Mariyam dan Ali

Azrai Putra Barumun Daulay
Chapter #8

Bab 8

Suara adzan itu adalah tanda bahwa desa yang mereka tuju masihlah teramat jauh sebab suaranya hanya terdengar samar dan sepotong-sepotong. Gelap yang mulai menghampiri membuat semuanya tampak mengerikan. Pohon-pohon tumbuh tinggi menjulang, nyanyian jangkrik dan burung hantu tiada henti, kodok-kodok melantur di pinggiran sungai, adu tanding dengan air yang berkecipak dihembus angin, keluarga kecil itu serasa mendarat di tengah-tengah belantara.

Beruntung, sebuah pondok bambu di tepian parit, bersinar redup dan menjadi pelita harapan untuk mereka.

Mariyam dan Ali berjalan ke arah cahaya tersebut, dengan si Kecil Wahyu yang kini di dalam dekapan Mariyam. Untunglah anak itu tak rewel, sebab jika iya, tak taulah dot susu terselip dimana.

Ali membawa hampir seluruh barang bawaan, menyisakan satu tas di tangan Mariyam.

Dari dalam pondok, tergopoh-gopoh seorang bapak berkumis tebal dan berbadan janngkung menghampiri ketiganya. "Halo, sudah sampai bapak ibu? Saya Sabarudin, Kepala Desa di sini. Dengan Ibu Mariyam, kan?" ucap pria paruh baya itu dalam dialek yang sopan dan bahasa indonesia terpelajar.

Mariyam memberikan senyum canggung, tak menyangka kepala desa ternyata telah menunggu. "Iya, sa-ku Mariyam Pak." Tergelincir lidahnya kala menimbang harus menggunakan "Saya" atau "Aku" ketika berbicara dengan pria misterius tersebut.

"Baik, kalau begitu kita langsung saja ya!"

Dengan menggunakan dua sepeda motor yang terparkir di depan pondok bambu, pria itu dan rekannya mengantarkan Mariyam dan Ali. Mariyam bersama dengan si Kecil duduk diboncengan Bapak Kepala Desa, sedangkan Ali di sepeda motor satunya, beserta dengan barang bawaan yang menggunung. Barang bawaan itu diletakkan di depan supir, serta di antara tubuh kedua lelaki yang berboncengan itu, tak terkecuali karung ayam yang berkotekk lemah di genggaman Ali.

Kedua sepeda motor itu melaju di jalanan yang kasar dan berbatu, menembus rimba dan kegelapan malam, deru mesinnya menyamarkan nyanyian jangkrik dan burung hantu yang sedari tadi bersenandung. Tatkala sepeda motor itu telah melewati jembatan tua dengan sungai mengalir lambat di bawahnya, sontak pemandangan rimba itu berakhir diganti dengan pemandangan barisan pohon-pohon kelapa sawit yang tumbuh rendah, lengkap dengan pelepahnya yang menjulur-julur ke permukaan tanah.

"Saya itu ditugaskan Pak Camat buat menjemput sampean Bu Mariyam, jadi tak perlu khawatir," ucap Pria itu, suaranya bercampur dengan suara angin yang berhembus.

Tak begitu jelas di telinga Mariyam sehingga ia hanya mengangguk dan ber "he-em" saja.

"Setelah melewati kebun sawit ini, kita akan sampai di desa Bu Mariyam."

Kembali Mariyam hanya ber "he-em" saja.

 

Tibalah mereka di Desa N setelah melewati beberapa hektar kebun kelapa sawit. Rumah-rumah bergaya panggung dibangun di tepian parit di sepanjang hamparan tanah yang dilewati. Masih sangat jarang, hingga satu rumah dengan rumah yang lainnya terpisah dalam puluhan meter. Cahaya samar berwarna kemerahan berpendar dari lubang-lubang kecil di atas pintu dan jendela rumah-rumah—sama seperti di kampung asal Mariyam, aliran listrik belum juga masuk ke desa ini—tawa-kikik terdengar samar dari dalamnya.

Kengerian terasa menguap dari dalam diri Mariyam, digantikan dengan perasaan hangat dan damai yang entah darimana asalnya. Bintang gemintang bertaburan di langit dan cahaya bulan turut menyinari malam memberikan rona kekuning-kuningan pada pandangan mata yang lelah, entah dimana keberadaan mereka ketika Mariyam baru saja mendarat dari kapal. Atau memang Mariyam yang tak menyadari keindahan itu.

"Yang ini rumah saya Bu Mariyam," ucap Pria itu ketika melintasi rumah dengan pencahayaan yang terang benderang, bukan dengan lilin atau lampu cimporong, melainkan lampu listrik. Satu-satunya rumah yang mempunyai sumber listrik di desa itu berkat mesin genset yang terus meraung di halaman belakang.

Kedua sepeda motor itu berhenti di sebuah rumah yang berhadapan dengan bangunan sekolah. Rumah yang paling ujung dari deretan rumah yang berdiri, bersinggungan dengan hutan di sebelah kiri. Rumah panggung papan yang tampak kokoh, sepertinya baru selesai dibangun. Bentuk depannya terkesan biasa saja, hanya ada satu pintu dan tanpa jendela. Terdapat teras berukuran 2 X 10 meter yang telah dilengkapi dengan pagar pembatas. Motif pagarnya terlihat lumayan menarik, adalah dua bentuk hexagonal dalam satu ruasnya dengan bulatan kecil menjadi pemisah keduanya. Antar ruas diberi jarak satu jengkal. Bagian tengah teras—sejajar dengan pintu—dibuat area kosong sebagai sarana perlintasan. Satu lilin menyala di lantai, di area perlintasan, tepat di samping tiang pagar sebelah kanan. Di siang hari barulah terlihat kalau rumah tersebut dicat putih seutuhnya, meski telah kusam warnanya dan mengelupas di beberapa bagian.

"Sesuai perintah dari Bapak Camat, rumah inilah yang akan ditempati oleh Bapak dan Ibu sekalian."

Kedua sepeda motor itu kembali melaju setelah kunci diserahkan ke tangan Mariyam. Kini tinggallah mereka, dalam keheningan. Mariyam yang melangkah lebih dulu dan memasuki rumah setelah bersusah payah memasukkan anak kunci ke lubang kunci.

Bagian dalamnya sudah dibersihkan. Tak ada lampu, kecuali lilin yang dipindahkannya dari teras rumah. Sepasang kursi jati—polos tanpa ukiran—dan meja telah menyambut mereka di ruang tamu. Kalender tergantung di dinding rumah, lengkap dengan jam dinding di atasnya. Tidak ada selasar, bagian dapurnya langsung terhubung dengan ruang tamu. Sebuah kamar menyempil di sebelah kanan ruang tamu, satu-satunya kamar di rumah tersebut.

Karena pencahayaan yang kurang dan rasa letih yang merasuk, Mariyam dan Ali memutuskan untuk tidak berkemas malam itu dan akan melakukannya besok setelah matahari terbit.

Malam itu, mereka mengistirahatkan diri, tertidur pulas dalam pusaran mimpi dan angan.

 

***

           

Kesibukan telah terjadi sejak pagi baru saja menyingsing. Mariyam urak-urakan membongkar dan merapikan barang bawaan. Susunan perabotan yang semula diatur di sebuah tempat, ia pindahkan lagi ke tempat yang dirasa enak dipandang matanya. Tak terasa, ia telah menggeluti pekerjaan itu selama berjam-jam dan waktu telah menunjukkan pukul 09.00.

Ali sedang tak di rumah kala itu. Lelaki itu membawa si Kecil Wahyu berkeliling desa, membiarkan Mariyam berkemas sesuai dengan seleranya. Paling-paling, sebelum berangkat dia menyempatkan diri memberi makan dua ekor ayam yang masih terjebak di dalam karung goni, segenggam beras yang mereka bawa dari kampung halaman ditaburkannya ke hadapan mereka. Belum ada kandang yang bisa ditempati oleh kedua ayam malang tersebut, untuk sementara waktu mereka akan bernaung di bawah lindungan kolong rumah panggung.

 

"Assalamualaikum…"

Suara teriakan itu membuat Mariyam terhenti sejenak dari aktifitasnya, menunggu ia dalam diam, menajamkan telinga, ragu-ragu salam itu apakah diucapkan untuknya atau bukan.

Beberapa menit kemudian, salam itu kembali menggema, dan benarlah ada tetangga yang datang bertamu. Buru-buru ia membersihkan tangannya yang berdebu dan kotor. "Sebentar…," ucapnya sambil melangkah ke pintu.

Sesosok wanita dengan perawakan cantik dan sehelai handuk putih-kecil menutupi rambut seolah itu adalah pengganti kerudung tengah berdiri di teras rumah, pintu yang setengah terbuka menampakkan setengah senyum di wajah wanita itu. Umurnya masih 30-an, terlihat dari kulit wajahnya yang masih kencang. Hidungnya mancung dengan tahi lalat di pangkalnya. Bulu matanya lentik. Senyum ramah terpancar di wajahnya, kedua tangan bertaut di depan perutnya yang langsing, rantang menggantung di sela-sela jari.

Kening Mariyam berkerut, bertanya-tanya siapakah gerangan.

"Hal-lo" ucap Mariyam tersendat, "Ada perlu apa ya Bu?"

Lihat selengkapnya