Tahun 2025
Hujan lebat yang mengguyur sore itu, menghantarkan dingin yang membuat segala persendiannya terasa linu. Bangkit Mariyam dari duduknya di salah satu bangku yang tersusun di beranda, masuk ke rumah, mengambil selimut, lantas kembali lagi ke bagian beranda, dan terduduk di tempat semula dalam balutan selimut tebal yang menghangatkan.
Di atas meja, di sebelah bangku, sebungkus kacang polong telah terbuka, ampas kacang berserakan di sekitar bungkusnya. Sejak tadi giginya tak berhenti bergemeretak karena mengunyah butiran-butiran kacang tersebut. Nikmat ia rasa, rasa gurih dan asin yang terbalur pada biji-bijian itu terasa pas di lidahnya. Suatu kegiatan yang sangat cocok dinikmati kala hujan mengguyur di sore hari.
Rumah begitu sepi terasa, sebab memang tak ada orang selain dia kala itu. Suaminya, Ali, pergi memancing. Mufida sedang mengajar di Madarasah Ibtidaiyah. Benar, setelah menyelesaikan kuliah keguruannya di kota kabupaten, Mufida kini menjadi seorang guru honorer di sekolah tersebut. Si Sulung, Wahyu, barangkali sedang berada di tengah-tengah kebun kelapa sawit milik perusahaan. Sebulan setelah acara wisudanya digelar, ia diterima di perusahaan tersebut sebagai mandor lapangan. Sementara Majua yang juga telah menyelesaikan studinya, memutuskan untuk merantau ke Ibukota Jakarta. Zul tengah menjalani perkuliahannya di kota provinsi, dan Fatimah tengah bersekolah di kota kabupaten. Tinggallah Mariyam seorang diri.
Tangannya belum berhenti menjumput, mulutnya terus mengunyah, sedang pandangan menatap dengan tenang ke jalanan yang mulai tergenang. Air mulai naik dari galian parit yang membentang hingga ke ujung gang. Tumbuhan seligi yang menjadi pagar hidup tampak menikmati guyuran hujan, bersih dan mengkilau dedaunannya, debu yang menempel selama berhari-hari telah lenyap diterjang badai.
Sejurus kemudian, suara "kretak" dari dalam mulutnya membuat ia terduduk kaku, mulutnya menganga, sedang liurnya menggenang di balik gigi depannya. Sebongkah gigi telah terlepas dari sarangnya.
Ia masukkan jemarinya ke dalam mulut, terasa basah jemari oleh air liur dan butiran-butiran kacang polong yang telah benyek, lalu dengan sigap jemari-jemari itu mengambil benda yang mengganjal di permukaan lidah. Satu gigi telah tanggal hanya karena memakan kacang polong. Tiba-tiba saja perasaan murung menguasainya.
Ia lemparkan gigi tanggal itu ke sembarang tempat, lalu meraih cermin yang sedari tadi tergeletak di atas meja. Berkaca ia padanya, mengangakan mulut lebar-lebar sebelum akhirnya melakukan kegiatan yang lain di depan cermin itu, kadang ia membentuk senyum lebar—penasaran semanis apa senyumnya terpancar, kadang pula mengernyitkan dahi—bertanya-tanya apakah kerutannya telah sejelas itu terlihat, ia rabai hampir seluruh wajahnya, tersadarlah dia akan usianya yang tak lagi muda. Wajahnya telah penuh dengan kerutan. Garis-garis kerutan itu terpatri di kening, di sebelah kedua ekor mata, pun di pipinya apabila mulutnya membentuk senyum lebar. Rambutnya yang dulu ikal dan hitam, kini sehelai demi sehelai mulai memutih dan rontok. Pandangannya ia alihkan pada jemarinya, di sana pun ia dapati kondisi-kondisi penuaan. Ia mulai berhitung menggunakan jemarinya, mengingat-ingat kembali berapa usianya. Hitungannya terhenti di angka 56, napasnya berhembus dengan damai, tak menyangka ia telah hidup selama itu.
Tak terasa baginya, pernikahan yang ia jalani telah berlangsung lebih dari 30 tahun. Tak terhitung banyaknya suka dan duka yang telah ia lewati.
Kembali ia memindai pada segala apa yang pernah ia tekadkan di dalam hati di masa dulu seolah sedang menelusuri nota belanjaan; kebutuhan hidup keluarganya, ia contreng di dalam pikirannya sebagai tanda telah ia penuhi; pendidikan anak-anaknya, ia contreng; kebahagian anak-anaknya, ia contreng; umroh—keinginan yang tiba-tiba muncul beberapa tahun terakhir ini dan itu belum tercontreng di dalam pikirannya. Meski begitu, tidak lama lagi ia akan menunaikannya. Senyum puas mengembang di wajahnya kala menyadari semua yang ia tekadkan di masa dulu hampir sepenuhnya terpenuhi.
Dalam kepuasan itu, sepeda motor si Sulung meluncur memasuki halaman rumah, mesinnya terbatuk-batuk kala ia melepaskan kopling di tangan. Berdiri anak sulungnya itu di salah satu tiang dalam pakaian yang telah basah kuyup.
"Apa yang disenyumkan Mak?" tanya Wahyu.
"Ada deh," ucap Mariyam tersipu.
Wahyu melipat mulutnya, lalu berkata, "Syombong sekali tidak mau bilang-bilang."
Mariyam mengangkat kedua bahunya. "Biarin!"
Satu per satu Wahyu melucuti pelindung kakinya, pada kaos kaki tak ia lewatkan untuk memeres kering airnya terlebih dahulu sebelum akhirnya menggantungnya di salah satu tali yang melintang di beranda samping.