"Dia yang terakhir Bang ya," ucap Mariyam sambil mengelus permukaan perutnya yang sedikit menonjol. Perkataan itu ia tujukan kepada suaminya kala itu, kala ia mengandung untuk yang keenam kali dan dalam usia kandungan yang baru beberapa bulan saja.
Kini si Anak yang dimaksud telah lahir dan usianya telah genap dua tahun. Anak itu berkelamin perempuan, ia sematkan nama padanya "Fatimah" karena terinspirasi dengan Rasulullah yang menamai anak terakhirnya dengan nama tersebut.
"Kumpul, kumpul!" ucap Mariyam lembut kepada anak-anaknya yang tengah menyebar ke segala penjuru rumah. Dia tengah terduduk di ruang tamu. "Sini dulu Nak. Mamak mau lihat kalian udah sebesar apa sekarang?"
"Iya."
"Ada apa Mak?"
"Sebentar!"
Bersahut-sahutan anak-anaknya menjawab panggilan tersebut, diiringi dengan derap langkah dan kecipak lantai yang menggema di segala penjuru rumah.
Mufida dan Fatimah muncul dari dalam kamar tidur Mariyam, si Kakak menggandeng tangan si Adik. Rambut keduanya urak-urakan, sedangkan kedua kaki mereka mengenakan kaos kaki berbeda rupa, habis fashion show sepertinya. Wahyu muncul dari teras rumah, tangannya blepotan dengan berbagai macam warna. Tak cuman di bagian itu saja blepotannya, ternyata wajah dan hidungnya pun kena juga. Anak itu memang sedang asik-asiknya menggambar dan melukis. Majua berlari dengan gesit dari arah dapur, meninggalkan adiknya Zul di balik punggungnya. Kedua anak laki itu tertawa girang dengan wajah keduanya yang blepotan dengan tepung gula. Tepung putih tersebut menutupi pinggiran mulut, pipi, alis mata, bulu mata, dan yang tak mungkin terlewat adalah kedua tangan mereka.
Ali sedang tidak di rumah kala itu, kebun sawit yang ia tanami di awal-awal kedatangan mereka telah berbuah dan sudah bisa dipanen. Biasanya panen buah berlangsung dalam dua minggu sekali, dalam sebulan bisa dua kali panen. Ia pergi ketika pagi menjelang dan sarapan telah disantap. Ia akan kembali lagi menjelang sore, saat buah telah ditimbang oleh tauke buah.
Senyum merekah di wajah Mariyam tatkala memandangi anak-anaknya yang berhamburan ke arahnya. Duduk rapi kelimanya di hadapannya, memasang tampang bingung dengan segudang pertanyaan di kepala kecil mereka.
"Coba kalian berdiri di situ Nak!" pintanya kepada mereka sambil salah satu jari telunjuknya menuding ke dinding di belakang punggung mereka.
Sekejap kelimanya menoleh sebelum akhirnya bangkit, lalu berhamburan ke arah yang diperintahkan. Berdiri kelimanya di depan dinding dengan punggung menempel, kaki dan tangan mereka tak berhenti bergerak, ada saja yang menggaruk, ada saja yang hinggap dan mengusik. Kelimanya berdiri dalam urutan siapa yang lebih dulu lahir, yang tertua berada di sisi kanan.
Sebenarnya tak ada tujuan khusus Mariyam menjejerkan mereka, ia hanya ingin memandangi satu per satu wajah anaknya, ia ingin mengenal rupa mereka, ia ingin tahu di bagian mana mereka berbeda. Ia sapukan pandangannya kepada kelima anaknya itu, lamat-lamat ia perhatikan dengan senyum yang terus menyungging dari wajahnya.
Biarlah Dinah Faizatun tenang di pangkuan tuhan. Penulis tidak akan lagi memasukkannya ke dalam nomor urut anak-anak Mariyam. Maka mulai saat ini, anak sulung adalah Wahyu.
Si Sulung Wahyu kini sudah kelas 6 SD, setahun lagi ia akan lulus dan akan melanjutkan pendidikannya ke sekolah pesantren. Ia yang paling hitam dibanding keempat adiknya, barangkali diturunkan dari kakek buyut dari pihak Mariyam. Anak itu tampan rupanya, giginya putih mengkilat—yang paling rajin menggosok gigi di antara kelima anaknya, rambutnya lurus dan hitam legam—gaya rambut apapun cocok diterapkan di kepala anak tersebut. Ia rajin belajar, otaknya cerdas, dan tiap semester selalu juara kelas.
Si anak nomor dua, Putra Majua, umurnya terpaut dua tahun dari abangnya, meski begitu ia bersekolah dengan usia yang lebih muda atau Wahyu yang ketuaan. Kini Majua duduk di kelas 5 SD. Anak yang paling riang, anak yang paling banyak bercanda dan tertawa, anak yang paling banyak mengumbar janji. Pernah suatu kali ketika Wahyu mendapatkan sepeda yang merupakan hadiah karena berhasil juara kelas, Majua datang menghadap Mariyam, dengan wajah polosnya, serta matanya yang memancarkan binar meluluhkan, ia berkata, "Mak belikan aku sepeda. Sebagai gantinya aku bersedia mencuci piring selama sebulan penuh—Kadang kala ketika Mariyam terlalu sibuk dan tak sempat mengurus dapur, ia akan menyuruh kedua anak tertuanya itu untuk menggantikannya mencuci piring." Kekuatan binar yang dipancarkan mata anak tersebut telak meluluhkan Mariyam, ia turuti keinginan si Anak, sepeda pun mendarat beberapa hari setelahnya. Alih-alih selama sebulan penuh sesuai dengan kesepakatan, di minggu kedua Majua telah menyerah, kembali ia datangi Mariyam dengan binar yang sama, lalu merengek agar perjanjian itu ditunda sampai waktu yang tidak ditentukan, kembali pula Mariyam luluh. Parasnya memang tak semewah binar matanya, ia tak setampan abangnya, rambutnya bergelombang berwarna kemerahan, kulitnya putih dan penuh kudis di kaki, kalau tersenyum gigi kuningnya akan terlihat—dia adalah yang paling malas menggosok gigi. Tubuhnya sedikit lebih tinggi dari si Sulung, serta lebih gempal juga. Ia tak sepintar abangnya, jarang juara kelas, meski begitu temannya ada banyak. Satu kelas berteman dengannya, teman-teman sekelasnya menyukainya, baik karena lucu maupun karena kebiasaannya mentraktir dan membagi-bagi jajanan miliknya.
Si anak nomor tiga, Mufida Prameswari, putri pertama mereka yang terpaut empat tahun dari umur Majua. Semakin hari parasnya semakin mirip dengan Mariyam ketika masih muda dulu. Rambutnya keriting mengembang seperti bunga kol, suaranya cempreng, sering menangis, berkebalikan dengan sifat-sifat ratu yang tersemat pada namanya. Tanda lahir di lengan kanannya kian hari kian samar. Kalau tersenyum ia sangat manis, bulatan kecil di ujung mulutnya akan muncul tiap kali menyunggingkan senyum. Ia tak segirang dan sebaik Majua, meski begitu temannya tetap banyak. Ia berteman dengan semua murid perempuan di kelasnya. Tak begitu pintar dan tak juga bodoh, sepanjang bersekolah, ia tidak pernah juara kelas. Pencapaian tertingginya adalah rangking 4.
Si anak nomor empat, Zul, yang paling tampan dan paling elok parasnya dibanding kesemua saudaranya. Kulitnya putih dan bersih, rambutnya lurus seperti abang sulungnya, warna rambutnya merah seperti abang nomor duanya. Ia yang paling pendiam dan yang paling tidak banyak menuntut. Jarang sakit dan tak pilih-pilih makanan, tak menolak jika diberi lauk sayur.
Si anak bungsu, Fatimah, putri kedua mereka sekaligus penutup peranak-pinakan di keluarga Mariyam. Kalau si Kakak manis, maka si bungsu ini amat cantik meski tak punya lesung pipi di wajahnya. Parasnya seperti anak-anak artis yang seliweran di layar televisi, rambutnya menjuntai sebahu, bergelombang dengan warna hitam legam. Ia suka bermanja-manja, apalagi dengan Majua. Ia banyak mau dan banyak menuntut.
Bangkit Mariyam dari duduknya, meraih pensil yang terletak di dekat kakinya.
"Kalian sudah besar-besar anakku," ia berkata penuh kekaguman, "Biar Mamak tandai seberapa tinggi kalian sekarang ya."
Satu per satu ia hampiri puncak kepala anak-anaknya, di atas ubun-ubun mereka ia menarik garis lurus sebagai penanda. Setiap tarikan, ia menanamkan tekad di dalam hatinya, bahwa kelima anak ini akan selalu dalam lindungannya. Kelima anak ini akan ia penuhi kebutuhan, serta pendidikannya. Kelima anak ini tak akan ia biarkan menderita dan kekurangan.