Mariyam dan Ali

Azrai Putra Barumun Daulay
Chapter #7

Bab 7

Malam sebelum berangkat, Mariyam beserta keluarga kecilnya menyempatkan diri mengunjungi rumah orangtuanya.

Mariyam dan Ali duduk bersebelahan di sebelah pintu, duduk di lantai dalam pandangan menghadap ke bagian dapur. Si Kecil tak mau tenang di pangkuan Ali, tangan mungilnya sibuk menjumputi benang yang terjuntai dari celana ayahnya. Sesekali kepala botaknya berputar, mencari keberadaan ibunya. Kadang pula ia berteriak kegirangan sambil mengadu kedua telapak tangannya ketika pandangnya tertuju pada sudut ruangan.

Sementara kedua orangtua Mariyam duduk di sisi yang lain. Dua gelas kopi disajikan untuk para lelaki. "Kalian sudah yakin dengan keputusan kalian?" tanya Ayah Mariyam sambil memandang tajam ke arah keduanya secara bergantian.

"Yakin Ayah," ucap keduanya bersamaan.

"Aku tak bisa melarang, kami hanya bisa mendoakan semoga kalian selamat sampai tujuan."

Kunjungan itu berakhir singkat, kurang dari satu jam. Mereka undur diri sebab Wahyu tak lagi kerasan, ia terus menangis dan meraung, entah karena apa.

 

***

 

Riweh dan riuh suasana di rumah Rosmita pagi itu. Semua keluarga berkumpul di ruang tamu. Masing-masing mengenakan pakaian terbaiknya seolah Hari Raya Idul Fitri sedang berkunjung ke rumah tersebut. Keempat anak termudanya duduk berhimpitan di pojok ruangan, tiga diantaranya asyik cekikikan dan bersenda-gurau, sedang salah satu dari si Kembar, Lini, hanya duduk tercenung, pikiran anak itu masih belum mampu mencerna apa yang sedang terjadi. Di sebelah keempat anak itu, berjejer rapi para paman dan bibi mereka, sepupu dan keponakan mereka, Rosmita dan suami. Dan di sebelah ambang pintu, duduk dalam satu barisan Nenek Piyah, dan keluarga kecil Mariyam. Sementara Jalil, anak nomor dua Rosmita, sedang berdiri menunggu bus di pinggir jalan, di depan rumah Nenek Piyah. Mereka yang hadir di rumah itu, yang dikatakan cukup usia, sibuk membahas suatu urusan, saling melempar tanya dan saling melempar jawaban, kadang kala tertawa mengenang masa silam, kadang pula mengernyitkan dahi sebab tak ingat dengan kejadian yang sedang melintas.

Jalil muncul di ambang pintu dengan napas tersengal-sengal, wajahnya basah oleh keringatnya sendiri, kedua kakinya blepotan oleh pasir-pasir yang memercik sepanjang dia berlari. Ia membuka mulut dan mengabarkan kalau bus telah terparkir di depan rumah Nenek Piyah.

Suasana yang semula riuh sempat hening sesaat sebelum digantikan dengan keriuhan yang lain. Serempak semua berdiri—kecuali anak-anak yang tak cukup umur, para orang dewasa berduyun-duyun menuju pintu keluar layaknya ditarik oleh sebuah magnet yang entah terselip dimana. Beberapa pasang mata mulai berkaca-kaca. Mariyam dan Ali mulai menyalami satu per satu kerabat yang hadir, meminta maaf dan meminta doa keselamatan. Tak terkecuali kepada Rosmita dan suami, seakan keempat orang itu tak pernah berseteru hebat, mereka tenggelam dalam kekhidmatan dan pelukan yang hangat.

 

***

 

Satu per satu barang bawaan mulai diangkut ke dalam bagasi bus. Bus yang terparkir itu tampak sangar, warnanya didominasi kuning. Goresan-goresan yang terpatri di sepanjang bodi adalah tanda kalau bus tersebut sudah berpengalaman. "SATU NUSA" adalah dua kata yang terpampang di tiap sisi bus. Dari balik jendela kaca bus, beberapa penumpang mengintip, penasaran dengan kesibukan yang terjadi di bagian luar bus.

Baru saja Mariyam menginjakkan kaki di anak tangga, hendak naik dan masuk ke dalam bus, siluet di ekor matanya agak mengusiknya, dan ketika menoleh, terperangah dia, perasaan haru menyusup ke dalam sanubarinya. Adalah Ayahnya yang sedang dipandangnya, lelaki paruh baya itu menuju ke arahnya, setengah berlari dengan napas yang memburu. Di kedua tangan lelaki itu tergantung barang bawaan, yang ketika dilihat dari dekat barang yang sedang dibawanya adalah sepasang ayam yang terkurung di dalam karung goni—lengkap dengan bolongan untuk saluran bernapas—dan sebuah tunas kelapa yang dibungkus dengan plastik hitam, menyembul ke luar pucuk dan pelepah mudanya.

Ayahnya berkata, "Mar, bawa ini! Kalian bisa beternak sesampainya di sana."

Mata Mariyam berkaca-kaca dan bibirnya bergetar menahan tangis. Ia memeluk erat Ayahnya untuk beberapa saat, lalu menerima pemberian itu dan meluncur ke dalam bus. Ia tak lupa mengucapkan perpisahan dan menitipkan salam untuk ibunya. Lelaki yang ditinggal hanya mengangguk, pura-pura kuat, pura-pura tabah.

Ali, beserta si Kecil Wahyu di dekapannya, telah duduk anteng di dalam bus ketika Mariyam menghampiri mereka dalam senyuman dan kedua tangan penuh oleh buah tangan.

Lihat selengkapnya