Tahun 2020
Bertahun-tahun telah berlalu sejak kunjungan terakhir Mariyam ke Desa Majua-Jua. Tahun ini mereka akhirnya kembali, mereka akan merayakan Hari Raya Idul Fitri di desa tersebut. Rindu dan ingin berziarah, katanya.
Banyak yang telah berubah. Nenek Piyah tak lagi menemui mereka karena telah tutup usia beberapa tahun yang lalu. Wanita tua yang baik itu dimakamkan di sebelah persemayaman Dinah Faizatun, "Biar si Mariyam sekalian membersihkan makamku kalau suatu waktu dia datang mengunjungi makam anaknya." Permintaan itu dilontarkan oleh Nenek Piyah menjelang kematiannya. Kedua orangtua Mariyam juga telah tutup usia 2 tahun sebelum kematian Nenek Piyah, Mariyam harus bolak balik karenanya, sebab kematian kedua orang tersayangnya itu hanya berjarak dua mingguan saja. Keduanya dimakamkan di tempat pemakaman umum. Rumah yang dulu menjadi tempat bernaung bagi Mariyam kecil, rumah yang penuh akan kenangan masa kecilnya hingga masa sebelum ia dipinang, telah ditempati oleh abang sulung Mariyam, pria paruh baya yang baru saja menduda beberapa bulan yang lalu, ditendang oleh istrinya sebab suka main tangan, sedang memberi nafkah dia jarang. Lini, yang selalu dekat dengan Mariyam, telah menanggalkan masa lajangnya, menikah dengan seorang pria dari desa nun jauh dan dibawa suaminya ke perantauan. Begitupula dengan adik-adik iparnya yang lain, semuanya telah berkeluarga, dan menetap di kediaman mereka masing-masing.
Tinggallah Rosmita dan suami di dalam rumah itu, rumah yang pernah menjadi saksi atas tangis dan derita Mariyam. Kedua orang tua itu semakin renta penampilannya, si Suami kisut tubuhnya, tulang rusuk kelihatan menonjol dari balik kulit tipisnya, batuk dan dahak tak henti-hentinya mengganggu saluran napasnya. Rosmita kini terbongkok-bongkok tiap kali berjalan. Rambut putih telah memenuhi seluruh kepalanya, tersembunyi didalam songkok lusuh yang telah ia kenakan dari masa awal pernikahannya. Keduanya tak lagi segarang dulu, kala berbicara mereka parau, kala tertawa kelihatan gigi ompongnya. Ramah keduanya menyambut kedatangan keluarga Mariyam, silau mereka melihat kegemilangan yang diperoleh sang Menantu.
"Hebat kalian sekarang ya," ucap lelaki tua itu suatu waktu.
Mariyam paling-paling melempar senyum kecut.
Di lain waktu, tanpa seorang pun tau dan melihat, segepok uang diselipkan Mariyam ke dalam saku ibu mertuanya, "Masak yang enak Namboru ya!"
Sumringah Rosmita karenanya, mulutnya tak berhenti tersenyum, dan lekas-lekas ia ke pasar untuk membeli perbumbuan.
Tak ada dendam yang tertanam di hati Mariyam kepada kedua orang tua itu, bagaimana pun buruknya mereka memperlakukannya, dianggapnya sebagai huru-hara rumah tangga. Paling-paling ia hanya jengkel dan geram apabila terlalu lama dihadapkan dengan basa-basi-busuk kedua orang tersebut.
Hidup memang penuh lika-liku bagi Mariyam—bahkan untuk kita semua duhai para pembaca—namun pelan-pelan jalan lurus itu mulai ia jajaki, pelan-pelan jalan terang dengan pemandangan indah di sisi kiri dan kanan jalan mulai ia lalui. Pelan-pelan kehidupan rumah tangganya membaik.
Lantunan kalimat takbir terus mengalun sejak kemarin malam, tiada lelah para takmir bersenandung, mengirim pujian dan doa-doa kepada Sang Pencipta. Tibalah hari kebesaran umat islam itu, hari bermaaf-maafan. Teduh matahari menyinari, tak mencuat sinar cerahnya, tersembunyi oleh langit yang kelabu. Angin seolah mendukung, hanya bertiup lembut dan tak membuat menggigil.