. Tespek itu belum jadi kubeli."

Mariyam hanya membalasnya dengan senyuman, ia sudah tau. Bagaimana tidak, suara lengkingan ibu mertuanya menggema di seluruh penjuru rumah.

"Besok kita beli Mar ya! Getah yang sudah kusadap beberapa hari ini akan kupanen lebih awal."

 

Sesuai janjinya, keesokan harinya, setelah getah ditimbang dan berbagi hasil dengan pemilik kebun, Ali langsung bergegas menuju apotek dan membeli tespek sesuai permintaan Mariyam. Sampai di rumah diserahkannya tespek itu kepada Mariyam, yang kemudian dibawa oleh sang istri menuju kamar mandi surau untuk melakukan uji kehamilan di sana.

Dengan penuh rasa syukur, Mariyam berterima kasih kepada Tuhan atas hasil tes yang bergaris dua.

Sepanjang jalan pulang, hati wanita muda itu bagai melayang. Wajahnya sumringah, senyum indah terus terpancar darinya. Langkah kakinya ringan, decit alas kaki yang beradu dengan tanah berpasir terdengar melengking. Orang-orang memandanginya dengan mata berbinar seakan mereka tau ada kabar gembira yang sedang dibawa pulang olehnya.

Menyebrangi jalan raya, Mariyam mendapati Nenek Piyah sedang melongo dari balik jendela samping. Tangannya yang kisut berpegangan erat pada bingkai jendela. Asap mengepul dari balik pundaknya, adalah asap rokok yang dihambuskan dari mulut suami wanita tua itu.

Sedari tadi Nenek Piyah sudah memperhatikan gerak gerik Mariyam. "Kau tampak cantik Mar. Senyummu begitu indah. Apa yang begitu membahagiakanmu kali ini?"

Mariyam tersipu, dia berkata dengan senyum lebar di ujung kalimatnya, "Terima kasih Opung." Berlalu dia meninggalkan wanita tua itu dengan pertanyaan yang tak dijawabnya. Sengaja ia tak menjawab pertanyaan itu, sebab ia ingin kabar bahagia yang sedang dibawanya harus terlebih dahulu diketahui oleh suaminya, ia ingin suaminyalah yang menjadi orang pertama yang mendengar kabar bahagia ini.

Di depan rumah, Ali nampak gelisah. Sebentar-sebentar ia berkacak pinggang, sebentar-sebentar ia menautkan kedua tangannya di balik punggungnya. Baginya waktu seakan lambat bergerak, derap langkah istrinya tak jua terdengar. Ia menanti dengan penuh harap. Hamilkah? Anginkah? Hamilkah? Pikirannya sibuk menerka-nerka.

Sosok istrinya mulai tampak melewati rumah Nenek Piyah. Rumah yang mereka tempati sekarang ini terletak di belakang rumah wanita tua itu. Kedua rumah tersebut dipisahkan oleh kandang ayam dan beberapa pohon pisang yang tumbuh berjejer layaknya pagar rumah, kandang dan pohon pisang itu adalah milik Nenek Piyah seorang. Jalan setapak di samping rumah wanita tua itu adalah jalan yang biasa mereka lewati apabila hendak ke jalan raya, maupun hendak ke surau. Dari jauh Ali bisa melihat senyum sumringah yang mengambang di wajah istrinya. Ali juga melihat langkah-langkah kakinya yang riang. Perlahan rasa sesak di dadanya menghilang seakan ia sudah tau kabar apa yang sedang dibawa oleh si Istri.

Si Suami tak tinggal diam, semakin dekat istrinya, semakin tergopoh dia menghampiri. Di hadapan istrinya, lelaki itu bertanya dengan tangan yang menengadah seperti memanjatkan doa, "Gimana Mar?"

Sejenak Mariyam membisu, ia terpesona dengan mimik wajah yang ditampilkan suaminya. Wajah yang penuh harap. Bola mata yang menyala-nyala. Dari dalam genggaman tangannya, ia angkat tespek dengan warna biru bergaris dua ke depan wajah lelaki di hadapannya. "Aku hamil Bang," ucapnya penuh haru. Seketika air mata mengucur dari pelipisnya, "Hamdalah Bang, aku hamil!"

Tak terasa, kedua mata Ali ikut berkaca-kaca, segera ia menengadah untuk menyembunyikan tangisnya sambil kedua tangannya lekas memeluk istrinya. Ia ciumi Mariyam; keningnya; rambutnya; telinganya. Sepasang suami-istri itu berpelukan dalam perasaan yang mengharu-biru. Pasangan muda itu berpelukan bersama cabang bayi diantara mereka.

Lekas Ali menuntun Mariyam menuju bangku panjang yang ada di depan rumah. Mendudukkannya dengan hati-hati seolah tak boleh terantuk sedikit pun. Selepas itu, dengan tarikan napas panjang, lelaki itu mulai memanggil-manggil ibunya, "Mak….. Mak…. Umak… Mariyam hamil Mak…"

Yang dipanggil tak menyahut, yang dipanggil membisu. Entah sedang dimana, entah sedang apa.

Kembali perhatian Ali tertuju pada Mariyam. Kembali lelaki itu menghujani istrinya dengan beribu pertanyaan. "Kau ngidam apa Mar? Biar kubelikan! Biar kucarikan! Sebut Mar! Sebut! Jangan risau! Ayo Mar! Sebut!"

Melihat tingkah berlebihan suaminya, Mariyam tergelitik perutnya. Ia menyeringai hingga menampakkan giginya yang rapi dan bersih. "Tak usah Bang. Aku tak kepengen apapun untuk saat ini."

 

Kini, setelah mengetahui ia sedang mengandung, maka mulailah Mariyam menjaga pola makannya. Ia mengurangi makan-makanan pedas serta mengurangi garam pada masakannya. Ia juga tak lagi terlalu memaksa dalam setiap pekerjaan rumah. Ia kerjakan semampunya. Ia sisakan pekerjaan hari ini untuk dikerjakan esok hari. Tak urus dia apabila mertuanya naik pitam.

 

***

 

Rosmita atau yang kerap disapa Ros oleh orang sekitarnya adalah anak dari seorang petani dari kampung sebelah. Persawahan ayahnya bisa dikatakan luas, cukup untuk menghidupi satu keluarga. Ros adalah anak satu-satunya. Bersama ayahnya hidup Ros terjamin kesenangannya. Makannya tercukupi dan kebutuhannya terpenuhi. Ia menikah pada usia yang amat belia. Dinikahkan kepada pemuda dari Desa Majua-jua yang sekarang ini masih menjadi suaminya.

Pernikahan yang ia anggap akan penuh dengan kesenangan, bahkan akan melampaui kesenangan tinggal bersama ayahnya, ternyata penuh dengan derita dan kemelaratan. Baru ia sadari beberapa hari setelah pesta pernikahannya, lelaki yang telah menjadi suaminya itu adalah seorang pemalas. Lebih banyak ongkang-ongkang kaki ketimbang bekerja. Lebih banyak menarik asap ketimbang mencari nafkah. Suaminya bekerja hanya ketika persediaan rumah sudah menipis.

Sepanjang pernikahan mereka tak sempat punya tabungan. Bahkan mas kawin yang ia kenakan di jari manisnya terjual untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga. Sudahlah suaminya pemalas, masih kikir pula. Betapa melaratnya jika hidup hanya bergantung pada uang pemberian suami. Telah banyak tumpah air matanya. Telah berulang kali keroncongan perutnya. Sayang nasib malang itu tak pernah meninggalkannya.

Dari pernikahannya itu ia melahirkan tujuh anak. Dan Ali adalah anak tertuanya. Hampir semua anaknya putus sekolah dengan alasan yang kita semua sudah ketahui. Ali tak melanjutkan sekolahnya di tingkat SLTP, kemudian oleh ayahnya ia disuruh bekerja. Ros yang mengetahui hal itu tak menentang sama sekali sebab di rumah itu hanya suaminyalah yang punya hak bersuara. Lebih-lebih, upah yang diperoleh anak tertuanya selama bekerja mampu menambal ekonomi rumah tangga mereka yang morat-marit. Hidup Ros sudah tak semelarat dulu pasca anak tertuanya membantu keuangan rumah tangga. Namun, ketika Mariyam datang dan menjadi menantunya, kemudian mulai mengatur keuangan anak tertuanya, dia mulai was-was. Sedikit demi sedikit gambaran kemelaratannya mulai hadir di angan dan mimpinya. Hari demi hari ketakutannya kian menjadi-jadi. Lambat-laun ia mulai menganggap Mariyam sebagai penggerus keuangan anak tertuanya, dan secara tidak langsung menggerus keuangannya juga.

 

Ketika mendengar Mariyam mengandung, Ros sebenarnya ikut bersuka-cita—bagaimana tidak? Sebentar lagi ia akan punya cucu—namun bersamaan itu pula tebersit bayangan jelas akan masa depan keluarganya, dan masa depan keluarga kecil anak tertuanya. Kebutuhan rumah tangga yang selama ini separuhnya ditopang oleh anak tertuanya itu, maka sepenuhnya tidak lagi. Anak tertuanya akan fokus mengurusi keluarga kecilnya dan meninggalkan ia dengan suaminya yang payah, beserta keenam anaknya yang tersisa.

Ia terbangun ketika mendengar nyanyian dari ayam-ayam ternaknya. Kain sarung yang ia kenakan sebelum tidur kini melilit tubuhnya tak karuan. Buru-buru ia perbaiki, kemudian beranjak dari atas tikar, berjalan ke dapur untuk mengerjakan rutinitas yang sempat ia hentikan. Menantunya sedang hamil, oleh sebab itu ia kembali dan ingin meringankan beban kerja si Menantu.

Di dapur, ia dapati Mariyam sedang menimba air ke dalam panci dari bak yang sudah dipenuhi sendiri oleh si Menantu juga. Wanita muda itu hendak memasak air minum. Kedua tungku belum juga dinyalakan. Maka dengan terhuyung, ia duduk di tepian kursi. Matanya masih berat dan tubuhnya masih menggigil karena hawa dingin.

"Kau sudah bangun Maen?" ucapnya dengan suara serak karena belum ada air yang masuk melalui tenggorokannya. "Apa yang bisa kubantu Maen?"

"Ehh Namboru sudah bangun," ucap Mariyam tersipu malu. "Tak usahlah Namboru, aku bisa sendiri."

"Agoii da Maenku. Ini dapurku Nang, jadi jangan kau larang-larang aku."

Mariyam terkekeh.

"Biar kubantu!" ucap Ros sembari berjalan menuju perapian.

Di sela-sela menumpuk kayu bakar dan melilitkan plastik pada salah satu batang kayu, ia berkata, "Mar… Kau kan sedang hamil, jadi kau harus sering-sering minum air kelapa muda biar anakmu terlahir cantik dan ganteng nantinya."

"Benarkah itu Namboru?"

"Agoii da Maenku. Ya benarlah! Kalau sudah dikatakan orang tua sudah benarlah itu. Tak mungkinlah aku berbohong samamu."

Lihat selengkapnya