Satu yang selalu ditegaskan oleh Mariyam di dalam prinsip hidupnya; bahwa menempuh pendidikan adalah wajib hukumnya; dan pendidikan agama haruslah diutamakan dibanding pendidikan-pendidikan yang lain.
Maka ketika Wahyu lulus sekolah dasar, Mariyam menyekolahkannya ke pondok pesantren yang terletak di kota kabupaten. Pondok pesantren yang sangat tersohor, pondok pesantren yang mereka lewati kala melintas menuju Desa N, pondok pesantren yang telah berdiri selama puluhan tahun. Pondok pesantren yang jaraknya 5 jam perjalanan dari Desa N.
Hari itu, di siang yang terik, mata si Sulung merah, bibir si Sulung bergetar melepas kepergiannya. Mariyam harus berangkat siang itu juga setelah segala urusan administrasi beres sebab mobil tumpangan hanya satu yang mengarah ke Desa N, dan mobil itu telah menunggu di jalan raya.
Sebenarnya hati Mariyam juga berat meninggalkan Wahyu seorang diri, namun apadaya, memang harus ditunaikan demi pendidikan dan agama yang lebih baik.
Di dalam mobil yang melaju, kembali kenangan masa kecil si Sulung terlintas di benakknya. Selain anak yang pintar, ia juga anak yang rajin menabung. Satu waktu, ketika mereka sedang bercengkrama di teras rumah—rumah itu belum direnovasi, seorang pedagang gulali lewat di hadapan mereka, mengayuh sepeda dan terus melaju ke ujung gang.
Mufida yang melihatnya sekilas, berdesir ludahnya dan kepengen. Ia sampaikan hasratnya itu, sayang Mariyam tak bisa turuti. Mufida tak mau mendengar alasan apapun, malah merengek, bergajulan di lantai, menghentakkan kaki, menjerit, meraung, mengacak-acak rambut bunga kolnya.
Tak ada sepeser pun yang bisa disisihkan Mariyam. Uang di dalam sakunya hanya cukup untuk membelikan keperluan lain, yang lebih mendesak.
Dengan penuh penyesalan Mariyam berkata, "Gak ada lho duit Mamak Tet."
Mufida tetap tidak peduli, ia teruskan rengeknya seolah tidak ada kata "tidak" untuknya hari itu.
Si Sulung bangkit dari rebahnya, terganggu oleh suara nyaring tuan putri, berjalan ia ke dalam rumah, dan dalam sekejap kembali lagi dengan beberapa lembar uang di tangan.
"Aku ada uanglah Mak," ucapnya dengan polosnya.
Menyeringai Mariyam karenanya, sekaligus merasa malu ia dalam waktu yang bersamaan.
"Pake tabunganku aja Mak."
Mariyam tersenyum gemas. "Memangnya sudah banyak tabunganmu Nak?"
Ia selipkan duit yang ada di genggamannya ke dalam saku celananya, lekas ia angkat kesepuluh jemarinya. "Ada banyak Mak," mulai ia mematikan beberapa jari, kemudian menyodorkannya ke depan muka Mariyam, "ada segini Mak." Kembali ia menghadapkan telapak tangannya ke arah ibunya, lalu mulai berhitung, "Ada seribu, dua ribu, tiga pulah ribu, seratus ribu lima puluh ratus, banyak lho Mak!"
Tergelak Mariyam dibuatnya, lalu berkata, "Yasudah, belilah Nak. Mamak pinjam dulu duitmu ya."
Wahyu mengangguk mantap, mengeluarkan uang dari dalam saku, dan dengan ragu-ragu ia berkata sebelum menyerahkannya ke tangan ibunya, "Tapi Mamak ganti nanti ya."
Mariyam tersenyum dan mengangguk pelan.
Guncangan mobil yang baru saja melewati jalan berlubang, melenyapkan kenangan yang sempat singgah di kepala Mariyam, membawa ia kembali ke dunia nyata. Perjalanannya masih jauh dari kata sampai, mobil terus berdesing, berlenggak-lenggok di tikungan, sesekali memperlambat lajunya jika menemukan lubang atau gundukan di tengah jalan. Sepanjang jalan pemandangan hanya dihiasi oleh hutan rimba dengan pohon-pohon menjulang dan segala hewan yang menghuni.
Satu tahun kemudian, Majua pun menyusul si Sulung, bersekolah di salah satu sekolah yang ada di kota kabupaten. Kedua anak tertuanya itu tidak ia sekolahkan di tempat yang sama. Bukan karena ia tidak mau, melainkan si Sulung yang menolak keras ide tersebut.
"Janganlah satu sekolah kami Mak," rengek anak itu kepada Mariyam dengan wajah memohon. "Masa dia ngikut-ngikut aja samaku Mak, Mamak carilah buat dia sekolah yang lain."
Tersayat hati Mariyam mendengarnya, tak menyangka si Sulung sampai hati. Dulu mereka begitu akrab, sepermainan, kesana-kemari selalu bersama, namun kini ia tak lagi tertarik untuk melanjutkan kekariban itu.
Majua hanya membisu dan terduduk lesu di hadapan keduanya.
"Tak apa Maju, nanti Mamak carikan sekolah yang lebih bagus untukmu," ucap Mariyam menenangkan.
Sombongnya si Sulung, tak ingatkah dia dulu kala menangis karena ibunya harus kembali ke Desa N, meninggalkannya di depan gedung asrama? Tak tergerakkah hatinya untuk menemani adiknya agar tak merasakan kesendirian yang pernah ia alami?
Meski begitu Mariyam tetap menuruti keinginan si Sulung, ia bawa Majua ke sekolah yang lain, sekolah yang sama bagusnya, tak di pesantren, melainkan sejenis Madrasah Tsanawiyah.