Mariyam dan Ali

Azrai Putra Barumun Daulay
Chapter #18

Bab 17

Tahun 2017

Mariyam masih tak menyangka dengan apa yang menimpa anak kesayangannya, Majua. Anak yang dulu selalu ceria, murah senyum, mata yang berbinar indah, dan tubuh yang gempal dan berisi, kini tampak menyedihkan. Tubuhnya kurus kering seolah disedot hantu air, wajahnya selalu murung, matanya tampak lelah—mengangkat kelopaknya pun ia kepayahan, lemak di pipinya telah lenyap; cekung hingga kelihatan susunan giginya. Tiap bernapas ia sengal, tiap melangkah ia limbung. Kalau malam, saat cuaca dingin, ia berkeringat hebat. Di tengah malam, ia menggigil dan mengigau. Sore selepas mandi, ia kembali berkeringat hebat, banjir sebadan-badan seolah baru habis lari maraton. Penyakit itu merongrong jiwa anak lelaki tersebut. Kini, si anak lelaki hanya terduduk lesu di depan televisi yang menyala, pandangannya tertaut pada gambar bergerak, namun pikirannya mengawang entah kemana.

 

Baru ia ketahui kondisi tersebut sekitar seminggu yang lalu. Waktu itu ponselnya berdering nyaring di dalam ruang kelas.

"Halo Mak," ucap Majua di sebrang telpon, diikuti suara batuk di ujungnya.

"Iya Nak, kenapa?"

"Kami sudah libur semester Mak, aku akan pulang malam ini."

Telpon itu berakhir dengan perasaan bahagia yang membuncah di hati Mariyam. Anak yang paling ia sayang, anak yang terpisah jauh karena harus menuntut pendidikan, akan tiba esok siang. 

Tak sabar ia menanti kedatangannya. Seharian ia berkutat di dapur, menyiapkan bahan-bahan untuk dimasak esok hari, bahkan kemurahan hati Mufida tak ia gubris. "Kali ini biar Mamak aja Tet!"

Mufida mengernyitkan dahi, mundur pelan-pelan dari singgasana, namun sebuah pertanyaan basa-basi mencuat di hatinya. Ia berkata, "Yang pulang Bang Maju sajakah Mak? Bang Wahyu apa tidak pulang?"

"Bang Wahyu tidak pulang, tugasnya menumpuk katanya," ucap Mariyam tanpa melirik.

Keesokan harinya, sebuah mini bus berhenti di depan rumah, hitam dan berdebu, kendaraan yang ditumpangi Majua dari luar kota. Mariyam telah bersiap-siap di bibir beranda, berkacak pinggang dia di sana, senyum mengembang di wajahnya, menunggu dalam perasaan bahagia yang tak berkesudahan.

Sosok yang dinanti pun muncul dari balik pintu mobil yang terbuka, pakaiannya modis meski agak lusuh karena berjam-jam terombang-ambing di perjalanan, rambutnya kering kerontang, bentuk wajah dan tubuhnya membuat Mariyam ternganga dengan segudang pertanyaan di kepala. Hatinya mendadak runtuh, matanya bergetar kala memandang si Anak yang berjalan mendekat, satu tangan menyeret sebuah koper. Nyaring suara terdengar di telinga lewat roda kecil yang menggilas halaman berbatu.

"Apa yang terjadi?" Gumam Mariyam.

Tubuh Majua begitu ringkih, hanya menyisakan tulang yang dibalut kulit pucat. Bahkan lehernya kini terlihat bengkok sehingga tampilannya seperti kakek tua bungkuk. Berjalan ia lesu, batuk tak berhenti mengiringi setiap langkahnya. Binar di matanya yang selalu menjadi senjata pamungkasnya t'lah sirna. "Apa yang terjadi?" Mariyam bertanya-tanya dalam hati.

"Kau kurus kali Nak. Kau jarang makan ya?" tanya Mariyam lirih.

Anak itu terbatuk sebelum akhirnya angkat bicara, "Lauknya gak enak Mak! Manis semua dimasak ibu itu," berhenti ia sejenak untuk mengambil napas, "Aku jadi tak berselera makan."

"Kenapa tidak pindah bayar makan Nak?" Agar tak repot memasak dan tak perlu susah-payah mencari warung makan, Mariyam menyarankan agar Majua bayar makan di rumah ibu kos yang ia tempati.

"Sungkan Mak," Majua berkata dengan tampang letih. "Tapi Mamak tenang aja, gak lama bakal gemuk lagi kok kalau udah makan masakan Umak."

Mariyam melempar senyum getir.

"Mamak masak apa? Aku lapar!"

 

 

***

Lihat selengkapnya