"Kesinilah Mariyam! Aku ingin menyapa anakmu," ucap Nenek Piyah hangat.
"Iya, sebentar," pekik Mariyam yang berada di dalam kamar tidurnya. Kedua tangannya sedang sibuk menjalin kembali bagian-bagian yang robek di celana suaminya menggunakan jarum dan benang di genggaman. Ia duduk di tepian ranjang dengan wajah menghadap ke jalan raya, sesekali memandang pada apa yang melintas.
Dan ketika jahitannya usai, Mariyam melipat celana tersebut dan sementara waktu diletakkannya di atas ranjang. Ia berjalan ke arah ruang tamu.
Di ruangan itu, mesin jahit tampak mengkilap di belakang jendela kaca. Berbekal benda yang terbengkalai entah berapa lama itu, Mariyam kini membuka jasa menjahit, beberapa hari setelah mereka pindah ke rumah ini. Skill yang didapatnya ketika masih gadis. Usahanya terbilang laris, banyak yang menitipkan jahitan kepadanya. Namun tetap ia membatasi diri, ia hanya menerima orderan kecil-kecilan. Ia tak menerima orderan membuat gorden, meskipun ia bisa. Ia tak menerima orderan membuat gaun, meskipun ia bisa. Ia hanya menerima orderan celana sobek, baju sobek, celana kepanjangan, atau celana kedodoran, dan pekerjaan-pekerjaan yang semacam itu.
Sebenarnya ia agak kesusahan menggunakan mesin jahit itu. Perutnya yang besar membuat kursinya harus lebih berjarak dari meja agar aman dari benturan. Belum lagi badannya yang harus tetap tegak di dudukannya sehingga membuat kedua matanya harus kerja ekstra mengawasi arah lintasan jarum. Pedal di bawah kakinya terkadang juga tersendat-sendat karena telah lama tak digunakan sehingga membuatnya harus menghentak lebih kuat sekali dua kali.
Ia berjalan menghampiri Nenek Piyah yang tengah duduk di salah satu kursi. Tersenyum wanita tua itu melihat wajah Mariyam yang tampak lelah, matanya yang teduh mengawasi langkah kaki Mariyam.
"Duduk sini Mar," ucap Nenek Piyah sembari satu telapak tangannya menepuk-nepuk permukaan kursi di sebelahnya. Mariyam mengiyakan dan duduk di sebelahnya.
Tangan Nenek Piyah yang telah menipis kulitnya dan terlihat jelas urat nadinya, bergerak pelan dan mulai menjelajahi permukaan perut Mariyam. Wanita tua itu menutup mata, berharap merasakan sambutan dari si cabang bayi yang tinggal di sana. "Rasanya dia terus-terusan tidur tiap kali aku menyapanya Mar. Sombong sekali dia ya?"
Mariyam menyeringai, "Entahlah Opung. Sepertinya!"
Nenek Piyah meletakkan kembali tangannya di pangkuannya sendiri. Mulutnya yang tiada bergigi berkata, "Sudahkah kalian siapkan nama anak ini Mar?"
Senyum tersungging di wajah Mariyam. "Sudah Opung," ucapnya bersemangat. "Kalau dia lelaki maka namanya adalah Muhammad Qasim. Dan kalau dia perempuan maka namanya adalah Dinah Faizatun."
"Nama yang indah Mar. Aku semakin tak sabar menunggunya."
***
Keadaan sudah semakin jelas di hadapan Ali. Perut istrinya yang kian membesar adalah alarm buatnya untuk bekerja lebih keras lagi. Dia tidak lagi punya waktu senggang. Hari-harinya ia habiskan menyadap karet. Di waktu liburnya—tiga hari sekali pohon karet harus diistirahatkan—ia akan membabat rumput di kebun-kebun warga.
Ali tiba di rumah setelah melapor ke pemilik kebun dan membagi hasil panen dengan sang pemilik kebun dalam hitungan 70% banding 30%. Ali akan mengambil bagian paling besar. Adalah hal lumrah di desa tersebut—dan semestinya di pemukiman-pemukiman lain juga seperti itu—penyadap mendapatkan persenan lebih banyak. Si Suami menghampiri istrinya dan memberikan setengah pendapatannya. Kemudian sisanya akan ia serahkan kepada orangtuanya. Meski telah berpisah rumah, kewajiban itu akan tetap mengekang.
Kening Mariyam berkerut ketika menerima uang pemberian suaminya, sesaat pikirannya mengawang sebelum akhirnya ia berkata, "Ini hanya separohnya kan Bang?"
"Iya Mar. Sisanya untukku dan untuk mamakku."
Wajah Mariyam memelas, "Bang, kali ini Abang tak usah memberi nafkah kepada orang Namboru ya. Sebentar lagi anak dalam kandunganku ini akan lahir, banyak yang mesti kita persiapkan. Yang biaya persalinannyalah, yang kebutuhannyalah. Biar kusimpan duit itu Bang."
Seakan baru tersadar dari mimpi, Ali pun menyetujui saran si Istri dan menyerahkan sisa uang yang ada di saku celananya—tentunya dengan uang rokok yang telah disisihkan.
***
Udara malam berhembus dan menerpa kedua wajah yang tengah duduk di bangku panjang depan rumah. Bulan tampak megah di langit malam. Bentuknya bulat sempurna dengan awan-awan tipis bergerak di sekitarnya. Cahayanya bersinar terang, menghilangkan pekat, menampakkan kedamaian dan perasaan syahdu. Tanah berpasir yang ada di bawah telapak kaki mereka terlihat jelas terhampar, begitupula dengan bayang-bayang diri mereka yang tengah meringkuk di permukaannya. Nyanyian jangkrik menjadi musik pengiring malam itu.
Rosmita sedang bercakap-cakap dengan lelaki yang menjadi suaminya itu selepas adzan isya berkumandang. Tak lupa ciput putihnya ia kenakan di kepalanya sehingga menutupi seluruh rambutnya. Ciput itu telah lusuh dan warnanya pun telah kusam, ia kenakan untuk menghalau dinginnya malam.
Lelaki paruh baya yang sedang duduk di sampingnya, hanya mengenakan kaos dan sarung yang melilit pinggang. Asap rokok tak berhenti mengepul dari mulutnya. Sesekali ia terbatuk. Batuk yang terdengar kering dan nyaring.
"Kau tidak bisa ngopi lagi besok malam Bang. Bubuk kopi sudah habis,"ucap Rosmita.
"Kenapa tidak dibeli?"
"Uang belanjaan sudah habis Bang."
"Yang benar sajalah kau Ros. Masa sih sudah habis?" ucap si Lelaki meledak-ledak. Kepribadian yang tak pernah berubah semenjak dulu—gampang naik pitam.
"Sudah habis Bang," ucap Ros murung.