Mariyam dan Ali

Azrai Putra Barumun Daulay
Chapter #11

Bab 11

Tahun 2004

Hari itu hawanya terasa asing, langit tak cerah dan juga tak gelap, angin berhembus namun tak terasa menentramkan, hewan-hewan peternakan bergerak gelisah dan tanpa arah, sebuah keasingan yang tak cukup jika hanya dijelaskan dengan kata-kata, melainkan harus mengalaminya secara langsung.

Ali tengah terduduk di bawah pohon jambu, tangannya sibuk menyiapkan kail dan pancing, benang pancing ia rangkai sedemikian rupa di sebuah lubang kecil mata pancing, berharap benang itu kokoh menahan gempuran dari ikan-ikan yang kelaparan.

Tak bisa ia tak berhenti melirik ke arah teras rumah, sebab istri dan anak perempuannya terus cekikikan di sana, dan sesekali menggodanya. Kedua wanita itu tengah duduk di area kosong, di samping pagar rumah. Duduk dalam posisi miring, setengah pantat menggantung di udara, dan kaki mengayun di bawah kolong rumah. Si Anak terduduk di pangkuan ibunya sambil menyenderkan kepalanya ke dada si Ibu, sedang si Ibu bersender pada tiang pagar dengan tangan yang sibuk menjelajah di antara helai rambut si Anak, mencari telur, anakan dan indukan kutu yang bersarang di rambut ikal tersebut.

"Kau tau Mar, si Ramlan dapat banyak ikan kemarin, mulai dari ikan gabus, inggit-inggit (patin), sampai ikan mera (dewa) pun dia dapat. Bagaimana aku tidak tergoda untuk memancing," Ali berkata dengan semangat meluap-luap. "Aku tak mau ikan itu habis dinikmatinya seorang diri."

"Terserahmu lah Bang, yang penting kau tau jalan pulang," balas Mariyam, "Bukan begitu Tet[1]?" tudingnya ke arah Mufida sambil mengelus dagu si anak tersebut.

Yang dituding mengangguk dan tersenyum malu.

Ali bangkit dari duduknya, lengkap dengan tas yang tersampir di bahu, alat perangnya telah ia masukkan ke dalam tas itu. Ia menghampiri kedua wanita tersebut. Gemas ia memandangi wajah imut anak perempuannya, tak tahan ia untuk tidak menciuminya, si Anak hanya menggeliat sambil menahan bau asam yang menguar dari mulut ayahnya.

"Doakan aku dapat ikan ya Butetku na burju[2]."

"Iya Ayah."

Ali berjalan ke samping rumah, mengambil sepeda motor yang terparkir di sana.

Setahun yang lalu, sepeda motor itu mendarat di halaman rumah mereka, berbekal uang sisaan membeli lahan plasma. Ali yang meminta, rengeknya adalah agar mereka sekeluarga bisa pergi ke kecamatan jika ingin berbelanja di Pasar Selasa, pasar mingguan yang hanya ada setiap hari Selasa saja. Alasan yang masuk akal bagi Mariyam, maka mendaratlah sepeda motor tersebut sore itu juga.

Sepeda motor yang ditumpanginya melaju dengan tenang di depan istri dan anak perempuannya, sempat lelaki yang hendak memancing itu membunyikan klakson sebagai tanda salam keberangkatan. Kedua perempuan yang tertinggal melemparkan senyum ke arahnya.

Pemandangan hanya diisi pohon-pohon sawit sepanjang Ali berkendara, paling-paling tiga sampai empat ekor kambing bandot bergerombol di pinggir jalan, seekor di antara mereka punya otak kurang waras, dan bermain-main di tengah jalan. Motor itu kini melaju dengan kencang, mesinnya menderu dengan gagah, tak peduli dengan jalanan yang penuh dengan bebatuan yang mengganjal dan lubang-lubang yang tergenang air lumpur. Berkelok dan bersilat ia melewati tantangan tersebut.

Ia berhenti tepat di ujung jembatan yang baru saja selesai dibangun. Jembatan yang muncul setelah kemenangan demonstrasi diraih oleh warga Desa N beberapa tahun yang lalu. Sepeda motor itu dikunci stang, lalu menyelinap ia ke kolong jembatan tersebut. Di bawah pijakannya air sungai mengalir dengan tenang, warnanya bening hingga Ali dapat melihat rerumputan yang tumbuh di dasarnya. Tempat yang cocok untuk memancing.

Umpan dipasang dan kail pun dilemparkannya jauh ke tengah-tengah sungai, pelan-pelan arus air membawa pelampung ke tepian sebelum akhirnya terkatung-katung di suatu tempat. Ia jerembabkan tubuhnya di atas tanah berlapis sendal jepit, lalu memantik rokok yang tersangkut di mulutnya, menghisapnya dengan takzim, lalu menghembuskannya dengan perasaan begah. Setiap tarikan terasa nikmat, setiap hembusan terasa membebaskan. Kini, ia hanya perlu menunggu seekor ikan menyambar umpannya.

 

***

 

Kedua perempuan yang ditinggal itu tersentak ketika mendengar suara rengekan bayi dari dalam rumah. Lekas mereka bangkit, dan menghampiri bayi yang tengah terperangkap di dalam ayunan. Ayunan itu tergantung di tengah ruang tamu, dibuat dari sehelai kain selendang dan diikat menggunakan tali tambang, lalu tali-tali tersebut digantungkan pada balok kayu yang melintang di langit-langit rumah, sama seperti dulu, ketika membuat ayunan untuk si Kecil Wahyu di rumah Nenek Piyah.

Di dalam ayunan itu, anak kelima Mariyam tengah menggeliat dengan malas. Ia tersenyum ketika mendapati wajah ibunya telah muncul di hadapannya.

Adalah Zul nama anak kelimanya. Anak tersebut lahir beberapa bulan yang lalu, tepat di akhir bulan Zulqaedah, seminggu sebelum hari raya kurban. Meski masih bayi, namun Mariyam sudah melihat ketampanan anak ini akan mengalahkan para pendahulunya.

"Sudah bangun kau Nak," ucap Mariyam hangat. "Lihatlah Tet! Sudah bangun adikmu," tudingnya kepada Mufida yang tengah menunggui di sampingnya.

Ayunan kain itu pun direnggangkan, lalu dari dalamnya diangkatnya si Kecil Zul dengan lembut dan hati-hati, diciuminya sesekali pipi anak itu sebelum akhirnya merebahkannya di atas lantai beralas tikar dan tumpukan-tumpukan kain sehingga membentuk kasur darurat yang empuk.

"Tolong jaga Adikmu ya Tet, biar Mamak buatkan dulu makanannya."

Dan bermain-mainlah Mufida dengan adik kecilnya, sementara Mariyam beranjak ke dapur untuk menyiapkan susu hangat.

 

***

 

Kala itu, jam di dinding menunjukkan pukul 15.10. Ali tak jelas dimana keberadaannya, lelaki itu pamit untuk memancing sedari pagi. Begitu pula dengan kedua anak lelaki Mariyam, sore telah menjelang, namun Wahyu dan Majua belum juga pulang setelah pamit untuk bermain selepas menyantap sarapan mereka. Kedua anak lelaki itu selalu bersama kemana pun mereka pergi layaknya sepasang sepatu pada kaki yang melangkah.

Mariyam tengah menggeluti pekerjaan dapur bersama dengan si Kecil Mufida, sedangkan si Kecil Zul kembali tertidur setelah diberi makan.

Lamat-lamat ia perhatikan putrinya yang terduduk di hadapannya, tak sengaja senyum menyembul dari wajahnya. Wajah anak itu tampak blepotan dengan upil dan ingus yang menggantung di lubang hidungnya. Rambut keritingnya mengembang seperti sebongkah bunga kol. Lengannya ramping, kian hari tanda lahirnya kian samar. Ia begitu asyik memotek setangkai kacang panjang yang ada di genggamannya, menirukan apa yang tengah dikerjakan Mariyam.

"Kau harus banyak makan sayur ya Tet, biar sehat," Mariyam berkata.

"Sayur gak enak Mak, aku gak suka!" balas si Anak, judes.

"Enak kok! Mamak aja suka."

"Tapi aku gak suka Mak!"

           "Kau mau hidup sehat gak?" tanya Mariyam lembut.

Si Kecil mengangguk dengan bersemangat.

"Berarti harus banyak makan sayur!"

Sekejap wajah riang si Kecil Mufida muram, Mariyam pun terkekeh dibuatnya.

"Coba kau tengok adikmu Tet, lihat apa dia masih tertidur atau sudah bangun."

Si Kecil Mufida bangkit dengan girang, berlari kencang ia ke arah ayunan. Tak lama kemudian, ia berteriak nyaring, "Masih tidur Mak…."

Lihat selengkapnya