"Pulang saja Maju…"
Pesan itu terus terngiang-ngiang di pikiran Majua dalam beberapa hari terakhir ini. Hatinya terus berbisik agar ia mendengarkan dan mematuhi perkataan ibunya; pulang ke Desa N. Sayangnya gengsi yang terlalu tinggi membuat ia selalu menepis bisikan-bisikan itu. "Tunggu dulu! Tahan dulu!" batinnya menguatkan diri.
Padahal dia sudah tau dari kapan tahun kalau dia memang sudah gagal di perantauan, ia sudah gagal memenuhi harapan ibunya. Harapan yang sebenarnya tidak pernah diucapkan dan dicanangkan oleh Mariyam, melainkan oleh keinginan Majua sendiri. Ia ingin sukses agar ibunya tak perlu khawatir dengan biaya hidup. Ia ingin sukses agar bisa mengirim uang tambahan kepada ibunya setiap bulan. Ia ingin sukses agar ibunya bisa berleha-leha di masa tuanya. Semua ingin itu timbul bukan tanpa alasan, resah dan kesah sang ibu selama bertahun-tahun membesarkan dia dan keempat saudaranya yang memicu ingin-ingin tersebut. Kedua bola matanya telah menyaksikan bagaimana susah dan lelahnya dan menahan sakitnya si Ibu demi dia dan keempat saudaranya.
Tiga tahun ia merantau ke Kota Jakarta dengan harapan mendapat pekerjaan yang layak, tiga tahun itu pula harapannya tak berwujud, tiga tahun itu pula ia hanya mendapatkan pekerjaan seadanya. Ia hanya diterima sebagai pegawai toko, cleaning service, atau sebagai tukang cuci piring di sebuah restoran; pekerjaan terakhir yang ia geluti. Sempat ia diterima sebagai pekerja kantoran, sayang pinggulnya tak tahan duduk seharian di depan komputer—nyeri yang ia rasa tak pernah hilang. Hanya dua hari ia bertahan, di hari ketiga ia mengirimkan surat pengunduran diri kepada HRD yang menaungi perusahaan tersebut. Penghasilannya tak pernah lebih dari 2,5 Juta, bahkan digaji 1,5 juta pun ia pernah.
Semasa merantau ini, bisa dikatakan ia lebih banyak menganggurnya. Sering ia merasa malu pada diri sendiri sebab untuk makan saja ia harus meminta kepada ibunya. Gaji yang ia peroleh dan pekerjaan yang tak selalu ada membuat ia tak pernah bisa hidup mandiri. Di awal bulan, ia akan mengirim pesan kepada Mariyam agar dikirimkan uang untuk makan dan membayar biaya tempat tinggal. Ia adalah sebenar-benarnya benalu, sadar dia akan hal itu.
Bayang-bayang "Anak tak berguna" kian hari kian menghantuinya, mengendap dan terus tumbuh di dalam sanubarinya.
Bayang-bayang ingin mengakhiri hidup rupa-rupanya muncul kembali di kehidupannya. Pikiran jahat yang sempat bangkit, lalu menghilang di masa lampau itu kembali merongrongnya. Tak ada gunanya melanjutkan hidup jika hanya membikin susah! Lebih baik lenyap dari dunia, setidaknya dengan begitu, beban Ibu bisa berkurang banyak. Pikiran-pikiran jahat itu terus berputar-putar di kepalanya.
Ia memang menyusahkan, tapi percayalah! Ia tak sekurang-ajar yang kalian pikirkan. Uang yang ia minta kepada ibunya tak pernah lebih dari nilai 1,5 juta. Uang itu pun tak pernah ia pergunakan untuk foya-foya; membeli es pisang ijo saja, kadang ia harus berpikir seribu kali. Ia bertahan dan mengisi perut dengan ubi rebus dan mie instan, yang ia rebus sendiri di panci penggorengan miliknya. Dua puluh empat ribu adalah uang yang ia kucurkan ketika membeli 2 kilo ubi cilembu di marketplace. Ia pun hanya meminta uang ke ibunya jika sedang menganggur saja. Ia anak yang baik, anak yang patuh, hanya saja nasibnya yang tak baik dan tak begitu beruntung. Ia belajar mati-matian di masa kuliahnya, mengambil kursus online di waktu senggangnya. Sayang, semua itu tak membawanya pada kesejahteraan dunia.
Kini tubuhnya ringkih, rambut di kepalanya sering rontok, sehingga ia memutuskan untuk membotakkan kepala. Pipinya yang dulu tembem karena rutin minum obat, pun telah susut sebab ia jarang makan sampai kenyang. Hanya baru-baru ini ia makan dengan lahap, ketika menjadi pencuci piring di restoran, karena staff meal telah disediakan oleh pihak tempat dia bekerja. Ia bisa menumpuk nasi hingga menggunung di atas piringnya, "menjamak[1]," ucapnya ketika ada yang sinis memandang.
Hidupnya yang memilukan ini, tak pernah ia ceritakan kepada orang-orang, termasuk ibunya, Mariyam. Ia merasa semua orang pasti ada susahnya, ia merasa di usianya yang sekarang, seharusnya kesusahan itu ia cari sendiri jalan mudahnya. Padahal kau boleh bercerita Majua, ketahanan orang menghadapi kesusahannya masing-masing itu berbeda-beda.
Satu-satunya temannya bercerita, kala ia merasa mulutnya bau karena lama tak mengobrol adalah Nurmala, atau yang ia panggil "Mala". Wanita yang disebut itu adalah teman karibnya selama tinggal di Jakarta. Mereka dulunya adalah rekan kerja di toko retail, lantas menjalin persahabatan dan bertemu sesekali meski keduanya tidak lagi bekerja di tempat yang sama.
Hujan mengguyur Kota Jakarta sore itu. Majua terjebak di salah satu halte di depan Stadion Gelora Bung Karno, pakaiannya sedikit lepek karena terkena tetesan air hujan, satu tangannya mendekap map coklat yang diselipkan di balik ketiaknya, amplop itu lecek ujungnya karena terkena cipratan air hujan. Itu adalah amplop terakhir yang sempat dicetaknya sebelum uang terakhirnya ia pergunakan untuk mengisi saldo kartu transjakarta.
Ia baru saja selesai wawancara di sekitaran daerah tersebut, dan perasaan getir telah menguasainya. Hatinya membisikkan kalau ia tak akan lolos, dan bisikan itu kerap kali benar. Kini terpaku dia pada jalanan basah yang masih diguyur hujan, di sebelahnya beberapa orang juga ikut terjebak, menanti seperti dia menanti, menanti hujan berhenti mengguyur. Bernapas ia kesulitan, rasa lelah seolah mengkungkung tubuhnya. Menghela napas ia untuk kesekian kalinya, tampak di ekor matanya orang-orang melirik sinis ke arahnya, barangkali terganggu, seolah yang paling susah di dunia ini adalah Majua seorang.
Ia meraih ponsel di dalam saku, lalu mengirim pesan kepada Nurmala.
"Ayo ngopi. Aku mau pulang beberapa hari lagi."
Benar! Kesusahan yang terus-menerus menimpanya pada akhirnya mengalahkan gengsi yang tinggi itu jua. Selama apapun ia bertahan, kalau rezekinya tidak disimpan di Kota Jakarta, maka tidak akan ia temukan, barangkali adanya di kota lain, ia menguatkan diri.
Bertemu keduanya di tempat mereka biasa bertemu, di tepian Kali Grogol, di seberang Mall Taman Anggrek, di atas ruas trotoar yang memanjang dan meliuk. Dua mangkuk bakso yang telah tandas menemani dan dua gelas kopi untuk masing-masing orang. Sesekali aroma sampah dan pesing tercium ketika angin berhembus.
Wanita itu mengenakan kaos hitam polos yang ia lipat ke dalam celana bahan dengan warna yang sama. Riasannya masih menempel di wajahnya, barangkali langsung meluncur setelah selesai bekerja. Wanita itu bekerja di salah satu toko retail yang ada di mall tersebut. Rambut bondolnya melambai-lambai kala angin berhembus, menampilkan telinganya yang mungil berhias anting emas.
"Kamu beneran pulang kampung Maju?" ucap Nurmala dengan tutur orang Jakarta pada umumnya.
"Iya Mala! Bertahan di sini sepertinya bukan keputusan yang bijak. Aku capek hidup susah Mala."
"Kamu sih gegayaan ingin merantau, padahal orangtuamu kaya di kampung."
"Enggak anjirr!"
Mata wanita itu mulai berkaca-kaca dan napasnya kian tidak teratur, kesedihan merayapi dirinya.
"Wahh kita udah gak bisa ketemu lagi," ucapnya dalam suara bergetar.
Majua pun merasakan hal yang sama, murung wajahnya karenanya.
"Iya lagi."
Kedua orang itu sama-sama tau kalau mereka saling jatuh cinta, Majua tau kalau Nurmala menyukainya dan Nurmala pun tau kalau Majua juga menyukainya. Kedua orang itu sama-sama tau kalau mereka tidak bisa bersama, Majua tau kalau keuangannya tidak bisa ia sisihkan untuk kegiatan berpacaran, sementara Nurmala pun tau, kalau keuangan Majua tidak bisa disisihkan untuk berpacaran. Maka keduanya hanya berkutat pada status teman karib, tak berani melangkah ke jenjang yang lebih tinggi.
"Kamu itu banyak murungnya Maju. Jadi aku minta, kalau kamu sudah sampai di sana, kamu berbahagia ya."
Majua memaksa senyum dengan kelopak mata yang tak berhenti berkedip karena menahan air mata yang hendak jatuh.
Nurmala tersenyum, lalu terisak dalam satu ketukan. Bangkit ia dari duduknya, semakin lama semakin tak kuasa ia menahan air matanya yang memberontak ingin bebas, setetes demi setetes air mata mengalir di pipi. Diusapnya pipi yang basah dengan sebilah tangan, lantas mengulurkan tangan yang lain untuk berjabat. "Aku harus kerja lagi Maju."
Sejenak Majua terpaku, nyatalah baginya kalau ini adalah pertemuan terakhir mereka, berat hati dia menghadapi situasi tersebut, terdiam dia untuk beberapa saat, membiarkan tangan itu mengambang dengan canggung di udara, hingga ketika telapak tangan itu bergetar karena lelah menahan, barulah tangan kanannya ia ulurkan dan menjabat tangan si wanita bernama Nurmala itu.
"Oke Mala, semangat!"
Semburat senyum ia hantarkan pada langkah wanita itu yang semakin menjauh. Berjalan Nurmala tanpa menoleh, kedua tangannya terlipat di depan dada. Lantas menghilang dia di balik pintu masuk mall, terselip di antara keramaian pengunjung.
***
Satu koper dan satu tas jinjing berukuran besar adalah barang-barang yang bisa Majua kumpulkan selama tiga tahun merantau. Berangkat ia menuju bandara menggunakan taksi online, dari bandara ia naik pesawat tujuan kota provinsi, lalu ditutup dengan menggunakan mini bus menuju Desa N. Semua biaya perjalanan ditanggung oleh ibu tercintanya.
Hal pertama yang terucap dari mulutnya ketika ia bertemu dan menyalami tangan ibunya adalah: "Aku minta maaf Mak, karena belum bisa mandiri dan selalu menyusahkan."
"Ya Allah Nak," balas Mariyam lirih. Ia tarik kepala Majua hingga sejajar dengan dagunya, lalu dikecupnya kening anak lelaki itu, kemudian berkata, "Tak perlu minta maaf Maju! Mamak masih sanggup kok menafkahi kau, Mamak gak keberatan kok kalau harus terus-terusan membiayaimu."
Bangkit Majua dari bungkuknya, berdiri lesu di hadapan Mariyam dengan tatapan yang sama lesunya. Ia berkata, "Tapi aku gagal Mak."
Mariyam mendekap kedua pipi Majua dengan kedua telapak tangannya, mengirimkan hangat untuk hati yang beku. "Bukan gagal Nak," ucapnya lembut. "Hanya belum berhasil. Ada masanya pasti. Memang belum sekarang, tapi kelak kau akan sukses juga." Berhenti ia sejenak demi menatap ke dalam bola mata Majua, berharap perkataan itu menembus masuk dan terhantar ke sanubari si Anak.
"Mamak juga gitu kok, gak yang ujuk-ujuk berhasil. Tak perlu berkecil hati ya," ucapnya menambahkan.
Majua meraih kedua telapak tangan Mariyam yang masih menempel di pipi, memegangnya dan membiarkannya di sana untuk beberapa saat, lalu kepalanya mengangguk lemah.
"Beruntung kamu datang sekarang, kalau tidak kau harus menunggu dua bulan lagi biar bisa bertemu denganku," Mariyam berbicara di balik punggung Majua yang tengah berjalan masuk ke dalam rumah.
Kini keadaan ruang tamu tak lagi sekosong dulu saat sebelum Majua memutuskan untuk merantau ke Jakarta, satu set meja berlapis kaca dan sofa berwarna zamrud telah menyambut di balik jendela kaca, televisi telah terpajang di atas buffet yang dipajang menghadap ke susunan meja dan sofa, ambal dengan bulu-bulu halus dan lembut bermotif indah nan menawan didominasi warna marun dihamparkan di depan bufet tersebut. Entah itu paduan warna yang serasi, atau malah sebaliknya, kontras.
Diletakkannya tas dan koper di ujung sofa, lalu menghempaskan tubuhnya di satu-satunya sofa panjang yang ditata di ruang tamu, selonjoran ia di situ dengan perasaan lega menyelimuti. Diliriknya si Ibu yang duduk di sofa yang lain, lalu berkata, "Emang Mamak mau kemana?"
"Aku mau umroh Nak."
Seketika bola mata Majua membesar. "Umroh? Tiba-tiba banget Mak, gak bilang-bilang."
"Apanya yang tiba-tiba! Orang kaunya jauh di rantau sana, gimana mau bilangnya."
Majua mengernyitkan dahi, betullah, pikirnya. "Sendirian atau ada kawannya Mak?"
"Sama Bu Sulli."
"Ayah?" Majua melirik.
"Dia tak ikut," ucap Mariyam enggan. "Tak tergerak hatinya. Ia merasa belum pantas."
Majua hanya mengangguk, dan baru tersadar dengan rumah yang sepi. "Mufida kemana Mak?"
"Di madrasah, sekarang sudah jadi guru dia."
Kembali Majua tercengang, banyak yang berubah setelah kepergiannya.
Bertanya lagi ia tentang si Sulung, dan tercengang lagi ia karenanya. Lalu bertanya ia soal keberadaan ayahnya, dan yang ini tak membuat ia tercengang, hanya menampilkan mimik malas. Perilaku ayahnya di masa dulu tetap membekas di hatinya, mau sebagaimanapun ayahnya berubah dan bertingkah baik di masa sekarang, baginya tetap tak menghilangkan dosa-dosa si Ayah dan tak akan menyembuhkan luka yang telah bersemayam ketika dia masih kannak-kanak.
Sekonyong-konyong Mufida muncul di teras rumah, mengucap salam ia dengan lantang, dan bertanya entah ke siapa, "Sudah sampai Bang Maju?"
Maka ketika ia berada di ambang pintu dan mendapati Majua sedang selonjoran di sofa, Mufida berdiri kaku untuk sesaat, pikirannya tengah menafsir orang asing yang tidak benaran asing di hadapannya. Tau dia siapa orang itu, hanya saja tak menyangka fisiknya telah banyak berubah sejak kali terakhir bertemu, wajah lelaki itu tirus dan badan lelaki itu ringkih, serta tubuhnya lebih tinggi dari yang terakhir ia ingat, atau kelihatan lebih tinggi karena tubuhnya yang ringkih?
Melempar senyum Majua ke arah si Adik.
"Ehh, Bang Maju!" buru-buru ia menghampiri dan menyalami. Kemudian duduk ia di sofa yang lain dan dengan antusias melempar beragam pertanyaan, baik seputar Jakarta ataupun kabar dan keadaan abangnya itu.
***
Kokok ayam terdengar nyaring di telinga Majua, membangunkannya dari tidurnya yang tak lagi pernah nyenyak, suara yang tak lagi pernah ia dengar semenjak menetap di Jakarta. Bangkit ia dari rebahnya dengan rasa nyeri bercokol di balik pinggul. Seperti kebiasaannya kala bangun tidur, tanpa sadar salah satu telapak tangannya telah menempel di bagian yang sakit. Menghela napas dia dengan berat, yang juga menjadi kebiasaannya ketika sudah duduk di tepian ranjang. Ranjang hanya menyisakan dia seorang, sebab si Sulung pagi-pagi sekali sudah berangkat kerja.