Benarlah apa yang tersebut pada ayat kitab suci, yang bisa berlaku adil hanyalah Tuhan sesuai dengan salah satu dari 99 nama yang tersemat pada-Nya; Al-Adlu[1]. Mariyam tak lagi bisa menyangkal hal tersebut, sekeras apapun ia mencoba, seingin apapun ia berkemauan, hatinya tetap berlabuh pada salah satu dari kelima anak yang telah ia besarkan. Adalah Putra Majua yang menjadi anak kesayangannya.
Sering ia terkesima dengan apa yang diperbuat oleh anak itu. Untuk anak seumurannya, yang bahkan belum menamatkan sekolah dasar, ia tampak begitu bijaksana. Salah satu contoh sikap bijaknya adalah ketika Majua dan Wahyu mendapat giliran mencuci piring. Majua akan maju terlebih dahulu, membagi piring-piring kotor ke dalam dua ember besar dalam jumlah yang sama rata menurut pandangannya. Setelah itu, ia akan menyuruh si Sulung untuk memilih lebih dulu ember mana yang ia mau. Bukankah itu tindakan yang cukup bijak? Jika engkau adalah si pembagi, maka biarkan orang lain yang memilih terlebih dulu. Bayangkan jika Majua yang membagi piring kotor dan dia pula yang memilih terlebih dahulu, tentu ia akan berlaku curang, tentu ia akan mengisi satu ember lebih banyak dibanding ember yang lain, lalu ia akan memilih ember yang lebih sedikit dan menyerahkan ember yang paling banyak kepada si Sulung.
Takjub Mariyam dibuatnya, entah darimana dipelajarinya sikap yang seperti itu, rasa-rasanya kebijaksanaan itu muncul dengan sendirinya dan tanpa seorang pun yang menuntun Majua.
Majua bukannya tidak mengizinkan Wahyu mengambil peran sebagai si pembagi, ia selalu menanyakannya terlebih dahulu sebelum ia melangkah ke dapur. Ia akan bertanya, "Abang mau milih atau bagi?"
Seringnya Wahyu memilih opsi pertama—meski terkadang memilih opsi kedua.
Bukan hanya kebijaksanaannya yang membikin Mariyam melabuhkan hati kepada Majua, ia adalah anak yang rajin dan anak yang punya inisiatif tinggi dibanding keempat saudaranya yang lain. Ia akan menyapu rumah tanpa disuruh, menjadi orang pertama yang mencuci sepatu sekolah di kala minggu pagi, ia juga lebih sigap jika disuruh ke warung untuk membeli perlengkapan dapur. Selain itu, Majua lebih bisa diandalkan ketika menjaga adik-adiknya saat Mariyam sedang punya kesibukan lain. Ia akan mengasuh adik-adiknya sepanjang hari, menimangnya di ayunan ketika mereka mengantuk, menepuk pantat mereka untuk menenangkan mereka yang tengah menangis, dan terkadang ia turut bersenandung untuk menghibur adik-adiknya yang gundah.
Entah bagaimana sikap gentle itu tak hadir di pribadi suaminya. Kian hari suaminya kian tidak bisa diandalkan, karena panen buah yang hanya dua minggu sekali, lelaki itu lebih sering ongkang-ongkang kaki dan menjalankan hobi memancingnya—sejak kebun telah bisa dipanen, Ali tak lagi bekerja sebagai tukang babat rumput di perusahaan. Kadang ia pergi pagi pulang malam. Kadang ia pergi pagi pulang pagi. Hidupnya penuh suka-suka. Suka-suka sayalah mau apa! Mau mancing, mau ongkang-ongkang kaki, suka-suka saya!
Itu belum semuanya, bahkan ada yang lebih buruk dari itu, ia pamit memancing tapi sebenarnya tak memancing. Desus yang Mariyam dengar adalah ia melipir ke warung Pak Mastur, semalaman bermain judi kartu di sana.
Hari itu, dengan riang Mariyam berangkat ke sekolah, sebab mengira gaji akan turun karena di kalender telah tercantum angka "5". Namun sesampai di sekolah, riangnya malah lenyap. Seharian ia menunggu dengan perasaan gelisah, tanpa kepastian, bertanya ke sana ke mari; Belum cairkah Pak? Belum cairkah Bu?
Malang seribu malang, hingga bel pulang sekolah berdentang nyaring dan ia melangkahkan kaki meninggalkan area sekolah tersebut, gaji yang diharapkan tak jua turun. Ditunda! kata Sabarudin.
Terduduk lesu ia di ruang tamu, pikirannya penuh akan berbagai masalah yang menghantui; Gaji yang tak jadi turun, persediaan lauk pauk yang sudah habis, Tukang tagih PLN yang untuk kedua kalinya akan mampir ke rumah, suaminya yang tak tau dimana rimbanya—pamit memancing semenjak pagi, namun sampai sore menjelang, tak juga menampakkan diri—berharap ada beberapa lembar uang di saku suaminya yang dapat ia pergunakan hari itu. Apa yang mesti ia perbuat? Gundah hati Mariyam memikirkannya. Detak jam bahkan terasa mengusik telinganya.
Dipanggilnya Majua ke hadapannya, ia berkata, "Mamak ada urusan di halaman belakang, kalau Orang PLN datang mencari Mamak, bilang lagi tidak di rumah." Pelan ia menjelaskan agar si Kecil Majua tak salah menyampaikan. "Oke?"
Majua mengangguk dengan mantap dan melempar senyum lebar.
"Sama satu lagi Maju, tolong awasi adik-adikmu ya."
Setelah mengatakan itu, ia bergegas menuju dapur—membawa si Kecil Fatimah di dekapannya, lalu keluar lewat pintu dan berjalan memutar ke halaman belakang. Di sana ia hanya berdiri canggung, atau terkadang duduk pada batang kayu lapuk. Hembusan napasnya terasa sulit seolah ada yang menyangkut di dalam lubang hidungnya. Pikirannya kembali berkelana, membuka lembaran-lembaran pahit yang tiada ujungnya.
Makin dipikirkan semakin kurang ajar ia rasai suaminya. Terus terang, Mariyam tak pernah lagi meminta uang bulanan kepada lelaki tersebut. Ia merasai dirinya seperti seorang pengemis tiap kali melakukannya. Kenapa tidak lelaki itu saja yang berinisiatif? Yang bergerak hatinya. Kenapa mesti harus diminta baru saku di celananya menganga? Harga dirinya terluka dan tak lagi ia tertarik pada uang yang seuprit itu jika ia masih bisa mengandalkan dirinya sendiri. Ia berhenti meminta, namun juga tak akan menolak jika kesadaran si Suami tiba-tiba muncul. Mariyam hanya menguatkan dirinya pada sebuah kalimat, "Asalkan dapatmu uang rokokmu tanpa mengusikku, biarlah. Aku sudah bersyukur."
Meski begitu, kebaikan yang dicurahkan Mariyam kepada Ali, rasanya-rasanya masih juga tak cukup. Lihatlah! Mengurus anak dan mengurus rumah saja ia abai, asik dengan pancing atau judi kartu di warung Pak Mastur. Gemeretak gigi Mariyam menahan amarah yang tiba-tiba mencuat.
Sayup-sayup ia mendengar suara motor bebek yang berhenti di depan rumah dan seketika membuyarkan lamunannya.
Kini pikirannya menebak-nebak siapakah gerangan tersebut. Jujur, dia tak hapal dengan suara sepeda motor suaminya. Suaminya kah? Atau Tukang pln?
"Mana bapak Nak?" Suara samar yang didengar Mariyam. Taulah dia sepeda motor yang mampir itu adalah milik tukang tagih. Hatinya mendadak resah, tak sadar dia menahan napas, lubang telinganya seakan membesar dari ukuran yang biasa, penasaran dengan percakapan yang sedang berlangsung di beranda rumah.
"Mancing!"
"Kalau Ibu ada?"
"Mamak bilang sedang tidak di rumah."
Berkerut kening Mariyam mendengar jawaban polos Majua. Entah Tukang PLN itu menyadari kejanggalan tersebut, namun yang jelas lelaki itu meninggalkan beranda dan memacu kendaraanya.
Barulah hembusan napas Mariyam terasa ringan. Langkahnya ia tuntun kembali menuju pintu dapur. Derap langkah terdengar berkecipak di lantai, Majua tergopoh-gopoh menghampirinya.
"Sudah pergi Mak," ucap Majua bangga dengan senyum lebar yang mengambang di mulut dan di kedua matanya.
Mariyam balas tersenyum, mengucapkan terima kasih sambil mengusap kepala Majua.
Ia masih tak berani keluarga rumah, khawatir si Tukang Tagih masih mengintai dan tiba-tiba muncul entah darimana. Ia hanya berdiam diri di dapur, menunggu hingga malam tiba.
Adzan berkumandang dari masjid kampung, suaranya merdu bak muadzin di Haramain[2]. Adzan itu sekaligus penanda waktu magrib telah tiba. Adzan itu juga penanda kalau suaminya pun belum tiba. Adzan itu juga menjadi penanda kalau anak-anaknya mulai merengek.
"Mak, lapar," si Sulung berkata.
"Mak, tak mengaji kita?" Kali ini giliran Majua.
"Mak, boneka berbiku dimana?" Mufida memberengut.
Sementara Zul hanya golar-goler di ruang tamu, memandang lampu yang berpijar di langit-langit rumah. Sedangkan si Bungsu menggeliat di pangkuan Mariyam, meminta untuk dilepaskan.