Masa kini (Tahun 1995)
Mangkuk di genggamannya telah kosong. Bubur yang baru saja ia santap sudah cukup untuk meregangkan lilitan di dalam perutnya. Mariyam menyerahkan mangkuk itu pada Nenek Piyah yang sedari tadi duduk di sebelahnya. Ia bangkit dari duduknya, kemudian berjalan menuju surau. Lengkap dengan handuk dan peralatan mandi. Ia ingin menyegarkan diri dan bersiap memulai kehidupan yang baru.
Seperti yang dikatakan wanita tua itu; Kehilangannya kali ini adalah takdir tuhan. Dan dia sudah cukup berlarut-larut dalam kesedihan. Dia harus melanjutkan hidup sebab setelah ini Tuhan akan melimpahkannya anak yang banyak. Anak-anak yang lucu. Anak-anak yang nantinya akan menjadi sumber bahagianya.
Selepas mandi dan berpakaian rapi—mengenakan gamis dan kerudung—Mariyam pergi mengunjungi makam anaknya.
Makam itu terletak beberapa meter di belakang rumah mertuanya, di bawah pohon kuweni yang besar dan rimbun. Bentuk makamnya kecil, tak lebih dari setengah meter. Nisan kayu ditancapkan di atasnya, bertuliskan, "Dinah Faizatun binti Ali." Tanah kuburannya tetap lembab sebab embun-embun dari dedaunan pohon membasuhnya setiap hari. Bunga taburnya masih segar, keliatan seperti baru saja ditabur.
Mariyam meringkuk di samping nisan. Memeluk tanah gundukan seolah memeluk tubuh anaknya. Tangannya menyapu ranting-ranting kecil yang jatuh di atas makam. Ia tak lagi menangis, hatinya tenang dan damai. Ia berkata seakan berbicara langsung di hadapan anaknya, "Dinah anakku, terima kasih telah singgah di hidup Mamak ya Nak. Mamak senang. Mamak bahagia mengandungmu selama sembilan bulan ini."
Tak terasa satu jam telah berlalu, dan ketika salah satu daun yang dihembuskan angin jatuh di atas kerudungnya, Mariyam memutuskan untuk pulang, ia melemparkan senyum lebar ke arah persemayaman anaknya sebelum akhirnya berlalu pergi.
***
Langit telah menghitam sejak setengah jam yang lalu, pertanda hujan yang deras akan segera turun. Ali yang tak bisa kabur dari langit hitam itu harus segera memberikan cuka-asam pada mangkok-mangkok karet yang batang pohonnya baru saja disadap. Kalau tidak dilakukan, maka getah yang baru menetes di dalam mangkok dan belum mengental akan hanyut terbawa air hujan, dan sia-sialah pekerjaannya hari itu.
Masih ada dua batang lagi yang tersisa, dengan tergopoh-gopoh ia berjalan sambil membawa ember hitam berisi larutan cuka. dua sampai tiga perasan untuk setiap mangkok, yang diperas adalah plastik asongan, direndam terlebih dahulu di dalam larutan cuka. Setengah berlari ia menggapai batang yang terakhir. Dan ketika telah selesai pekerjaannya, ia kembali ke pondok peristirahatan. Pondok yang ia bangun dari kumpulan batang-batang kayu bekas dan lapuk.
Sebatang rokok diambilnya dari kotak pembungkus, mengapitnya di antara jari telunjuk dan jari tengahnya. Api dinyalakan sesaat pangkal rokok itu menyentuh mulutnya.
Tiap tarikan terasa dalam dan berat. Tiap hembusan terasa lepas dan bebas. Wajah istrinya yang murung dan penuh tangis terlintas di pikirannya. Seketika membuat hatinya terasa nyeri, dan kesedihan menghampirinya. Ia beranjak dari duduknya setelah menghabiskan satu batang rokok, dan hendak pulang ke rumah, dimana istrinya yang penuh duka berada.
Ali yang baru saja tiba dan sedang merapikan peralatan dan perkakasnya, mendengar suara yang tak asing buatnya dan suara yang telah lama ia rindukan. Adalah Mariyam tengah memanggilnya.
"Kau sudah pulang Bang? Mau kubuatkan Kopi?"
Ali mematung sesaat. Pikirannya bertanya-tanya apa yang sedang terjadi. Apakah istrinya sudah membaik? Apakah istrinya sudah berhasil mengatasi kesedihannya? Apakah istrinya sudah siap melanjutkan hidupnya?
Ali bergegas masuk. Di ruang tamu ia melangkah pelan dan hati-hati seolah tak siap menerima kejutan. Jantungnya berdetak lebih kencang, hampir-hampir ia mendengar tiap detaknya. Di selasar yang menghubungkan dapur dan ruang tamu, ia mendapati istrinya sedang menanak nasi, berjongkok memunggunginya.
Derit lantai papan membuat Mariyam tersadar kalau suaminya telah berdiri di belakangnya. Mariyam menoleh, "Mau kopi ndak?"
"Bo-boleh," kata Ali dengan terbata-bata. Ia mengambil tempat duduk di bangku yang menghadap ke arah si Istri.
Semenit kemudian kopi dihidangkan di hadapannya. Tangan istrinya nampak kurus dan pucat, meski tak sepucat sebelumnya.