Mariyam dan Ali

Azrai Putra Barumun Daulay
Chapter #6

Bab 6

"Bue…. Bue da Amang bue… Campong ale campong. Camporong lampu dinding. Bue… bue… da Amang bue…" Senandung[1] Mariyam dengan merdu dan lembut tatkala sedang menidurkan si Kecil yang terbaring di dalam ayunan.

Ayunan itu dibuat dari selendang merah bermofit bunga mawar dan melati saling bertaut, digantungkan pada kayu balok yang melintang di langit-langit rumah. Ayunan itu diletakkan di tengah-tengah ruang tamu, sementara tatanan meja dan kursi yang sudah ada sebelumnya dipindahkan agak ke belakang dan mepet ke lemari dan dinding samping. Kedua ujung selendang itu diikat tali tambang, lalu tiap ujung tali disangkutkan pada kayu balok, dan membentuk letter "U" bila dipandang dari halaman depan.

Si Kecil tengah terbuai sebab suara lembut ibunya dan hembusan angin yang menerpa tubuhnya tiap kali ayunan itu hilir mudik, didorong lembut tangan si Ibu jua yang tiada lelah. Ia terlelap dalam kedamaian yang dalam. Tangan mungilnya meringkuk menutupi wajahnya, seakan malu jika ia ketahuan tertidur.

"Jadi siapa nama anak itu Mar? Sudah kau pikirkan?" tanya Nenek Piyah yang sedang mondar-mandir di balik punggung Mariyam.

Wanita tua itu sedang menata isi lemari dan memilah-milah pakaian yang layak dan tidak layak, serta pakaian yang ingin disimpan dan dibuang. Langkah kaki wanita tua itu terdengar kasar dan bergemerisik pada lantai rumah.

Mariyam tercenung sesaat. Senandungnya berhenti sejenak, namun tangannya tetap mengayun. "Nama?" Satu kata yang mengusik pikirannya. "Masih belum ada yang terpikir di kepalaku Opung."

"Ayolah Mar, orang-orang sudah menunggu lama. Mereka kesulitan memanggilnya."

"Panggil 'Ucok' saja sudah cukup lah Opung," jawab Mariyam cuek.

"Terlalu banyak 'Ucok' di kampung ini Mar. Cepatlah kau buat!" desak Nenek Piyah. "Atau kau mau kukasih usul?"

"Boleh-boleh saja Opung. Tapi nantilah, biar kupikir-pikir sendiri."

Meski sudah dipikirkannya masak-masak, tetap saja tak ada nama yang menarik bagi Mariyam untuk ia sematkan pada anaknya itu. Hingga sebulan dua bulan telah berlalu si Kecil tetap tak punya nama yang kukuh.

Suatu pagi, sepeda ontel yang dikendarai oleh seorang tukang pos berhenti di halaman rumah Nenek Piyah. Mariyam yang tengah menyusui si Kecil di dalam kamar mereka, menghentikan sejenak aktivitas tersebut untuk kemudian menghampiri lelaki itu. Dibawanya Si Kecil di dalam dekapannya. Mariyam mengernyitkan dahi, tak punya pencerahan atas kunjungan dari si Tukang Pos. "Ada apa Pak?"

Lantas si Tukang Pos mengubek-ubek isi tas selempangnya, mengambil sepucuk surat dari dalam tas tersebut, dibacanya dengan teliti nama penerima surat yang tersemat di bagian luar amplop, matanya sambil melirik ke arah wanita di hadapannya. Ia berkata, "Benar dengan Ibu Mariyam?"

Mariyam mengangguk.

Si Tukang Pos pun menyerahkan amplop berisi surat tersebut. Diterima dengan baik oleh Mariyam—kerutan di dahi ibu muda itu belum juga hilang, nampak sekilas olehnya amplop itu berstempel pemerintah daerah setempat. Si Tukang Pos mengucapkan terima kasih, kemudian berlalu pergi dengan mengendarai kembali sepeda ontelnya.

Kembali dibacai Mariyam dengan teliti stempel yang tersemat pada amplop tersebut, dan barulah ia menyadari kalau surat di dalam amplop itu adalah hasil ujian guru yang terakhir kali ia ikuti, yaitu sekitar sebulan atau dua bulan sebelum si Kecil brojol dari perutnya.

Buru-buru ia memasuki rumah dan langsung menuju kamar mereka. Ia letakkan si Kecil pelan-pelan di atas ranjang, anak itu menggeliat sesaat.

Dipandanginya amplop itu, jantungnya berdetak tak karuan. Disobeknya pelan lipatan amplop, jemarinya menarik selembar surat yang terlipat rapi di dalamnya, lalu merentangkan surat itu di depan muka, membacanya baris per baris dalam kekhidmatan dan kehati-hatian.

Ia terlonjak saat otaknya berhasil menyimpulkan isi dari keseluruhan surat tersebut. Mariyam dinyatakan lulus ujian guru dan diterima menjadi PNS. Ia melompat kegirangan, bersorak sorai seorang diri di dalam kamar tersebut, diciuminya si Kecil dalam penuh haru.

Tak lupa dia sujud syukur di atas lantai dan berterima kasih kepada Sang Pencipta. Senyumnya merekah dan secepat kilat sebuah nama terlintas di benaknya. Nama yang pas sekali untuk disematkan kepada anaknya. WAHYU. Selayaknya wahyu yang diturunkan kepada Rasulullah melalui perantara Malaikat Jibril, Mariyam pun punya pemikiran yang hampir sama terhadap anaknya. Anak yang baru lahir itu adalah wahyu baginya, kelahiran si Kecil ke dunia turut membawa hadiah kelulusan PNS untuk dirinya. Maka mulai hari itu, si Kecil yang tampan, ia berinama "Wahyu".

Tak sabar Mariyam menunggu suaminya pulang. Tak sabar ia ingin menyampaikan kabar bahagia itu. Tak henti-hentinya ia menatap jam dinding yang tergantung di selasar, berharap jarum jam itu melesat maju.

Yang ditunggu-tunggu tiba saat waktu magrib menjelang. Tergopoh-gopoh Mariyam menghampirinya di halaman depan. Lelaki yang menjadi suaminya itu sedang membereskan perlengkapan dan peralatan. Wajah Mariyam antusias. "Bang… Abang…," ucapnya.

Ali melongok heran, menebak-nebak apa gerangan yang membuat istrinya menjadi begitu bersemangat.

"Sudah tau aku nama anak kita Bang."

Seketika perkataan istrinya menarik perhatiannya, bola matanya membesar. "Oh ya? Siapa Mar?"

"Anak kita ini kita beri nama Wahyu."

"Wahyu?" ucapnya datar, kepalanya mengangguk seadanya, sebab tak terlalu menahu dia soal nama yang bagus atau tidak, baginya semua nama bagus. "Aku suka!"

"Dan juga… dan juga," ucap Mariyam tergesa-gesa. Ia mengeluarkan sepucuk surat yang sedari tadi disembunyikannya di balik pinggul, "Silahkan dibaca surat yang baru sampai ini Bang."

Ali mengambil surat itu dengan tatapan asing, kemudian merentangkannya di depan wajahnya dan membacanya tanpa bersuara.

"Kau lulus PNS Mar?" ucap lelaki itu dalam suara yang lantang.

Mariyam mengangguk, senyum tipis terpajang di wajahnya.

"Kau lulus jadi pegawai?"

Sekali lagi Mariyam mengangguk, kedua matanya berbinar-binar.

Dengan sigap Ali merengkuh tubuh Mariyam, dan keduanya pun berpelukan. Pasangan suami-istri itu berpelukan erat sambil sesekali melompat riang. Pasangan suami-istri itu bersorak sorai dalam limpahan kebahagiaan. Dan ketika adzan magrib berkumandang, barulah kedua orang itu melepaskan diri dari tautan satu sama lain. Meski begitu kedua tangan mereka masih salin menjalin, dan saling menatap dalam jarak yang tak lebih dari lima senti.

"Kau setuju kan Bang aku jadi pegawai?"

"Tentu!" ucap Ali sigap dan berapi-api.

"Kau tak apa kan Bang kita pergi dari kampung ini?"

Lihat selengkapnya