Mariyam dan Ali

Azrai Putra Barumun Daulay
Chapter #10

Bab 10

Tahun 2002

Bang, kamu belum ngasih uang belanja bulan ini. Bang, susu anak kita habis. Bang, beras juga udah mau habis. Bang, kau kebanyakan merokok!

Masih pagi, tapi ubun-ubun Mariyam telah panas. Ia menggerutu tiada henti sambil menggendong putri mereka yang juga tak berhenti menangis. Benar, Mariyam telah melahirkan anak keempatnya yang sekaligus putri pertama mereka empat bulan yang lalu. Anak cantik itu berambut ikal dengan tanda lahir di lengan kanannya. Ia sematkan nama padanya, Mufida Prameswari, berharap anak itu akan tumbuh menjadi sosok wanita yang akan berkedudukan tinggi.

Anak perempuan itu lahir di Desa N, selepas magrib, di hari yang genting dan penuh orasi. Sempat Ali ingin memboyongnya ke Desa Majua pada bulan ke-8 kehamilannya, seperti yang ia lakukan dulu ketika ia mengandung anak ketiga mereka. Dengan alasan yang sama suaminya berkata, "Mar, kita pulang kampung saja yuk! Di sana kau akan diurus dengan baik, anak-anak kita pun nantinya ada yang mengawasi."

Berkerut kening Mariyam, Lupakah lelaki ini apa yang terjadi di masa silam? Tak ingatkah dia kalau ia sendiri harus pontang panting mencari tempat tinggal? Apanya yang diurus? Apanya yang diawasi?

Maka dengan tegas Mariyam menolak usul tersebut, dan lahirlah Mufida di dalam bilik Rumah Bidan Nur Aini, di tengah-tengah gaung unjuk rasa yang telah berlangsung selama berminggu-minggu di Desa N.

Anak-anaknya tumbuh sehat, tak terkecuali Wahyu dan Majua. Makan mereka terpenuhi, tubuh mereka terawat dengan baik. Hanya saja, merawat dan membesarkan tiga anak sangat menguras tenaganya. Hari-harinya habis untuk sekolah dan rumah, tiada lagi waktu bersantai, bahkan sekedar mengurus diri ia tak sempat. Kini, tubuhnya gembul, wajahnya berjerawat, daki di lehernya sedikit menumpuk, serta amarahnya gampang tersulut ketika kedua anak lelakinya bertingkah usil dan bandel.

Alih-alih membantu, suaminya lebih senang mengurus senar dan gagang pancing. Bagaimana ia tak naik pitam? Bagaimana ia tak menggerutu sedari pagi? Muak ia menatap suaminya yang tak tersentuh hatinya untuk meringankan bebannya.

"Masih pagi lho Mar," ucap Ali bergumam, dengan rokok yang tergantung di mulutnya.

"Kau tau masih pagi Bang, tapi kau sudah sibuk dengan pancingmu! Anak belum dikasih makan, beras udah mau habis, tapi kau! Sibuk dengan pancing memancing." Tersengal-sengal napas Mariyam setelahnya, namun amarahnya tak jua reda. "Bisa gak kau kurangi rokokmu itu! Muak aku setiap hari menghirup asapnya."

"Tak ada urusan dengan rokokku Mar," ucap Ali dengan malas, lantas menyimpan peralatan memancingnya, dan melangkahkan kakinya ke halaman rumah.

"Kau mau kemana?" pekik Mariyam.

"Aku mau ngopi sebentar," ucap Ali tanpa menoleh. Kebiasaan yang entah kapan bermulanya, tiap kali Mariyam berdebat dengannya, maka lelaki itu akan kabur.

Sebelum meninggalkan halaman, Ali menyempatkan diri mengelus salah satu kepala anaknya yang tengah bermain di dekat pohon jambu yang tumbuh di sudut halaman rumah.

Yang dielus hanya cuek, tanpa menoleh, anak lelaki itu terus bermain.

 

Lihat selengkapnya