Pagi itu, Ali sedang menikmati segelas kopi yang terhidang di atas meja, di beranda rumah. Terduduk dia di salah satu bangku yang terhampar, menikmati udara pagi yang menyegarkan, serta pemandangan anak-anak sekolah yang bepergian—raut ceria, serta langkah kaki yang gembira mengiringi keberangkatan mereka.
Di samping rumah, ayam-ayam peliharaannya berkokok-berkotek dan mematuk-matuk permukaan tanah, sebab baru saja dihamburkannya beberapa genggam beras di sana. Adalah cucu dan cicit dari dua ekor ayam yang dititipkan oleh ayah mertuanya sewaktu mereka hendak menuju desa ini. Beranak pinak kedua ayam tersebut, membentuk sebuah koloni di pekarangan rumah mereka. Meski anak turunannya berulang kali diserang penyakit dan mati, tetap saja ada paruh-paruh baru yang muncul dari balik cangkang telur.
Tersadar dia pada sebuah niatan yang telah terpatri sejak kemarin malam; menelpon si Sulung yang sebentar lagi akan wisuda, dia ingin menanyakan kapan mereka mesti berangkat ke sana untuk menghadiri acara tersebut.
"Mar…," ucapnya berteriak, pandangannya tetap lurus, tak menoleh sedikit pun bagai seorang raja yang memanggil pelayannya.
Saat itu Mariyam tengah menyiapkan sarapan di dapur, menjalani tugasnya sebagai seorang istri. Mendengar panggilan itu, ia menyahut pula. Ia berkata, "Iya…"
Meski Mariyam sudah berteriak, tetap saja di telinga suaminya itu suaranya terdengar lemah, mungkin karena jarak yang lumayan, atau memang karena pendengaran Ali yang telah jauh berkurang.
"Hapemu mana Mar? Aku mau menelpon si Wahyu, ada yang mau kutanyakan."
"Ada Bang, di dekat tivi. Ambillah!"
Ali beranjak dari duduknya, berjalan ke arah buffet tv yang terpajang di ruang tamu. Ponsel itu memang ada di sana, tersambung pada kabel charger. Diambilnya benda tersebut, kemudian kembali lagi ke beranda rumah, mendudukkan pinggulnya di bangku yang sama.
Di otak-atiknya menu panggilan sebelum akhirnya layar menampilkan "memanggil Wahyu". Nada sambung terdengar nyaring di balik speaker handphone tersebut, satu menit berlalu barulah panggilan itu tersambung.
"Halo Mak," ucap Wahyu di sebrang sana, yang mengira Mariyamlah yang menelponnya.
"Halo…," ucap si Ayah yang kemudian berlanjut membahas jadwal keberangkatan mereka.
Sepuluh menit mereka berbicara sebelum akhirnya telpon itu mati sebab Wahyu mesti pergi ke suatu tempat.
Tinggallah Ali dalam keheningan, pandangannya terpaku pada kotak sms yang terpajang di sudut layar. Seketika saja ia ingin berlama-lama dengan ponsel tersebut, barangkali karena tidak ada kesibukan lain. Maka meluncur dia ke dalam kotak pesan, layar menampilkan daftar panjang pesan masuk dari berbagai macam operator seluler, termasuk pengisian pulsa yang sukses, maupun kuota internet yang habis. Di deretan daftar panjang tersebut, ada satu pesan yang menarik perhatiannya, Bang Mursyid, yang tidak lain adalah abang sulung Mariyam. Maka dibukanya pesan tersebut, sedetik kemudian layar telah menampilkan sebuah bubble percakapan, hanya sebuah. Begini isinya:
Bagilah aku uangmu 100 ribu Mar, aku belum makan.
Pesan singkat itu dikirim beberapa hari yang lalu ke handphone itu, tersimpan rapi di kotak sms, tak dihapus sebab memang bukan aib. Hanya saja di tangan Ali berbeda, pesan itu adalah sebuah penghianatan baginya. "Tega sekali kau Mariyam! Diam-diam kau rutin mengirim uang ke abangmu? Tak meminta izin terlebih dahulu kepadaku?"
Tak sadar dia tangannya telah menggenggam erat handphone itu, bahkan samar terdengar bunyi retak dari dalam tinjunya. Amarahnya memuncak, telinganya panas, maka bangkit ia dari duduknya, berderap selayaknya orang marah menuju dapur, di mana Mariyam tengah memasak lauk.
"Apa maksudnya ini?" Ali berkata gusar sambil menggebrak meja dengan handphone di bawah telapak tangannya, ia berdiri di ruang tengah, memandang tajam ke arah punggung Mariyam yang menghadap kompor.
Tersentak kaget Mariyam karenanya, suara gebrakan itu membuat sutil di tangannya terlepas, dan jantungnya dirasainya hampir copot. Menoleh ia dengan perlahan, menerka-nerka apa yang membuat suaminya itu gusar.
"Ternyata selama ini kau diam-diam mengirim uang ke abangmu. Enteng benar kau membagi-bagi duit yang susah payah kita cari. Dasar!"
Setelah puas berucap, Ali memutar tubuhnya, sempat menyenggol gelas kaca di pinggir meja, membuat gelas itu jatuh dan pecah, serpihan kacanya berserakan di lantai. Berjalan dia ke halaman depan dimana sepeda motor terparkir, dipacunya kendaraan itu ke sembarang tempat, kemana saja asal tidak melihat wajah sang istri.
Yang ditinggal hanya terperangah, belum sempat membela diri, sedang yang menuduh telah pergi. Bersusah payah Mariyam menelan ludah, dirasainya ada yang menyangkut di kerongkongan, mungkin karena kurang minum, atau karena hal lain. Api kompor dimatikannya, lantas menjatuhkan pinggulnya di lantai penyangga yang menghubungkan dapur dan ruang tengah.
Tatapannya kosong, hatinya terusik, sedikit rasa bersalah bersemayam di dalam sanubarinya. Salahkah yang kuperbuat? Salahkah aku membantu saudaraku yang sedang kesusahan? Bukankah selama ini aku yang banting tulang? Bukankah uang yang kusisihkan itu adalah uangku juga?
***
Di dalam mini bus yang melaju, terjebak Mufida sambil bermain ponsel, berjam-jam di perjalanan membuat ia kepalang bosan, ditidurkan pun ia tak lagi mengantuk, menatap jalan pun hanya tampak gumpalan debu yang beterbangan tak karuan. Syukur tak lama lagi dia akan sampai.
Mufida berkuliah di salah satu perguruan tinggi negeri berbasis Islami yang ada di kota kabupaten, baru semester dua. Meski belum waktunya liburan semester, ia rutin pulang ke desa, dua bulan sekali biasanya, menengok kedua orangtuanya. Jarak yang tak terlalu jauh, dan ongkos yang juga tidak begitu mahal adalah alasan dia sukarela melakukan hal tersebut—walaupun ibunya bergelimpangan harta, telah tertanam di otak mereka kalau hidup mestilah bercukup-cukup. Serta yang tak lain adalah karena kegemarannya bepergian ke tempat yang jauh, hobi yang tertunda sebab dikungkung si Ibu