Mariyam dan Ali

Azrai Putra Barumun Daulay
Chapter #9

Bab 9

Beberapa bulan sudah Mariyam menjalani profesi seorang guru. Tak banyak murid yang harus diajar, dan ruang kelas yang terdapat di sekolah itu pun baru sampai kelas 3 saja. Sekolah ini masih seumur jagung. Terlihat dari jumlah murid, dan bangunannya yang masih berdiri kokoh. Dindingnya terbuat dari papan pohon pinus, dicat dengan warna putih, seputih bulu angsa. Atapnya menggunakan asbes dan dicat menggunakan warna merah. Bangunan tersebut tampak selaras dengan bendera yang berkibar sepanjang hari di tengah lapangan sekolah. Tanah lapangnya sendiri ditumbuhi oleh rumput gajah dengan warna hijau merata. Nampak berkilau bila ditimpa sinar mentari siang.

Mariyam selalu tergelitik melihat tingkah muridnya. Pernah satu kali, ketika ruangan senyap dan tiap murid sedang fokus mengingat jenis huruf yang tercatat di papan tulis. Sementara Mariyam tengah bergumul dengan buku paket yang selalu ia bawa kemana pun, membolak-balik halaman demi halaman. Tiba-tiba aroma tahi bercampur dengan aroma pesing hinggap di hidungnya—terbawa oleh angin yang berhembus—bersamaan dengan suara melengking dari seorang anak di bangku belakang.

"BUUU MAHDI BERAK DI CELANA!!!!"

Sontak seisi kelas riuh, tawa menggema di seluruh ruangan. Si Anak tertuduh menanngis tersedu sedan. Mariyam tersenyum getir sebelum akhirnya menggiringnya ke kamar mandi, berdecak lidah dia di sela-sela langkah, antara geram dan gemas, lalu berkata, "Kenapa kau tak permisi saja Mahdi?"

Si Anak hanya membisu, berjalan terseret-seret sambil tangan mungilnya menahan gulungan baju sekuat tenaganya.

Tingkah mereka begitu beragam, selalu mengingatkannya kepada anaknya.

Jika ia sedang mengajar, maka Wahyu akan ia titipkan pada suaminya. Dari balik jendela kaca yang menghadap ke jalan, ia selalu melihat suami dan anaknya melintas, bapak-anak itu mondar-mandir hingga ke persimpangan. Asap tak berhenti mengepul dari mulut suaminya, tak peduli meski dia sedang menggendong si Anak, kadang ia berdecak geram karenanya.

Kini si Anak telah pandai berjalan, langkahnya lugas seolah tak sabar untuk berlari. Kulitnya kian kecoklatan, tak seputih diawal kelahirannya. Rambutnya lembut, berwarna hitam. Matanya bulat sempurna. Ia banyak tersenyum dan tertawa.

Jika waktu mengajarnya telah usai, Mariyam akan bercengkrama sejenak di kantin sekolah, bersama dengan Sulliha, Sabarudin—yang ternyata adalah Kepala Desa sekaligus Kepala Sekolah atau mungkin Kepala Sekolah sekaligus Kepala Desa—dan seorang guru lainnya.

Setelah lewat sepuluh menit, ia akan pamit undur diri dan berjalan tergesa-gesa menuju rumah. Di ambang pintu, ia akan disambut anaknya, dan hak asuh pun segera berpindah siang itu juga.

Ali akan berangkat ke ladang di belakang rumah selepas makan siang. Kali terakhir suaminya bercerita perihal kebun tersebut, kebun itu sudah ditanami dengan anakan sawit yang jumlahnya mencapai 40 batang.

Waktu panen masihlah lama, butuh waktu tiga tahun agar buahnya bisa dipetik. Perawatannya pun tak boleh asal-asalan, tiap enam bulan sekali harus diberi pupuk, dan tiap dua bulan sekali harus menyemprot gulma. Pohon manja, namun intaian para pejabat dan konglomerat yang ingin cepat kaya, tak peduli mau itu hutan lindung atau tanah adat. Indonesia surganya kebun kelapa sawit, berbanding terbalik dengan harga minyak gorengnya yang panas layaknya di neraka. Aneh bukan?

Selama masa itu, Ali tak punya pekerjaan lain, kebutuhan rumah tangga sepenuhnya ditanggung oleh Mariyam, lewat gaji guru yang ia peroleh tiap bulannya. Tiap tanggal 5, suaminya akan datang menghampirinya dengan wajah lugu dan senyum malu-malu, ia akan berkata, "Sudah gajian kan, Mar? Mulutku sudah pahit sejak pagi tadi."

Maka tanpa tedeng aling-aling, Mariyam akan menyerahkan beberapa lembar uang kepada suaminya itu, yang kemudian akan dibelanjakan oleh si Suami ke berbungkus-bungkus rokok untuk dirinya sendiri.

 

Ketika pohon sawit dirasa mampu berdikari dan perawatannya tak seinstensif seperti sebelumnya, Ali memutuskan untuk bekerja sebagai buruh babat rumput di kebun-kebun perusahaan. Ali akan berangkat setiap hari, dijemput oleh truck merah yang disediakan perusahaan. Awalnya ia ingin bekerja sebagai tukang panen buah, namun pohon yang tinggi menjulang dan harus menggunakan egrek untuk meruntuhkan buahnya membuat ia mengurungkan niat. Tangan kirinya yang bengkok membuat ia kesulitan untuk memegang gagang egrek dengan benar sehingga tenaga yang disalurkan pun tidak bisa maksimal.

Truck merah itu berhenti di persimpangan jalan. Dari dalam baknya mengintip beberapa pasang mata sebelum akhirnya beberapa pasang mata yang lain turut serta, lengkap dengan berpasang-pasang tangan yang mendaki. Para buruh di dalam bak berlomba-lomba untuk turun terlebih dahulu, pemandangan itu layaknya sekumpulan ayam yang dilepaskan dari kandangnya. Suara kelontang bercampur dengan sorak sorai pekerja menghiasi sore yang cerah itu.

Ali termasuk di antaranya. Pakaiannya lusuh dan compang-camping, wajahnya nampak blepotan dengan beberapa helai daun yang tertinggal di dagu dan kumis tipisnya. Meski begitu, hatinya tengah melambung tinggi. Di dalam sakunya, ia membawa beberapa lembar uang dari hasil jerih payahnya. Hari ini adalah hari gajian bagi para pekerja di kebun-kebun perusahaan.

Ia menyusuri jalan melintang yang mengarah ke barat, tepat dimana rumah mereka berdiri. Sinar kemerahan begitu menyilaukan mata, hingga ia harus menutupi wajahnya menggunakan salah satu telapak tangannya. Langkahnya ringan, tas berisi parang panjang dan botol minum yang disampirkan di bahunya terus berayun tiap kali ia berjalan. Pikirannya berandai-andai; dengan uang ini ia bisa membeli apa saja buat Mariyam.

"Mariyam….," teriaknya dari lantai teras, bertolak pinggang dengan beberapa lembar uang telah siap di tangan.

Mariyam muncul di hadapannya, terikut Wahyu di ambang pintu.

"Silahkan kau belikan apa yang kau mau Mar," ucapnya dengan nada congkak dalam niat bercanda, tangannya menjulur, hendak menyerahkan uang tersebut, telapak tangan Mariyam pun mendekat, namun entah gemetar yang tak sengaja atau angin yang tiba-tiba lewat, lembaran uang itu meleset dan jatuh ke lantai teras.

Adegan itu dipandang Mariyam sebagai penghinaan untuk dirinya. Ia yang selama ini memenuhi kebutuhan rumah tangga, tak pernah memperlakukan suaminya sehina itu. Hatinya mendidih, kepalanya tak berpikir dengan jernih. Ia berkata dalam suara mencibir, "Lagakmu dah Bang. Uang belum seberapa, sudah tega kau memperlakukanku seperti ini. Ambil balik uang itu! tak butuh aku duitmu."

Bola mata lelaki itu dirundung sedih. Belum sempat ia menjelaskan, Mariyam telah meninggalkannya di teras rumah, membawa si Anak di dekapan. Ia tanggalkan tas yang tersampir di bahunya, kemudian membalik tubuh dan kembali menyusuri jalan melintang yang baru saja ia lewati, kali ini ia menuju ke arah timur.

 

***

 

Warung kopi Mamah Ghufron tak pernah tanpa pengunjung—terkecuali di waktu dini hari dan di saat sedang tidak berjualan, minimal seorang lelaki akan duduk di pojokan dengan segelas kopi di hadapannya. Lelaki setia itu adalah Ramlan. Tubuhnya kurus dan ceking bak terserang tuberculosis, janggut keriting nan jarang tumbuh di bawah dagunya.

Ia dan Ali telah berteman baik sebab Ali sering mampir ke warung kopi tersebut setelah mengurus kebun sawit, dan tiap kali mampir, pria ceking itu selalu menghampirinya dengan sikap bersahabat. Dibanding dengan Sabarudin, Ali lebih nyaman dengannya karena latar belakang mereka yang hampir mirip. Mulai dari pendidikan, pekerjaan, etnis, dan kebiasaan nongkrong yang menjadi elemen utama.

Malam ini, pria ceking itu ditemani oleh Ali yang duduk di seberang meja. Pria ceking itu terusik dengan raut wajah yang ditampilkan Ali—kusut dan semrawut.

"Macam mau meledaklah kutengok kepalamu Laeku," ucapnya sambil memicingkan mata.

Ali tak menjawabnya, hanya berdecak lidah dan memutar tubuhnya hingga membelakangi pria itu, kini ia memandang air parit yang mengalir lancar di bawah warung tersebut.

"Kau kenapa Lae[1]? Bolehlah cerita sedikit!"

Kembali Ali memutar tubuhnya dengan gelisah, kali ini ia menghadap ke jalanan yang terhampar di depan warung.

"Ayolah!"

"Jadi gini Lae…," maka mulailah Ali menceritakan semua yang terjadi sore itu, dan yang mendengarkan memberi respon dengan berdehem sambil mengusap janggutnya.

Ia mengangguk dalam sebelum akhirnya angkat bicara, "Istri kalau sudah PNS memang seperti itu Lae, egonya sudah pastilah melambung tinggi. Kita apalah! Hanya buruh, tak sebanding dengan mereka. Belum lagi kalau ngomong soal gaji yang diterima, jauhhh sekali perbandingannya. Gaji kita ini hanya cukup untuk rokok dan kopi, paling-paling beras beberapa kilo." Ia berhenti sejenak untuk menyeruput gelas kopinya.

"Kukasih tau sama kau Lae, sangkin kecilnya uangmu itu, istrimu bahkan tidak tau kalau kau sama sekali tak mengasih. Jadi kau tak perlu repot-repotlah memberi. Mampu dia! Tak butuh dia uangmu."

Seolah terhipnotis dengan perkataan dari teman karibnya itu, ia pulang sambil menyimpan petuah tersebut di dalam benaknya.

Hening ketika ia sampai di rumah, istri dan anaknya tengah tertidur pulas di dalam kamar tatkala hatinya terketuk rindu, dan wajahnya mengintip dari balik daun pintu. Ia memutuskan untuk tidur di ruang tamu malam itu.

 

***

 

Adzan subuh membangunkannya dari tidur yang tak memuaskan. Hati Mariyam diselimuti rasa bersalah atas perkataan yang terlontar dari mulutnya sore itu. Entah setan apa yang merasukinya, ia tak tau. Makin-makin bersalah perasaannya tatkala mendapati suaminya tengah tidur dan meringkuk di ruang tamu.

Mariyam limbung diantara meminta maaf atau menunggu hingga rasa bersalah itu hilang sendirinya. Ia meninggalkan Ali dan membawa Wahyu bersamanya tatkala lonceng sekolah memanggil. Tak lupa ia menyediakan sarapan untuk sang suami, makanan diletakkannya di dalam tudung saji.

Ali terbangun karena pekikan dan tawa dari anak sekolahan yang tengah bermain di halaman rumah, area itu memang sering dipergunakan oleh anak-anak sekolah di jam istirahat mereka. Ia menyandarkan tubuhnya dengan malas. Sekejap kemudian, perkataan teman karibnya kembali merayap di pikirannya. Matanya menyala, lantas bangkit dan mulai mengamati keadaan rumahnya. Ia pergi ke dapur, memeriksa kaleng beras, minyak goreng, minyak tanah, ke rak piring, semua lengkap tanpa ada kekosongan. Ia kembali lagi ke kamar tidur, membuka lemari kecil berisi pakaian anaknya, bertumpuk-tumpuk pakaian dan popok tersimpan di sana. Ia pergi ke ruang tamu, menyapukan pandang ke seluruh penjuru, dan benarlah yang dikatakan karibnya, semua terpenuhi tanpa terkecuali, dan tanpa bantuan darinya.

Kini, ia berkecil hati, hatinya menciut bak buah anggur yang dijemur selama berhari-hari di terik siang. Gaji mungilnya tak sepatutnya bersanding dengan gaji istrinya. Gaji istrinya sudah lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga. Paling-paling, ia akan memberi jika sang istri beneran kepepet dan membutuhkan bantuannya. Yang mana itu pastilah jarang terjadi, pikirnya.

 

Keduanya belum juga bertegur sapa tatkala siang menjelang dan keduanya tengah berkutat di dalam rumah—Ali tidak bekerja hari itu, rasa malas menggerayanginya. Mariyam sibuk bermain dengan Wahyu, sementara Ali sibuk dengan pikirannya sendiri. Namun ketika hari sudah gelap dan angin malam mulai menghembuskan gigil, dan seolah rasa rindu menginisiasi, keduanya berdamai sesaat mata keduanya beradu pandang.

 

***

 

Setahun berlalu, Mariyam kembali mengandung untuk ketiga kalinya. Sebuah rutinitas yang tak lagi memberatkannya. Bedanya kali ini, ia lebih banyak makan dan banyak ngidam. Belikan ini, belikan itu, pengen ini, pengen itu, tiada berhenti mulutnya ingin mengunyah. Bahkan pernah ia meminta mengkudu sebab gambar buahnya terlintas di halaman buku pelajaran. Beruntung permintaan itu tak dituruti sebab masyarakat tau itu adalah buah yang tidak bisa dimakan.

Terduduk Mariyam di tengah ruang tamu, di hadapan tumpukan pakaian tercerai-berai. Ia baru saja membongkar satu tas besar berisi pakaian-pakain bekas yang sempat dikenakan Wahyu, rencananya pakain-pakaian bekas itu akan dipersiapkan untuk anaknya yang berikutnya. Sayang, beberapa helai pakaian sudah tidak layak pakai sehingga tebersit untuk membelikan yang baru.

Kini jemarinya menjelajah di dalam dompet coklatnya, tak banyak ia temukan sisa-sisa duit di dalamnya, baik yang terselip atau yang merentang sempurna. Tersentak ia pada kenyataan dan sekaligus heran dengan perangai suaminya yang tak memberi uang bulanan jika ia sendiri tidak meminta. Keningnya berkerut delapan memikirkan sejak kapan kebiasaan yang tidak elok ini bermula, dan ia tidak ingat sama sekali.

"Bang!!" pekik Mariyam kepada Ali yang tengah duduk di lantai teras, pinggiran bahu suaminya mengintip di ambang pintu.

Ali memalingkan wajah, matanya melirik seperti orang juling, "Ada apa Mar?"

"Beras kita sudah mau habis Bang! Uangku sudah menipis, aku butuh duit buat belanja keperluan."

Ali memutar tubuhnya sepenuhnya, kini ia menghadap Mariyam, terduduk di tengah-tengah ambang pintu. "Ehh Mar, kutengok perutmu sudah sangat besarlah, sepertinya sudah mau lahiran kan? Kau tak libur mengajar?"

"Sebentar lagi aku mau mengajukan cuti sih Bang."

"Bagaimana kalau kita pulang kampung Mar?" ucap Ali dengan senyum polos terpampang di wajahnya. "Di kampung bakal ada yang membantumu lahiran dan juga mengurusi Wahyu nantinya."

"Pulang Bang?" ucap Mariyam ragu, dahinya berkerut. "Dari mana makan kita kalau kita pulang? Kita tak punya simpananlah Bang."

"Tenang saja Mar, orangtuaku pasti membantu kok. Kita akan tinggal di sana nantinya."

Merasa itu ide yang baik dan percaya akan semua kemudahan yang ditawarkan suaminya, Mariyam pun menyetujui.

 

Lihat selengkapnya